Sekolot apa kita sebaiknya dalam menolak kemajuan jaman?

9 Jul 2018 | Kabar Baik

Ketika kaum Farisi mempertanyakan kenapa para murid Yesus tidak berpuasa, apa yang menjadi jawabNya adalah sebuah tamparan dahsyat.

Menggunakan analogi kantung anggur, Yesus mengecam pola pikir lama nan kolot dari Farisi. Untuk menerima berkat serta hikmat kebijaksanaanNya yang baru dibutuhkan pola pikir yang benar-benar baru juga, ??karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur,? demikian kataNya sesuai Matius 9:17.

Apa yang tertulis dalam Kabar Baik hari ini menjadi begitu relevan dengan keadaan akhir-akhir ini.

Kemajuan jaman yang luar biasa pesatnya seolah membagi kita menjadi dalam bagian mereka yang menolak kemajuan dan mereka yang menerima kemajuan.

Beberapa hari lalu aku terkejut dengan sebuah tweet seorang kawan di linimasa. Ia mengeluhkan betapa sulitnya memberikan edukasi publik tentang bahaya kanker serviks atau leher rahim.

Dalam salah satu kampanye online, edukasi publik terkait diberikan dengan mengemukakan gambar alat vital kewanitaan dan belum apa-apa, penolakan dari sebagian kalangan masyarakat pun mengemuka. Apa pasal penolakan itu? Mudah ditebak! Kampanye online itu dianggap tak senonoh karena bermuatan pornografi!

Mereka yang menolak kampanye online dengan alasan pornografi adalah mereka yang kerap dianggap berpikiran sempit dan lama. Kenapa sempit karena hanya menempatkan satu obyek, alat vital kewanitaan, dalam satu ranah saja: pornografi padahal ada ranah lain yaitu kesehatan. Kenapa lama, karena mereka barangkali tidak sadar bahwa kanker serviks adalah penyakit yang berbahaya.

Menurut situs web Cegah Kanker Serviks, berdasarkan data International Agency Research on Cancer dari World Health Organization (WHO) tahun 2012, jenis kanker ini adalah salah satu kanker penyebab kematian terbanyak perempuan di seluruh dunia. 20.928 perempuan Indonesia setiap tahun terdiagnosa kanker serviks dan 9.498 diantaranya meninggal dunia!

Namun mereka yang menerima kemajuan pun tak semuanya baik. Mereka yang ikut arus dan menerima apapun kemajuan jaman akan dengan mudah menganggap yang tidak menerima sebagai kolot dan udik. Mereka seolah tak punya alasan lain, pokoknya yang tidak menerima perkembangan jaman pasti udik, pasti kolot.

Lalu bagaimana baiknya?
Bagiku sebaiknya kita tak perlu memusingkan pada cap ketinggalan jaman atau tidak. Sebagai orang dengan pola pikir baru, yang jadi patokan kebaruan kita bukan jaman dan hal-hal yang ada di sekitar kita. Yang kita jadikan patokan adalah bagaimana kita memperbaharui paradigma bahwa apapun itu, kapanpun itu, hal-hal yang ada di sekitar adalah alat bantu untuk lebih memuliakan nama Tuhan!

Cara pandang seperti ini membuat kita lebih bijak dalam mengelola hal-hal baru yang hadir.

Seperti saat kampanye online tentang kanker serviks. Berbekal patokan di atas, kita tentu akan lebih tidak mudah menghakimi bahwa kontennya pasti konten pornografi. Karena menyelamatkan nyawa kaum wanita dengan membangun kepedulian terhadap resiko penyakit ini adalah untuk kemuliaanNya.

Tapi di sisi lain, dengan kepekaan terhadapNya, kita diajak berpikir justru karena kita ingin menyelamatkan banyak kaum tanpa terkecuali, adakah cara yang lebih bisa diterima misalnya dengan tidak mengunggah hal yang mudah memancing orang untuk dianggap pornografi?

Tapi kenapa kita harus peduli pada mereka yang kolot, Don?

Ya harus! Terlepas dari kekolotannya, mereka adalah sesama manusia juga. Mereka bisa jadi wanita. yang pasti mereka pasti punya ibu, barangkali punya istri, anak dan adik serta kakak wanita yang termasuk dalam hitungan yang rentan terkena kanker serviks, kan?

Ah, repot jadinya!
Enggak repot, lebih tepatnya karena hidup ini berdinamika! Kecuali kamu sudah letih, mari bergabung bersama dan menjadi kantung-kantung anggur yang baru.

Sydney, 9 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.