Sekadar tahu atau percaya?

4 Jul 2018 | Kabar Baik

Suatu waktu aku pernah mendengar pendapat yang agak unik dari seorang kawan setelah membaca Kabar Baik hari ini.

?Setan itu percaya Yesus ya, Don?? Aku mengernyitkan dahi, ?Kok bisa??

Lalu ia mengambil penggalan ini untuk menguatkan pendapatnya,

?Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (lih. Mat 8:29).

?Jika setan itu percaya Yesus, dunia tentu tak seperti sekarang ini, Bro!? sergahku.

Kita perlu membedakan antara percaya dan tahu. Percaya itu tak sekadar tahu. Setan hanya sekadar tahu karena percaya itu berarti mengikuti yang ia ketahui. Mengikuti adalah menjalani yang diajarkan dan menolak yang dilarang.

Kalau setan itu percaya padaNya, tentu ia tak memecah-belah karena perpecahan bukanlah hal yang dikehendaki Yesus seperti yang Ia pinta kepada BapaNya di Getsmani, malam sebelum disalibkan. (lih. Yohanes 17:22-23)

Contoh paling gampang untuk memahami hal ini dalam hidup sehari-hari barangkali adalah tentang tata cara menaati aturan lalu-lintas.

Dulu waktu masih tinggal di Indonesia, aku berkendara sepeda motor. Hal paling menjengkelkan dari bersepeda motor menurutku adalah karena kita harus mengenakan helm. Rambut jadi lepek karena ditekan helm dan bau karena panas. Akibatnya, misalnya hendak pergi kondangan atau ngapel, sesampainya di tujuan, helm buru-buru dilepas lalu ambil sisir dan merapikan rambut menggunakan kaca spion.

Pernah suatu waktu, karena jarak tak terlalu jauh dan sayang dengan tatanan rambut, aku berkendara tanpa helm lewat jalur yang kupikir sudah cukup ?aman? dari patroli polisi. Tapi dasar nasib sedang sial, tiba-tiba dari arah belakang, sebuah sepeda motor berada di sebelahku, ?Ke pinggir sekarang!?

Duh, Polisi! batinku.
Aku segera minggir. Pak Polisi itu mengambil kunci sepeda motorku lalu berkata, ?Kamu tahu kenapa aku menyuruhmu minggir.?

Plonga-plongo sejenak. Masa aku bilang nggak tahu? ?Ta? tahu, Pak! Saya nggak pakai helm!?

Polisi itu melanjutkan, ?Kalau tahu nggak pakai helm kenapa masih tetap nekad??

Aku terdiam.

Itulah inti dari tahu dan percaya. Aku tahu ada peraturan untuk mengenakan helm bagi setiap pengemudi sepeda motor. Tapi aku tak percaya bahwa aturan itu baik karena bisa menyelamatkan jiwa saat terjadi kecelakaan . Aku lebih percaya bahwa helm itu berakibat tak baik untuk rambut; jadi lepek, jadi bau.

Sebagian besar dunia tahu bahwa Yesus itu Anak Allah. Ya dari kisah-kisah yang didapat di Kitab Suci juga dari kesaksian-kesaksian yang didengar dan dilihat serta dirasa para pengikutNya. Tapi adakah mereka semua percaya kepadaNya?

Bagaimana juga dengan kita? Sudahkah kita percaya atau sekadar tahu saja?

Sydney, 4 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.