Sepuluh kejadian unik-lucu-menarik dalam Pilpres dan Pileg di Sydney Town Hall

15 Apr 2019 | Cetusan

Gak adil rasanya kalau aku gak menyampaikan pesan bahwa bagi sebagian besar orang, Pilpres dan Pileg di Sydney, 13 April 2019 kemarin berjalan lancar.

Maka setelah kemarin menyampaikan tiga poin penting terkait beberapa gesekan yang terjadi dan dikabarkan, melalui tulisan ini kalian bisa menemukan catatan-catatan ringan dari yang kudapat saat nyoblos di Sydney Town Hall kemarin. Semoga catatan ini melengkapi pandangan kalian.

Males nyoblos

Aku memang bukan warga negara yang baik. Tidak terdaftar dalam DPT karena memang tidak pernah mendaftar, niatan awalku adalah golput alias tidak mencoblos. Alasannya apa? Rahasia! :)

Tapi ketika waktu pencoblosan kian dekat, aku mendapat ?wangsit? untuk coba-coba nyoblos kalau masih bisa. Buka website dan mendapat info bahwa bagi mereka yang belum mendaftar (DPK) diberi waktu pemilihan antara pukul 5-6 sore waktu setempat dengan catatan kalau kertas suara masih tersisa. Kegiatan menghitung kancing pun kumulai, ?nyoblos – enggak – nyoblos – enggak – nyoblos! Nyoblos? Blos!?

Percobaan pertama: datang jam 2

Aku datang ke Town hall jam 2 siang. Waktu itu antrian kupikir SUDAH sedikit karena TPS buka sejak pagi dan para pemilih pasti sudah memilih pagi hari. Saat datang dan bertanya ke meja petugas, seorang ibu ramah bertanya,

?Mas udah daftar??
Ia mengambil pasporku dan ngecheck nama melalui web yang diakses dari gawainya.

?Nama Mas gak ditemukan. Nanti datang lagi jam 5 ya??

Mungkin kalian tanya kenapa aku datang jam 2 meski sudah tahu bahwa jadwal pemilihan DPK adalah jam 5? Jawabku, iseng-iseng berhadiah. Aku berpikir bahwa mungkin dengan sisi charming yang kumiliki *uhuk-uhuk* aku bisa membaik-baiki petugas lalu dikasih kesempatan. Eh ternyata tidak?:)

Lautan manusia

Aku kembali jam 4:30 sore. Pikirku kalau antri setengah jam, aku bisa nyoblos jam lima lalu pulang. Eh ternyata ketika sampai, kerumunan manusia membludak? di depan pintu gerbang Town Hall.

Sempat terpikir untuk pulang saja karena malas membayangkan ada di tengah-tengahnya, tapi coba-coba dulu ah.

Video di bawah adalah pemandangan sebelum masuk pintu pertama.

Labirin

Setelah melalui pintu gerbang pertama, kami diarahkan ke pintu kedua. Kupikir setelah pintu kedua, kami langsung berada di TPS dan nyoblos. Tapi tidak! Dari pintu kedua, kami diarahkan ke kanan menuju sebuah ruang tak terlalu besar untuk sampai di pintu ketiga. Di balik pintu itulah TPS-TPS dibangun di dalam hall yang luas nan lapang dan orang-orang memilih di sana.

Video menggambarkan perjalanan dari pintu pertama ke pintu kedua.

Ketika masuk dalam ruangan antara pintu kedua ke pintu ketiga itu banyak orang yang akhirnya mengundurkan diri dan pulang. Mungkin saking lamanya, mungkin karena mulai pengap berdesak-desakan.

Video dari pintu kedua ke pintu ketiga:

Video suasana TPS:

Disuruh Papa nyoblos

Ketika sedang mengantri, ada banyak percakapan yang kucuri dengar. Salah satu yang menarik adalah ketika ada seorang gadis yang usianya kutaksir sekitar 20an berbincang dengan kawan cowoknya dari range usia yang kurang lebih sama.

?Tadinya gue udah males banget nyoblos!? kata si cewek.

?Kenapa??
?Banyak assignment di kampus! Tapi Papa bilang pokoknya harus nyoblos!?

