Selepas Hujan Sore Ini…

Semakin tua, aku merasa semakin mudah terpantik akan kenangan-kenangan indah yang pernah hadir di masa silam.

Semalam aku kurang tidur. 
Baru merem sekitar jam 2 malam karena nonton Netflix berseri-seri banyaknya. Dua jam kemudian lelapku terpecahkan oleh gonggongan keras Trudy dan Tilly. Sesudah mencoba tidur lagi hingga jam 6:30, selebihnya aku terjaga. Biasanya aku bisa tidur lagi setengah jam kemudian. Tapi gara-gara iseng mbukak HP lalu terkejut melihat hasil pemilihan Ketua Presidium Perkumpulan Alumni Kolese De Britto yang kuketuai dan votingnya baru berakhir semalam, aku jadi benar-benar gak bisa tidur lagi! (Hehehe, sabar! Hasilnya akan kuumumkan hari Senin depan!)

Alhasil, lepas tengah hari, energi menurun jauh. Aku memutuskan tidur siang.

Rencananya cuma satu jam karena aku harus memotong rumput di halaman yang sudah memanjang, tapi kebablasan hingga jam 16:30! Itupun dibangunkan Joyce…

Ketika bangun, langit menggelap tak seperti biasanya dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya.

Aku menyeduh teh hijau kesukaanku lalu duduk di ruang kerja yang menghadap ke jalan sambil membuka jendela kaca menikmati derasnya hujan yang jatuh di teralis besi rumah lalu titik-titiknya jatuh dengan pelan, sabar tapi pasti.

Tak sampai satu jam, hujan mereda. Langit jadi begitu bersih dan sore tadi diakhiri dengan pemandangan langit yang begitu teatrikal indahnya! Pada sisi barat, ia menjingga, matahari turun begitu temaram sementara meski tak lama  pelangi muncul, semburatnya indah sekali!

Aku jadi ingat masa kecilku dulu. 
Di awal 1980an, tinggal di rumah Eyang di Kampung Tegal Blateran Klaten.

Aku belum genap tujuh tahun, Chitra, adikku, belum juga lahir. Papa dinas di Kebumen sementara aku dan Mama tinggal bersama Eyang Buyut, Eyang serta kedua adik Mama yang harusnya kupanggil Om dan Tante tapi karena jarak usia yang tak terlalu jauh, aku memanggilnya Mas Kokok dan Mbak Yohana.

Aku terbangun dari tidur siang karena suara hujan yang jatuh begitu derasnya disertai geledek yang membentur-benturkan kepalanya di langit. Mas Kokok dan Mbak Yo sibuk berkoordinasi dengan Eyang memasang ember di tempat-tempat yang biasanya kena tumpahan air karena genting bocor.

Setelah hujan mereda, Mama memandikanku di kamar mandi yang letaknya di luar rumah. Suara arus Kali Jalidin yang berjarak 100 meter biasanya santai jadi terdengar derasnya pertanda hujan tadi turun cukup merata sejak di kaki Gunung Merapi sana!

Selepas mandi, Mama membaluri dada dan perutku dengan minyak kayu putih lalu menaburi bedak yang ruapan aromanya masih kuingat sampai sekarang.

Sambil menunggu Mama dan Eyang menyiapkan makan, aku duduk bersama Mas Kokok dan Mbak Yo mengitari televisi hitam putih empat belas inchi sementara Eyang Buyut menikmati daun sirih yang dilumat-lumat di bibir mungilnya. Matanya menatap ke langit-langit entah sedang membayangkan apa, sementara beberapa anak kucing peliharaan duduk mengitarinya.

Tak lama kemudian suara Si Mbok penjaja gorengan terdengar lantang. Ia menggelar jajanannya di ruang depan, Mama mengambil dompet di kamar lalu memberi komando kepadaku untuk mengambil gorengan secukupnya. Aku paling suka wakpung, iwak glepung, irisan daging sapi (kami menyebutnya iwak sapi) yang dibenamkan dalam tepung terigu lalu digoreng. Aku ambil beberapa juga sepotong tahu dan pisang goreng.

Jajanan itu kemudian kubawa ke ruang makan, kusandingkan dengan nasi dan sayur sop ayam bikinan Mama yang kunikmati hingga tandas sore itu.

Menjelang maghrib dan selepas makan, kami duduk-duduk di serambi samping rumah. Mengayun-ayunkan kaki, kadang tak banyak bicara hanya menikmati suasana sore yang begitu temaram saja seperti sore tadi. Langit kehilangan mendungnya, sang geledek juga sudah pergi, kawanan burung yang tergesa-gesa pulang, genangan air di pekarangan serta suara katak mulai menaikkan volumenya bersahut-sahutan “Kung kong… kung kong!”

Tak lama kemudian adzan menggema di langit disiarkan dari Masjid Besar Klaten. 

Ini menjadi penanda acara duduk-duduk di serambi akan segera berakhir. “Ayo mlebu, Le… wes surup!” Surup alias petang setelah matahari lindap bagi kami orang Jawa waktu itu adalah saat terbaik untuk kembali masuk ke dalam rumah.

Semakin malam semakin dingin. Mas Kokok dan Mbak Yo masuk ke kamar belajar ditemani Eyang. Dari luar sesekali kudengar suara Eyang meninggi mungkin karena mereka berdua sedang malas mengunyah ilmu dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara aku dan Mama juga Eyang Buyut menikmati teh sambil menonton acara televisi dengan volume yang minimal supaya tak mengganggu yang sedanb belajar. Menjelang jam sembilan, setelah menyalakan obat nyamuk bakar, Mama mengajakku masuk ke dalam kamar untuk tidur.

Kami rebahan memandang langit-langit atap sirap bambu. Mama bercerita atau kadang aku yang bertanya-tanya tentang banyak hal.

Tentang besok mau makan apa, tentang Ista yang bonekanya baru, Agus yang jumlah kelerengnya melebihiku. Tapi yang paling sering, “Mah! Papa lagi ngapain ya jam segini?”

Sambil mengusap-usap rambut dan kepalaku, Mama menjawab “Paling bar rampung maem Le lho trus yo arep bobo soale kan sesuk nyambut gawe…”

Sementara aku mulai lelap, otakku mulai mengawang-awang, menghitung berapa hari lagi hingga Papa pulang menjenguk kami, membawa oleh-oleh entah makanan atau mainan…

Sebarluaskan!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses