Sebagai mantan “orang daerah” aku cukup takjub ketika baru tiga hari di Jakarta saja sudah banyak selebritis yang kutemui secara langsung baik di mall-mall maupun di restaurant mahal.
Eh sebentar, kenapa aku di Jakarta?
Katanya ke Sydney?
Yup! Untuk sebuah keperluan yang tidak bisa kuceritakan di sini, dalam waktu sekitar sebulan ini aku akan tinggal di Jakarta hingga akhir bulan ini aku berangkat ke Sydney Australia.
Jadi begitulah, di tengah sumpeknya merasakan hidup di Jakarta lengkap dengan kemacetan lalu lintas yang luar biasa, harga-harga kebutuhan yang tinggi, hedonisme dan konsumerisme yang meraja serta suhu udara yang puanasnya tiada tara ini aku cukup terhibur dengan pertemuan tak disengaja antara aku dengan para selebritis itu.
Nyatanya mereka ya biasa-biasa saja. Aku masih bisa melihat ada butir keringat di dahi mereka ketika kepanasan serta barangkali jika aku mendekat ke mulutnya aku tetap akan bisa membaui bau mulut naga cap jigong yang kita miliki juga. Meski mungkin ketika jarak tertentu tercapai dan bau belum terdeteksi oleh hidungku barangkali mereka yang sudah menjauh duluan karena bau nagaku telah sampai ke hidung mereka.
Tapi walau demikian, sekali lagi sebagai orang udik, kehadiran manusia selebritis itu tetaplah mengusikku. Meski sudah kuusahakan untuk tetap biasa saja ketika berpapasan atau bertetanggaan meja di restaurant dengan mereka, aku selalu berusaha mencuri pandang kepada setiap kebiasaan mereka, cara makan, obrolan hingga bahasa tubuh mereka.
Aku lalu hanyut dalam lamunanku sendiri, seperti biasa.
Membayangkan seandainya aku menjadi mereka saat ini di tengah kerumunan orang yang sudah barang tentu mengenalku adalah sesuatu yang mungkin menarik. Setiap gerak-gerikku serta apa yang kupakai setidaknya akan mampu menyihir orang yang ada di sekelilingku, seperti halnya diriku saat ini.
Tapi kemudian, masih dalam lamunan, aku berpikir seandainya aku jadi mereka, jadi selebritis itu, maka siapa yang akan jadi selebritis di kepala mereka?
Apakah mereka juga akan mengalami hal-hal yang menakjubkan seperti aku atau haruskah mereka pergi ke Amerika atau Australia misalnya untuk bertemu dengan selebritis bagi mereka?
Atau jangan-jangan mereka, yang para selebritis itu justru mencari sosok selebriti dari orang-orang kebanyakan seperti aku yang sengaja duduk mendekat ke meja mereka?
Ah, aku terlalu banyak melantur sementara hari menjelang pagi, sudah waktunya untuk tidur dan menantikan pagi menjelang dan bersiap bertemu selebriti lagi!
Yang pasti, aku adalah selebriti bagi istriku, orang-orang terdekatku dan hmmm bagi petugas bandara yang tempo hari mengira aku adalah anggota band terkenal hanya gara-gara sunglass yang kukenakan serta dua hardcase gitar yang kubawa… O la la!
Tinggalkan Balasan