?Trus??
?Gue bilang kalau gue lom daptar. Trus bokap bilang ?Coba aja, pokoknya datang! Pemilu kali ini penting banget!??

Pulang aja?

Dari sekian banyak yang pulang, ada satu rekaman percakapan yang kutangkap yang kuanggap cukup menarik. Ketika masih di luar dan mengantri, seorang cowok di depanku, usia 20 tahunan datang nyoblos bersama kawan ceweknya.

Sembari menunggu, si cowok pergi sebentar untuk membeli kudapan dan secangkir kopi. Ia berusaha keras melawan kerumunan manusia untuk keluar dan membelikan makanan serta kopi. Ketika balik, alih-alih menikmati kudapan serta kopi, si cewek malah melambai pergi bersama kawan-kawan lainnya yang juga ?menyerah?.

?Ah pulang ah gue.. Nggak sanggup ngantri begini!? ujarnya berlalu.

?Lha kopinya?? tanya si cowok plonga-plongo.

?Buat kamu aja?. biar melek xixixixi??

Mantan WNI yang budiman

Ada seorang mantan WNI yang kukenal baik. ?Ngapain, Cik?? tanyaku mempertanyakan keberadaannya dalam kerumunan padahal ia sudah tak punya hak pilih.

?Ngapain, Cik?? tanyaku mempertanyakan keberadaannya dalam kerumunan padahal ia sudah tak punya hak pilih.

?Nemenin dua orang nih?Eh, kenalin?? Lalu aku salaman dengan mereka begitu aja. ?Temen-temenku ini tadinya udah mau golput tapi lalu kubujuk supaya nyoblos karena penting banget!?

Aku manggut-manggut. Meski sudah jadi WNA, aku tahu betul kawanku itu memang cinta Indonesia luar-dalam.

Permen

Sesampainya di mulut TPS sekitar lima menit menjelang jam 6, aku disambut bapak-bapak panitia dengan murah senyum. ?Wah pasti capek banget ya Mas, antri dari jam berapa?? tanyanya ramah.

?Ah baru sejam Pak.?
?Kalau mau permen silakan, Mas?? Ia menyodorkan permen mint dan kuambil dua.

?Sayangnya nggak ada minum ya?? celetuk orang di belakangku.

?Wah, kalau minum gak ada, Mas! Saya juga lagi nunggu minuman gak datang-datang udah dari tadi hahahahaa?? jawab si petugas itu tak melepas keramahannya.

Jempol atau kelingking?

Jari yang dicelup bagiku adalah indikasi pilihan yang kupilih. Lima tahun lalu aku mencelupkan dua jari karena aku nyoblos paslon nomer dua. Kemarin, selesai mencoblos, petugas memintaku memasukkan kelingking ke dalam tinta. Secepat kilat aku memasukkan jempol ke dalamnya.


?Wah harusnya kelingking, Mas?? ujarnya.
?Ah, sama saja kan??
?Ya iya sih.. ya udah nggak papa hehehe??

?Lagipula yang jempol pilihan saya, Pak hehehe?? Aku berlalu begitu saja meninggalkan Sydney Town Hall.

OMG kayak ngantri sembako

Seorang cewek yang ada di sebelahku menulis pesan begini di WA nya?.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Ini tulisannya Meilanie Buitenzorgy ttg Pemilu di Sydney:

    PEMILU DI SYDNEY RICUH: Tanggapan saya sebagai WNI di Sydney

    Karena banyaknya pertanyaan dari teman-teman lewat medsos maupun japri soal ricuhnya pelaksanaan Pemilu di Sydney, berikut adalah tanggapan dan beberapa informasi yang saya ketahui sebagai WNI yang ikut mencoblos di TPS Sydney.

    Sebelumnya saya ucapkan terimakasih dan apresiasi atas kerja keras PPLN Sydney yang telah bekerja sejak setahun lalu hingga terlaksananya Pemilu RI di wilayah Australia pada tanggal 13 April yang lalu.

