Sekaten 2008 Dalam Gambar

21 Feb 2008 | Cetusan

Sekaten JogjaSekaten. Pesta rakyat itu digelar lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pesta yang sungguh-sungguh merakyat.
Pesta yang sungguh-sungguh untuk rakyat.
Rakyat yang seperti apa? Namanya rakyat ya yang miskin, yang bahasa politiknya menengah ke bawah.
Karena kalau kaya itu bukan rakyat namanya tapi masyarakat.
Pesta mereka bukan di sini! Tapi di mall-mall yang licin kinclong-kinclong lantai dan kacanya.
Pesta mereka bukan di sini! Tapi di kafe-kafe serta diskotik yang tidak menyisakan speaker sember serta musik berketipung.

Ini pesta kami. Pesta rakyat kami.
Semua ada di sini. Merah, hijau, kuning, serta biru.
Komedi putar, tong stand (tong setan), lumba-lumba hingga rumah hantu.
Kutang, CD bajakan, mainan serta kaos merk-merk aspal.
Martabak manis, martabak gurih, kerak telor khas betawi sampai angkringan.
Orang tua, pelacur, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak hingga pemuda tanggung.
Pegawai negeri, pekerja swasta, buruh dan tani serta copet pun ada.
Kalian mau apa dan pilih yang mana ?

Sekaten Jogja
Loket Hantu
Seorang penjaga karcis sedang menanti di mulut loket stand rumah hantu. Entah kenapa, boleh dibilang stand rumah hantu itu paling laku di setiap sekaten dilangsungkan.
Padahal, berdasarkan pengalaman, isi dalamnya ya standar begitu-begitu saja; bau kemenyan dimana-mana, musik-musik misteri dan suara-suara auman serigala serta ringik-ringik menyeramkan dari entah apalah itu namanya, kemudian satu-dua orang kru yang bertugas mengaget-ngageti pengunjung dengan mengenakan kostum-kostum menyeramkan serta berdarah-darah. Begitu saja.

Sekaten Jogja
Naik Kereta, Siapa Hendak Turut ?
Areal Sekaten yang memakan hampir semua bagian Alun-alun utara Kraton Yogyakarta menyisakan gang-gang yang tak sempit antar wahana permainan serta antar lapak-lapak jualan.
Penyedia layanan hiburan kereta warna-warni pun tak tinggal diam.
Kulihat tadi ada sekitar tiga atau empat rangkaian gerbong kereta yang ngendon menanti penumpang turut serta.
Rutenya, ya melewati gang-gang antar pedagang lalu keluar serta mengitari alun-alun yang ramainya tak keruan itu.
Dan bapak ini? Masinisnya!

Sekaten Jogja
4000 Sekali Main!
Kenaikan (serta kelangkaan?) BBM tahun ini membawa dampak yang tak sedikit bagi pelaksanaan sekaten khususnya kenaikan harga tiket tiap wahana permainan.
Angka 4000 mungkin murah bagi kita yang biasa dengan kehidupan mapan akan tetapi bagi rakyat tentu bukan sesuatu yang kecil terlebih kalau dalam satu keluarga punya lebih dari satu anak.
Masing-masing anak ingin merasakan wahana yang sama untuk beberapa jenis yang tersedia. Mau makan apa keesokan paginya?

Sekaten Jogja
Yang Muda Yang Bekerja
Satu hal yang melegakan dengan selalu diadakannya sekaten dengan konsep seperti ini adalah adanya lahan kerja bagi kaum muda.
Para mas-mas dan mbak-mbak yang dalam setahun hidupnya berkelana membuka pasar malam seperti ini tentu merasa sangat mensyukuri konsistensi pemerintah Yogyakarta yang selalu melestarikan penyelenggaraan sekaten setiap tahunnya.

Sekaten Jogja
Macak Rupo
Seorang ibu sedang membenahi pakaian anaknya. Sore tadi ada pertunjukan di Panggung Kesenian yang berada satu kompleks dengan sekaten. Karena tadi acaranya khusus mengenai pertunjukan anak-anak, maka banyak kutemui tadi para ibu serta bapak beserta anak-anak yang didandani meriah mengerubungi panggung untuk antri tampil dan mempertunjukkan kesenian.

Sekaten Jogja
Kerak Telor Van Batavia Made in Jogja
Kerak telor betawi berada di Sekaten Jogja!
Ini yang betul-betul menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan.. kenapa harus ada?
Bukan karena rasa primordialisme yang meluap=luap kalau saya ingin berkata bahwa tempatnya bukan dan tidak perlu di Jogja.
Kalau kerak telor betawi ada di Jogja dan angkringan lesehan ada di Jakarta lalu apa gunanya Jakarta dan Jogja, Jogja dan Jakarta ?

Sekaten Jogja
Kapal – kapalan
Satu yang tampaknya menjadi ciri khas sebuah pasar malam adalah mainan kapal-kapalan seperti ini.
Tahun lalu aku menyempatkan untuk membeli barang sebiji untuk hiasan saja.
Aku begitu mencintai mainan seperti ini karena selain khas, aku sangat mengagumi pola kerja mainan itu hingga bisa bergerak dengan bantuan api serta tuas uap yang bergerak-gerak naik serta turun.
Kalian mau beli? Cukup 5000 perak untuk membawanya pulang sebagai kenang-kenangan untuk masa depan.

Sekaten Jogja
Altar Ria
Apa pula ini?!? Altar Ria hahahahah!
Untung tak ada gambar perjamuan terakhirnya Da Vinci. Kalau ada pasti diprotes oleh mereka-mereka yang terkadang memandang gambar sebagai berhala dan bukan ikon saja.
Ah, kok lari ke sana lagi? Sudahlah, Bung! Ini pesta! Rakyat pesta! Anak-anak kecil yang mengacungkan tanda metal di belakang “gerbong” kereta itu pun berpesta!

