Semoga Pak Setya lekas sembuh

19 Sep 2017 | Cetusan

Betapa sedih perasaan Bu Deisti Astriani Tagor. Suaminya, Pak Setya Novanto yang ketua DPR-RI itu sakit.

Seperti dilansir Viva.Co.Id, Pak Setya menderita vertigo. “…begitu diperiksa semuanya ya baru kelihatan bahwa penyakit yang selama ini enggak dirasa nyatanya ada semua,” begitu kata Bu Deisti.

Wah! Bisa kebayang sih!
Apalagi kalau sudah ‘berusia’, saat tenang dan tak merasakan apa-apa itu bukan berarti tidak sakit apa-apa lho. Jangankan vertigo, ada yang tampak segar-bugar tapi ketika giliran kontrol rutin periksa darah, dokter seraya melihat hasil test langsung menyuruh kita diet ketat, nggak boleh makan ini dan itu karena kolesterol dan gula darah meninggi diikuti dengan tensi yang melonjak-lonjak!

Tapi entah kenapa, kata-kata Bu Deisti di atas justru mengarahkan pikiranku pada KPK dan Indonesia. Tiba-tiba aku merasa bersyukur, sebagai warga negara, karena memiliki komite anti-rasuah itu.

Lho kok bisa?
Iya! KPK dan negara itu bak dokter dengan pasiennya sementara korupsi itu adalah penyakit yang enggak dirasa ada tapi nyatanya ada! Sumber daya alam dan manusia tumpah-ruah luar biasa besarnya, perolehan pajak harusnya juga ikutan tinggi tapi kok negara dan rakyat kayaknya ya begitu-begitu saja? Yang kaya sih ada, tapi lebih banyak lagi yang miskin dan kekurangan. Ada apa?

Eh begitu diperiksa KPK, seperti yang dibilang tadi, “penyakit yang selama ini enggak dirasa nyatanya ada semua!” Korupsi ternyata bermekaran dimana-mana bagai genjer yang tumbuh di rawa-rawa.

Koran-koran yang dulunya malu-malu sekarang jadi buka-bukaan memajang foto tersangka korupsi, mereka yang dibekuk di antaranya melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Kerja mereka laksana detektif-detektif gagah di film NCIS dan Criminal Mind. Hari ini menangkap walikota A, besoknya bupati B kena grebek. Bulan lalu ketua partai sapi tertangkap, eh bulan berikutnya petinggi lembaga negara kena ringkus! lincah nian!

“Semua mendadak korupsi jangan-jangan justru karena KPK ya, Don?” tanya kawanku berbisik. “Dulu waktu jaman ORBA toh korupsi nggak ada karena nggak ada KPK kan?!” sambungnya. Aku tertawa ngikik eh ngakak!

Makanya aku tak habis pikir kalau ada yang mengusulkan untuk menyunat dan mengamputasi hak-hak KPK, ingin membekukan apalagi membubarkannya sama sekali. Mau jadi seperti apa negara? Jangan-jangan akan jadi negara tua yang semua tampak baik-baik saja tapi sekalinya main pingpong, kena vertigo dan setelah dicheck ketahuan deh semua penyakitnya!

Jadi melalui tulisan ini, mari kita berdoa untuk KPK dan Indonesia! Semoga para penyelidik dan semua karyawan KPK diberkahi kekuatan, kesehatan dan kelimpahan berkat sehingga Indonesia kian bersih dari korupsi dan penyakit-penyakit lain yang tak dirasa tapi barangkali ada!

Mari kita juga berdoa untuk Pak Setya dan keluarga. Semoga mereka diberi kekuatan dan Pak Setya diberi kesembuhan sehingga bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang tentu sudah menunggu termasuk memenuhi panggilan pemeriksaan KPK.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.