    TANGGAPAN DAN INFO SEPUTAR VIDEO KERICUHAN DI TPS SYDNEY:

    1. Dalam video kericuhan dan perdebatan antara para WNI Sydney dan seorang pria di sekitar pintu KJRI Sydney yang sudah dikunci, saya mengklarifikasi bahwa pria tersebut adalah benar Bapak Samsu Bahri alias Barry. Ybs memang aktivis PKS Sydney dan aktivis gerakan #2019GantiPresiden. Perlu dicatat bahwa ybs berstatus SAKSI dari pihak paslon #02, jadi ybs BUKAN ketua KPPS Sydney. Yang sangat disayangkan, kenapa ybs yang keluar menemui dan mendebat para WNI yang tertahan di pintu masuk KJRI Sydney. Seharusnya hal itu dilakukan oleh pihak PPLN Sydney, bukan pihak saksi dari salah satu paslon. Akibat dari tindakan yang tidak patut tsb adalah berkembangnya isu-isu negatif terkait netralitas PPLN Sydney.

    2. Keterangan dari pihak KPU Pusat dan PPLN Sydney bahwa WNI Sydney yang tidak bisa mencoblos di TPS Town Hall adalah DPK dan bukan DPT, TIDAK SEPENUHNYA BENAR. Dari keterangan yang saya himpun dari berbagai group WNI Sydney, banyak juga WNI Sydney yang berstatus DPT dan sudah mengantri lebih dari 3 jam tetapi tidak diizinkan mencoblos dengan alasan waktu habis.

    3. Ada indikasi bahwa penutupan beberapa TPS tepat jam 6 sore di tengah antrian massa yang membludak, adalah hasil tekanan saksi dari salah satu Paslon terhadap PPLN Sydney. Hal ini dibuktikan dari beberapa video yang beredar yang memperlihatkan perdebatan antara panitia dan saksi pada saat voting memutuskan apakah pencoblosan lanjut atau tutup.

    KRITIK UNTUK PPLN SYDNEY:

    1. PPLN Sydney seharusnya menyadari prinsip utama pelayanan Pemilu bahwa PPLN WAJIB melayani WNI yang ingin menggunakan hak pilihnya tanpa terkendala teknis dan administrasi, sepanjang surat suara masih tersedia.

    2. Pada kasus terkendala terbatasnya waktu sewa gedung TPS Town Hall, seharusnya PPLN secara profesional antisipasi dengan membludaknya calon voter dengan cara memperpanjang sewa gedung.

    3. Anehnya, TPS di gedung KJRI Sydney juga ditutup jam 6 sore. Padahal tentu saja KJRI Sydney TIDAK terkendala masalah sewa gedung. Ratusan calon voter terus berjuang bertahan di depan pintu masuk KJRI dan ramai-ramai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    3. PPLN Sydney melakukan kesalahan dalam menginterpretasikan batas waktu pemilihan sampai jam 6 sore. Harusnya yang ditutup adalan ANTREAN, bukan pintu masuk ke TPS yang ditutup. Artinya, masyarakat yang SUDAH masuk antrean sampai dengan pukul 6 HARUS dilayani. Saya sendiri mencoblos di TPS Yagoona, mengantri sekitar 1.5 jam (2.40-4.15 PM). Di TPS Yagoona, WNI yang akan mencoblos MASIH DILAYANI sampai pukul 8 malam.

    4. Perlu dicatat oleh PPLN Sydney bahwa tindakan dengan sengaja menghalangi masyarakat untuk memilih dalam Pemilu adalah termasuk TINDAK PIDANA PEMILU. Hal ini diatur dalam UU Pemilu pasal 510:
    “Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 24 juta.”

    5. PPLN Sydney dapat berkaca pada profesionalisme PPLN di New York. Di KJRI New York, WNI dilayani sampai TENGAH MALAM. Bahkan Bapak Konjen New York sendiri sampai jam 23.30 ikut berbaur mengobrol dan menyemangati masyarakat yang mengantri. PPLN New York bahkan secara simpatik terus membagi-bagikan snack, buah dan air pada antrian WNI New York yang sampai tidak sempat makan siang dan makan malam demi masa depan Bangsa dan Negara.

    https://internasional.kompas.com/read/2019/04/14/17193401/luar-biasa-orang-indonesia-semoga-dapat-presiden-yang-handal?page=1

    Dengan berkaca pada pengalaman rekan-rekan WNI di LN yang terkendala secara tidak masuk akal hanya untuk menggunakan hak pilihnya, saya menyarankan rekan-rekan di tanah air untuk MENCOBLOS SEPAGI MUNGKIN. Antrian pemilu di LN sungguh tidak manusiawi: di Eropa 3-5 jam, di Hong Kong 5-6 jam, di Tokyo bahkan ada yang antri sampai 9 jam!

