Menilai tingkat kemalasan seseorang itu bagiku mudah.
Hitung saja dari berapa pasang percakapan yang terjadi sampai akhirnya mentok di kata “Repot” atau “Malas ah!” atau “Takut!” atau kata-kata lain yang senafas dengannya.
Orang Males Tingkat Satu
Orang 1: “Kamu besok sore datang ke acara kerja bhakti kampung, tho?”
Orang 2: “Nggak ah, repot!”
Orang 2 adalah penderita malas repot tingkat satu karena hanya dengan satu pertanyaan/ajakan langsung berucap “repot”.
Tingkat ini adalah yang paling akut!
Orang Males Tingkat Dua
Orang 1: “Kamu mau bantu aku ngangkatin meja ini supaya kita bisa makan malam bersama-sama?”
Orang 2: “Bentar ya, nanti pasti kubantu tapi… tapi bentar ya…”
Orang 1: “Woi, itu masakan sudah matang bentar lagi dituang dan kita semua makan! Nggak bisa ninggalin game-mu sebentar untuk bantu ngangkat meja ini?”
Orang 2: “Aduh! Kenapa yang nggak lain sih? Repot amat? Ntar gw makan sendiri aja deh!” *sigh*
Orang 2 adalah pemalas tingkat dua karena dalam dua kali pertanyaan/ajakan langsung berucap “repot”
Orang Males Tingkat X
Bayangkanlah sendiri orang malas pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi dari dua tingkat yang kulukiskan di atas cukup dengan membayangkan percakapan dan menghitung berapa banyak pertanyaan/ajakan yang dilancarkan si penanya/pengajak sampai si terdakwa bilang “Repot” atau “Malas”.
Bajaj Pemalas
Diluar tingkatan-tingkatan orang repot seperti di atas, bagiku Bajaj Pemalas adalah tingkatan tersendiri .
Hah? Apa itu Bajaj Pemalas? Sssstttt, tunggu, baca dulu kilasan percakapan berikut ini:
Orang 1: “Kamu ada waktu? Aku perlu bantuanmu untuk menelpon Penyedia Gas karena gas kita habis.”
Orang 2: “Kenapa bukan kamu? Aku kan sibuk kalau di kantor!”
Orang 1: “Ah, aku kan juga sibuk, lagipula sejak kapan kamu sibuk di kantor? Kamu kan sering cerita kalau kamu lebih banyak ber-FB an ketimbang bekerja?”
Orang 2: “Eh, please deh ya! Eike emang sering FB tapi eike kalau pas kerja beneran ya kerja beneran nggak kayak elo!”
Dan waktu pun berlalu, hari pun berganti dan kedua orang itu terus berkutat pada pertanyaan siapa yang lebih nggak sibuk untuk menelpon penyedia gas.
Hingga akhirnya hari ke-7 pun datang.
Orang 1: “Gara-gara kamu yang males dan repot nelpon penyedia gas aku jadi masuk angin karena mandi pake air dingin!”
Orang 2: “Eh enak aja kamu nyalain aku!! Aku kan REPOT kalau harus nelpon, kemarin-kemarin sibuk buanget!”
Orang 1: “Sibuk????? Kamu sibuk sementara facebook status kamu berganti 15 kali sehari di siang hari, kamu bilang sibuk?”
Orang 2: “Aduhh.. aku tuh males kalau harus telpon Penyedia Gas karena nanti pasti ditanya macam-macam, lagipula kenapa nggak disuruh bikin account di Facebook sih Penyedia Gas itu jadi nggak perlu mencet-mencet nomer telp, nggak perlu nunggu diangkat dan nggak perlu ngomong udah kelar!”
Cukup!
Jelas bukan? Orang 2 adalah Bajaj Pemalas!
Seperti layaknya pengemudi bajaj yang pintar meliuk-liuk di tengah padatnya lalu lintas ibukota, Bajaj Pemalas adalah orang yang pandai meliuk-liuk kesana kemari hanya demi menghindari stempel pemalas…
Tinggalkan Balasan