Sekaten Jogja
Tong Setan atau Tong Stand?
Saya sungguh malu!
Tiga puluh tahun saya ternyata keliru mengeja “Tong Stand” sebagai “Tong Setan”.
Namanya juga lidah jawa ya tak mengapa. Tapi hal-hal seperti ini memang perlu diluruskan sebisanya karena perbedaan persepsi yang ditimbulkan diantara dua hal tersebut sangatlah berbeda.
Tapi saya juga jadi berpikir apa saya salah mengeja atau memang “Tong Stand” itu baru muncul akhir-akhir ini saja ketika Bahasa Inggris semakin menggejala dan ungkapan “Setan” semakin dibedakan sebagai sesuatu yang hina dan menakutkan ?

Sekaten Jogja
Martabak Mahal
Kenapa pasar rakyat identik dengan martabak dan bolang-baling ?
Saya tak tahu juga, tapi nyaris di setiap pasar rakyat selalu ditemukan penjual bolang-baling dan martabak seperti ini.
Padahal harganya boleh dibilang cukup mahal untuk ukuran kantong rakyat. Untuk sebuah martabak dengan ukuran “enak” saja kita perlu mengeluarkan duit dari kocek sebesar Rp 20.000,00.
Mau yang lebih besar lagi dengan adonan telor bebek yang lebih banyak, ya tambahkan 12 atau 15 ribu.
Semoga yang membeli memang benar-benar rakyat dan semoga rakyat membeli dengan penuh kesadaran bahwa ini termasuk makanan mahal.

Foto dan narasai lainnya bisa disimak di sini

Sebarluaskan!

18 Komentar

  1. untung gak ada copet kepoto yah :D semoga saja makin lama makin tidak ada copetm dan para copet sadar bahwa ini adalah pasar rakyat yg notabene tidak ada duit banyak disini hehehehe

    Balas
  2. Lha wong copetnya sibuk motret, gimana mau kepoto… Hihihi! ;))

    Balas
  3. oh, tong stand to? saya masih lebih suka menyebutnya tong setan, mas :D

    Balas
  4. gw pernah tu ke jogja pas lagi sekatenan. macet abis! trus gw ga bisa liat2 yg begituan deh.

    salam kenal

    Balas
  5. copetnya kan udh naik kasta….. jadi raja kediri pake sepatu docmart…..kebayang doong…

    Balas
  6. @Windy: Eh betina! Emang kamu?! Orang udik ngaku ibukota :) Rumah susun ngaku apartemen? Huahuahua

    Balas
  7. Mbok ya profil Tunggonono diangkat dalam gambar… :-P

    Balas
  8. @DM : apa kita ke jogja aja buat ngangkat profil si Tunggono ini dan…?

    Balas
  9. @ windy: Iya, ndi, seperti rencana kita… ;)

    Sttt… jangan sampe Donny tau tapi.

    Balas
  10. @DM dan Windy: Kalian kalau mau ke Jogja ya ke Jogja aja…
    Ngga usah bawa-bawa Tunggonono.. atau kusuruh dia jaga di kamar kalian berdua? Hahahahaha
    Nanti akan kubekali dia handycam, siapa tahu bakal jadi bokep kesohor, Jogja Lautan Api!

    @nne:
    Macet? Terobos aja! Turunlah dari mobil lalu jalan kaki bersama rakyat lainnya!
    Salam kenal!

    Balas
  11. @DM dan Windy: Kalian kalau mau ke Jogja ya ke Jogja aja…
    Ngga usah bawa-bawa Tunggonono.. atau kusuruh dia jaga di kamar kalian berdua? Hahahahaha
    Nanti akan kubekali dia handycam, siapa tahu bakal jadi bokep kesohor, Jogja Lautan Api!

    @nne:
    Macet? Terobos aja! Turunlah dari mobil lalu jalan kaki bersama rakyat lainnya!
    Salam kenal!

    Balas
  12. aku juga baru tahu sekarang klo tong stand saya kira dulu juga tong setan

    Balas
  13. mas donny…foto2 sekatennya ada yang saya pakai untuk background iklan koran….maksudnya mau nuwun sewu dulu sama yang empunya …sambil berharap semoga diperbolehkan..

    Balas
  14. @Irma: Silakan dipakai ASAL dituliskan nama fotografernya yaitu saya.

    Kalau ndak dituliskan ya sebenarnya tidak saya ijinkan begitu saja kecuali untuk urusan non-profit.

    Gimana Mbak Irma ?

    Balas
  15. ok sudah saya tuliskan..tapi karena ini iklan kolom yang ukurannya nggak besar..mungkin agak nggak kliatan. dan itu juga nanti tergantung alternatif mana yang dipilih klien, karena gambar mas donny saya pakai di salah satu alternatif saja. terima kasih ya mas.

    Balas
  16. @Irma: Trims Mbak Irma atas pengertiannya.

    Nanti kalau terpilih mohon beritahukan yah ke saya.

    Sukses selalu.

    Balas
  17. mas Donny yth,
    terima kasih sekali lagi untuk perhatian & ijinnya. klien sudah memilih alternatif dan bukan desain yang menggunakan foto mas Donny.

    demikian yang bisa saya informasikan, semoga sukses selalu, kiranya Tuhan memberkati mas Donny & keluarga.

    Balas
  18. @IRma:
    Ok Mbak, sukses juga untuk kerjaan Anda.

    God bless!

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.