Sekeping Jokowi dalam Joni

20 Agu 2018 | Cetusan

Joni digendong Menpora

Namanya Joni.
Dari sekian banyak pemberitaan tentang riuh-rendah ulang tahun negeri, hal yang paling menggetarkan bagiku adalah ?lahirnya? sosok Joni.

Bocah bernama lengkap Yohanes Ande Kala ini murid kelas 7 SMP 1 Silawan, Atambua, Nusa Tenggara Barat.

Tanpanya, barangkali upacara bendera Jumat pagi silam di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, Kabupaten Belu, NTT, akan tertunda untuk sekian lama.

Kenapa?
Tali pengerek bendera putus sebelum dipakai.

Secepat kilat Joni mengambil inisiatif. Tiang bendera dinaikinya. Tak mudah tentu saja. Sesekali tiang melengkung karena bobot Joni tertimpa angin yang membuatnya berhenti sekian detik lamanya. Ketika mereda, Joni kembali naik. Sesampainya di puncak, dengan cekatan tali ia kaitkan ke kerekan dan Joni turun ke bawah dengan seksama. Upacara bendera pun bisa dijalankan sesuai rencana.

Dari video yang kusaksikan dan kemudian mem-viral, aku bisa merasakan jibaku Joni. Suara ?emak-emak? yang meminta Joni turun karena bahaya yang terbayang dalam benak terdengar. Ada pula yang memanjatkan doa supaya Joni selamat. Ketika Joni menyelesaikan tugasnya, emak-emak pun bersorak, membahana saking bahagianya.

Video kumatikan, mata kupejamkan. Apa yang kucerna dari sana?

Aku membayangkan jadi Joni.
Kalau tiupan angin merobohkan tiang, bukankah Joni celaka dan pulang tinggal nama?

Ah tapi aksinya terlalu beresiko, kenapa tak memanggil tukang bikin betul tiang saja?

Kenapa tak dari hari-hari sebelumnya diadakan inspeksi sebaik apa tali, kerekan dan tiang menjelang upacara?

Dalam diri Joni aku melihat sosok Jokowi. Keduanya tak mau menyalahkan kenapa satu keadaan bisa terjadi, pokoknya dihadapi dulu, dibenahi dulu.

Keadaan negeri saat Jokowi ?hadir? tidaklah semudah sekarang. Cetusan-cetusan reformasi banyak yang terhenti di level diskusi dan segepok aturan yang tak kunjung dituangkan dalam pelaksanaan.

Tiba-tiba ia muncul lalu ?naik ke tiang?. Orang-orang terperanjat dibuatnya dan banyak yang menganggapnya tak menghitung resiko.

Padahal maunya hanya sederhana: membenahi keadaan karena orang-orang lain hanya sibuk mendiskusikan tentang bagaimana memperbaiki dan segelintir lain mau melakukan dengan pamrih; asal kepentingan pribadi dan golongannya terpenuhi.

Jokowi mungkin tak sempurna sebagaimana Joni adanya. Tapi ketiadaan orang lain yang mau melakukan hal yang sama membuatnya jadi pilihan terbaik?

Untuk itulah Jokowi dan Joni mengemuka. Bukan karena kehebatannya tapi karena sekian lama kita tak pernah melihat ada sosok yang berani berjibaku untuk kepentingan bersama seperti Joni, seperti Jokowi.

https://www.youtube.com/watch?v=hd1VgHHQZxM
Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Wow keren Bro

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.