Seminoritas apakah kita sebenarnya?

19 Des 2018 | Kabar Baik

Sejak urusan nisan salib yang digergaji kemarin ramai dibicarakan orang, aku tergelitik menyoroti pendapat beberapa umat terkait mayoritas-minoritas.?

Banyak yang menanggapi kasus itu dari kacamata tersebut, ?Ah, ya harap dimaklumi karena kita ini minoritas!?

Bicara tentang hal itu, aku jadi teringat percakapan yang terjadi antara Yesus dengan Pontius Pilatus beberapa jam sebelum Ia dijatuhi hukuman mati. (lih. Yohanes 18:33b-37).?

Waktu itu Pilatus ingin mengkonfirmasi apakah rumor yang berkembang bahwa Yesus Raja Yahudi itu hoax atau fakta.

?Engkaukah Raja Yahudi?? tanya Pilatus.

Yesus bukannya menjawab tapi malah balik bertanya, ?Dari hatimu sendirikah engkau katakan hal itu? Atau adakah orang lain yang mengatakan kepadamu tentang Aku??

Lalu akhirnya Yesus menyatakan bahwa Dia memang raja tapi kerajaanNya bukan berasal dari dunia ini. ?Jika KerajaanKu dari dunia ini pasti hamba-hambaKu sudah melawan supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini!?

Jadi karena kita ini adalah umat-umatNya maka kalau kita jadi kaum minoritas ya masuk akal karena Kerajaan-Nya bukan berasal dari sini!

Tapi kembali ke pertanyaan awal, haruskah kita dimaklumi untuk dikasihani karena kita ini minoritas? Tidak! Justru  meski minoritas namun sebagai ?Rakyat dari Raja Semesta Dunia? seharusnya kita menunjukkan harkat dan martabat kita sebagaimana Ia dulu menunjukannya.

Artinya?
Ketika kita disakiti, karena Sang Raja dulu tak membalas dengan menyakiti, demikian pula seharusnya kita. Balaslah dengan kasih termasuk jika memperjuangkan keadilan pada penguasa tentang perlakuan mereka adalah sarana untuk mengasihi.

Yang menurutku lebih penting ketimbang memperpanjang semua ini adalah introspeksi dalam diri, adakah kita ini benar-benar minoritas hanya karena identitas agama dan simbol-simbol keagamaan yang kita kenakan?

Apakah kita ini layak dianggap minoritas kalau dalam pekerjaan kita berlaku superior dan semena-mena terhadap bawahan dan pegawai kita?

Layakkah kita dianggap minoritas kalau lantas kita menggabungkan diri dengan orang-orang tak peduli apapun agamanya untuk ?berebut kue anggaran? dan korupsi diam-diam?

Layakkah kita dianggap minoritas ketika kita ikut-ikutan memasang sekat perkawanan hanya kepada yang seagama, se-suku dan se-ras? Tidak bisakah kita mencintai sesama seperti halnya Sang Raja?

Jadi, sebelum minta dikasihi karena kita ini minoritas, berkaca dan refleksilah dalam diri sendiri terlebih dulu, sudah benar-benar minoritaskah kita ini?

Sydney, 19 Desember 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.