Seberani apa kita untuk #TidakTakut dan seyakin apa kita untuk #LawanTerorisme?

14 Mei 2018 | Cetusan

Setiap ada peristiwa aksi terorisme seperti yang terjadi kemarin pagi di tiga gereja di Surabaya, menurut pengamatanku setidaknya ada dua ?tagar? yang mengemuka dimana-mana. Pertama, ?#TidakTakut?, kedua ?#LawanTerorisme.?

Mana yang lebih benar? Dua-duanya benar.

Tapi selama tak dipraktekkan dengan benar, meski mengandung kebenaran, tagar-tagar itu jadi tak berguna. Keduanya akan jadi sama dengan semboyan cantik ?Mensana incorpore sano? (Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat) yang kita kenal sejak kecil tapi untuk sekadar jalan kaki dari rumah ke warung burjo terdekat saja malasnya bukan main dan memilih nyuruh ojek untuk beli dan antar makanan!

#TidakTakut

Tagar ?#TidakTakut? itu sebenarnya bisa melahirkan banyak intepretasi.

Ada yang menganggap tagar ?#TidakTakut? adalah tagar yang muluk-muluk karena siapa sih yang nggak takut ketika mengalami aksi teror? ?Mereka yang teriak ?Tidak Takut? itu karena belum pernah ada di lokasi teror, Mas!? kata seseorang dulu.

Tapi ada juga dari sisi sebaliknya menganggap tagar ?#TidakTakut? adalah tagar yang mengajak kita untuk berperilaku nekad tanpa perhitungan.

Bagiku #TidakTakut harus diartikan sebagai keberanian untuk meneruskan hidup bagaimanapun tantangannya ke depan dengan syarat: waspada dan perhitungan.

Contoh penerapan #TidakTakut bisa kita lihat pada pernyataan sikap Keuskupan Surabaya. Terkait peristiwa teror kemarin, melalui Vikaris Jenderal, Romo Eko Budi Susilo, Pr, pihak Keuskupan memutuskan untuk meniadakan perayaan ekaristi minggu sore.

Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai wujud ketakutan, ?Kalau berani ya tetap ada misa, jangan malah ditiadakan!? begitu komentar seorang di grup WA tadi sore.

Keuskupan Surabaya mengambil keputusan itu dalam rangka menanggapi permintaan dari pihak kepolisian yang kesulitan mencari tenaga yang cukup untuk mengawal perayaan. Mereka tentu sedang sibuk dan ingin fokus menyelesaikan kasus teror tadi pagi.

Mereka menghitung resiko, memberi waktu pihak keamanan untuk bekerja menuntaskan perkara. Ketika semua sudah selesai dan kondisi sudah kembali mereda, Keuskupan kembali berkegiatan. Keuskupan Surabaya #TidakTakut!

#LawanTerorisme

#LawanTerorisme menurutku cukup abstrak jika tak dipraktekkan dengan benar. Terorisme adalah paham dan paham hidup di dalam pikiran orang, bagaimana mungkin melawan sebuah paham?

Para pelaku teror juga bersembunyi dan tak menunjukkan batang hidungnya hingga akhirnya aksi teror terjadi atau ditangkap pihak yang berwajib. Lantas bagaimana melawannya? Siapa yang dilawan?

Supaya tak abstrak dan tak salah memilih gelanggang perlawanan serta demi tak sia-sia energi yang kita habiskan, kita harus mulai melawan terorisme itu dari diri sendiri dan lingkungan terkecil kita.

Hati-hati, terorisme bisa muncul dalam benak kita. Tak harus dalam wujud yang serem-serem seperti misalnya membunuh dan mencelakai orang dan grup, terorisme bisa hadir saat kita ikut menyebarkan foto dan video kejadian teror!

Melakukan penyebaran konten yang seperti itu adalah sama saja ambil bagian dalam aksi teror! Kenapa? Karena itulah yang dimaui teroris supaya aksinya teramplifikasi!

Melawan teror juga bisa dengan mendeteksi orang-orang tedekat kita. Adakah saudara atau kawan dan handai taulan yang mengalami perubahan sikap akhir-akhir ini? Pandangannya jadi keras ketika kita bicara tentang politik dan perbedaan SARA? Mengurung diri atau memiliki kawan-kawan baru yang tak pernah kita kenal sebelumnya? Waspada, jangan-jangan mereka sedang didekati para agen teror, dicuci otak untuk jadi bagian dari mereka.

Memilih kawan dan komunitas perkawanan juga bisa jadi salah satu cara melawan aksi teror. Kenapa? Karena jangan-jangan kita yang sedang dikepung oleh komplotan untuk mencuci otak kita!

Yang terakhir, sebagai orang tua, melawan teror bisa dimulai dengan cara mengajarkan pada anak-anak kita bahwa menyakiti orang lain dengan dalih apapun termasuk perbedaan itu adalah hal yang tak diperbolehkan sama sekali. Anak-anak harus dididik untuk melihat perbedaan sebagai takdir yang tak bisa dihindari dan dimusuhi. Perbedaan ada untuk dihidupi.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.