Sebelas tahun setelah Gempa Jogja…

27 Mei 2017 | Cetusan

Gempa Jogja, 11 tahun silam, 27 Mei 2006 ibarat sebuah vas bunga cantik yang terkoyak, pecah, jatuh, mengagetkan tapi tak mematikan bunga itu sendiri.

Kematian saat itu tak lagi dipandang sebagai nama tapi angka. Bukan tentang Bu Sastro dari Dusun A, Bu Sutini dari Dusun B, tapi lebih pada 50 orang dari dusun A dan 30 orang dari dusun B, entah apakah Sastro dan Sutini ada pada kedua lajur laporannya lalu pada ‘kalkulasi akhir’, jumlah yang meninggal adalah 6000 orang!

Nyawa dikenali sebagai angka, angka sebagai tanda bukan lagi nama…

Gempa Jogja seolah juga jadi pengingat bagiku bahwa manusia adalah bagian dari alam. Ketika alam bergerak, manusia harus menyelaraskan. Jatuhnya korban jiwa, luluh lantaknya kota adalah salah satu wujud dari proses keselarasan itu.

Ia bukan kutukan meski hentakannya mendukakan. “Selalu ada yang baru ketika bumi bergolak!” demikian kata seseorang dulu. Dibarukan dengan cara dihancurkan atau diselaraskan. Ibarat sebatang pohon yang harus menggugurkan seluruh daunnya untuk menghadapi musim dingin dan demi musim semi yang akan datang kemudian.

Tapi sekaligus, gempa sebelas tahun lalu adalah peristiwa yang membuatku bertanya, “Tuhan, mauMu apa?”

Tunduk syukur bagi para korban jiwa dan keluarga yang ditinggalkan dalam gempa sebelas tahun silam.

Berikut adalah kutipan dari ‘Facebook Notes’ yang kubuat beberapa tahun terakhir. Notes ini adalah catatan yang sama yang kutuangkan dalam buku yang kukarang lalu diterbitkan secara komersial terkait kejadian Gempa Jogja yang kuberi tajuk, “Detik-detik yang menghempas.”

*credit photo: Bravo

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.