    Kepada Panitia Pemilu di Tanah Air agar mengantisipasi antusiasme masyarakat dalam Pemilu 2019 ini, please jangan melakukan kesalahan yang sama spt yang dilakukan PPLN di berbagai negara.

    Status ini open for public, saya persilakan rekan-rekan PPLN Sydney, WNI Sydney dan rekan-rekan lain untuk ikut urun rembug/berkomentar.

    Balas
  2. Inilah wajah wajah ketua dan para petugas KPPS Sydney Australia yang menghalang?i para WNI memilih untuk menggunakan hak suaranya.

    Wajahnya serem-serem, kayak teroris.
    _____________________________________

    TKN JOKOWI-MA’RUF AKAN MELAPORKAN DUGAAN KECURANGAN PEMILU YANG TERJADI DI AUSTRALIA KE BAWASLU

    Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf akan melaporkan dugaan kecurangan di pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2019 di Sydney, Australia, kepada Bawaslu.

    Wakil Direktur Hukum dan Advokasi TKN, Juri Ardiantoro menduga telah terjadi kecurangan pada pemungutan suara di Australia, yang jumlahnya mencapai puluhan kasus. Namun, ia tak memerinci apa saja jenis pelanggaran tersebut.

    “Saya dapatkan puluhan sms, wa [WhatsApp], dan telepon tentang adanya indikasi kecurangan yang terjadi di Australia,” kata dia di Media Center Cemara, Jakarta Pusat, Minggu (14/4/2019).

    Dia menambahkan TKN akan segera melaporkan masalah yang terjadi saat pemungutan suara Pemilu 2019 digelar di Sydney pada Sabtu (13/4/2019) kemarin.
    Ardiantoro mengaku menerima laporan bahwa ketika pemungutan suara berjalan di Sydney, ada sekitar seratus pemilih yang sudah mengantre tidak diperkenankan menggunakan hak suaranya lantaran waktu sudah habis.

    Dia mencatat Hanya 40 orang yang diperbolehkan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Australia menggunakan hak pilih, 60 orang lainnya diminta pulang.

    “Besok Senin kami berencana mengadukan persoalan ini ke Bawaslu RI karena kami anggap ini persoalan krusial. Mengenai hak WNI yang ingin melakukan pencoblosan,” ujar dia.

    Ardiantoro mengklaim menerima aduan soal indikasi keterlibatan panitia pemilihan di Australia di kelompok pendukung Paslon 02, Prabowo-Sandiaga.

    “Saya dapat laporan juga, dugaan ketua KPPS di Australia terlibat dalam salah satu partai pendukung 02. Serta beberapa penyelenggara pemilu merupakan bagian dari simpatisan-simpatisan paslon 02,” ujar Ardiantoro.
    Semua laporan tersebut berasal dari Posko Pengaduan Nasional yang diinisiasi oleh TKN untuk menangani persoalan-persoalan masyarakat terkait pemilu 2019. Posko tersebut sudah aktif sejak 9 April kemarin dan terus dibuka sampai pemungutan suara di dalam negeri berlangsung.

    Melalui posko tersebut, menurut Ardiantoro, masyarakat bisa mengadukan keluhan-keluhan terkait pemilu melalui layanan pesan singkat, email, atau mendatangi langsung Rumah Perjuangan di Jalan Proklamasi Nomor 46, Jakarta Pusat.

    “Jadi sekali lagi kepada siapapun yang mengetahui secara langsung adanya kecuraangan, kami buka posko pengaduan secara intens untuk dapat kami salurkan ke Bawaslu,” ujar dia.

    [Agung Hartono-Projo]

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.