Sebatang payung dan sekeping kepercayaan

18 Apr 2018 | Kabar Baik

Seperti ditulis Yohanes, murid terkasihNya, di hadapan orang-orang Yahudi, Yesus berkata, ?Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.? (Yohanes 6:36)

Percaya memang tak semudah melihat. Percaya memerlukan tenaga dan sekuat apa hal itu semua akan diuji dan dibuktikan pertama-tama oleh waktu lalu pada nantinya oleh Tuhan sendiri.

Bisa jadi kita percaya hari ini tapi besok jatuh tak percaya. Bisa pula sekian puluh tahun tak percaya tapi lantas karena satu hal seseorang tersadarkan dan jadi percaya?

Merenungi arti ?melihat? dan ?percaya?, aku ingat sebuah payung.

Hidup di negara subtropis seperti Australia ini, cuaca tak bisa dibagi dalam musim hujan dan kemarau seperti di Indonesia. Hujan bisa terjadi kapan saja, sepanjang tahun. Oleh karenanya, aplikasi ramalan cuaca di gawai amatlah penting untuk dijadikan panduan apakah hari ini hujan atau tidak.

Suatu pagi, aku melihat dari aplikasi bahwa hari akan hujan. Tapi ketika melewati rak payung saat hendak berangkat kerja, aku tak mengambilnya. Tiba-tiba aku merasa tak percaya pada payung yang kupunya karena dua hari sebelumnya saat hujan lebat payung itu kurasa terlampau kecil dan tak mampu melindungiku dari hujan.

Lagipula hari ini tak banyak meeting di luar kantor jadi tak perlu payung, gumamku menenangkan diri.

Sialnya, sepuluh menit berjalan tiba-tiba hujan datang! Mau balik ke rumah takut kesiangan sampai di kantor, mau jalan terus, basah kuyub. Akupun bingung sementara hujan seperti tak memberikan dispensasi sedikitpun atas kebingunganku itu.

Melihat dan mempercayai kuasa Tuhan kurang lebih juga demikian.

Kita tahu Tuhan ada.

Kita tahu hidup di depan tak selamanya mudah. Tapi kita masih merasa sakit hati dan tak percaya karena dalam persoalan yang baru saja kita lalui, kita merasa Ia tak berbuat banyak membantu.

Kita berpikir, ?Ah, menghadapi persoalan kemarin saja Tuhan tak bisa diandalkan! Gimana dengan masa mendatang? Saat jaman robot tiba, adakah Ia bisa lebih berguna ketimbang robot-robot itu nantinya??

Kita lantas meninggalkan Tuhan, menanggalkanNya dalam kotak kenangan meski sekali lagi kita tahu Ia ada.

Tapi sayangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah begitu kau anggap digdaya itu, mereka tetap tak bisa membuatmu hidup selamanya. Kamu jatuh dalam kodratmu, mati. Di alam yang sama sekali baru itu kamu tak tahu lagi siapa yang mau menyelamatkanmu karena kepercayaanmu yang nihil terhadapNya selama di dunia meski sekali lagi, kamu tahu Ia ada.

Di titik itu, di momen itu, mau balik kembali ke dunia, tak ada pintu terbuka, mau jalan terus, panasnya panggangan api abadi sudah terasa sejak beberapa menit setelah kamu menutup mata untuk selama-lamanya?

Sydney, 18 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.