
Setujukah kamu dengan pendidikan atau.. errrr program bermain atau apalah namanya bagi anak di usia balita, bahkan seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, usia 1 – 2 tahun?
Jangan terburu-buru menjawab setuju atau tidak dulu karena aku pun semalam ketika memotret iklan ini di muka sekolahnya, pun terburu-buru secara emosional menjawab tidak setuju.
Kenapa tidak setuju, karena aku pikir bahwa ini adalah pemborosan, praktik kapitalisme pendidikan yang korbannya adalah anak kecil bahkan masih sangat kecil.
Anak-anak yang daya ingatnya pun belum terbentuk sempurna, istilah komputer sedang formatting dan installing, seharusnya masih butuh sentuhan-sentuhan awal dari ibu, ayah,
kakak, adik dan segenap anggota keluarga besar lainnya untuk me-recognize siapa orang-orang dekatnya,
kenapa justru harus “disekolahkan” demi “masa depan” yang sebenarnya masih sangat jauh berada di depan sana ?
Akan tetapi, sesampainya di rumah, setelah emosi tak lagi meninggi, aku jadi bisa berpikir lebih tenang dan tak melulu menyalahkan tanpa berpikir dari banyak sisi terlebih dahulu.
Bagiku, pengadaan program bermain bersama bagi anak-anak usia dini tidak bisa disalahkan begitu saja.
Pola pikirku simple, ia tak kan pernah ada jika tak ada yang meminati, bukan ?
Seperti halnya kita tahu pisang goreng-nya Mbak Yu Mar yang ada di dekat jalan depan situ tetap laku meski glepung-nya segede batu bara karena memang ada yang beli setiap sore.
Lalu kenapa program bermain seperti itu laku?
Karena menawarkan solusi! Menawarkan kebaikan dan pemecahan dari kebuntuan masalah.
Masalah apa?
Masalah bagaimana mendidik anak usia dini. Tak semuanya memang, akan tetapi kebanyakan para ibu dari anak-anak itu pun juga turut bekerja seperti suaminya, membanting tulang
untuk mencukupi susu dan perlengkapan bayi yang juga semangkin hari semangkin melambung tinggi harganya ini.
Sementara kalau ia harus menitipkan anaknya pada pembantu, waduh… jangan-jangan nanti malah bayi tersebut jadi kurang civilized karena harus bergaul dan diperkenalkan dengan cara-cara
yang mungkin tak sesuai keinginan orangtuanya.
So, program di atas jelas menawarkan solusi ini. Solusi dari kebuntuan-kebuntuan di atas.
Tinggal bayar per bulan ke pihak penyelenggara lalu si ibu dan si bapak pun bisa tenang bekerja karena si kecil sudah berada di tangan yang menurut mereka “benar”.
Apa pelajaran yang kudapat dari semua itu ?
Aku mencoba merenung, susah untuk tidak menyalahkan satu pihak ketimbang pihak lain, tapi bagaimanapun juga, semua ini adalah mata rantai yang masing-masing daripadanya memiliki
keterkaitan dan ikut urun dalam menentukan besar kecilnya permasalahan. Orang tua jelas memegang peranan terpenting tapi yang lebih penting yang harus diketahui,
anak kecil itulah korbannya.

Tinggalkan Balasan