Saya Rindu Memberi Bunga

16 Mar 2012 | Cetusan

Oleh Nugi*

Ya. Sudah sekian tahun ini saya tak lagi memberikan bunga kepada orang yang saya kasihi dan cintai. Dan saat ini saya sangat merindukan momen-momen itu. Momen memberikan dan mendapatkan ekspresi kebahagiaan dari sang penerima.

Dulu, pertama kali saya memberikan bunga kepada seorang gadis, saya memberikannya dengan sangat percaya diri. Saya memberikannya di dalam bus kota, di tengah-tengah para penumpang yang sedang mengarah ke Pasar minggu. Sejenak, banyak mata para penumpang memandang ke arah bunga yang sedang saya berikan kepada sang gadis yang adalah pacar saya pertama kali saat itu. Mereka melihat ke arah bunga itu dan lalu ke arah wajah kami dan juga ke arah sebuah apel merah yang saya beri pita berwarna biru. Senyumnya membungkus kami dalam ikatan emosional yang kental akan rasa bahagia. Senyumnya tidak lagi memberi warna merah pada waktu-waktu yang membosankan ketika menunggunya untuk muncul di ujung jalan.

Sekitar Jam 5 sore saya melompat turun dari bus kota di dekat persimpangan rel kereta Kalibata. Dengan seksama saya memperhatikan lalu lintas di sekitar. Saya mencari kesempatan untuk bisa menyeberang ke arah halte di depan Mal Kalibata. Saya tidak ingin teledor demi menjaga penampilan yang sudah dipersiapkan secara baik untuk tidak rusak hanya karena sundulan sepeda motor atau kendaraan roda empat. Di halte itu, saya menunggu. Hujan. Sedikit kebasahan. Langit mulai menggelap. Dan perlahan asa semakin memuncak memenuhi palung dada setiap kali suara bel palang pintu kereta menggaung. Saya tengok jam tangan saya. 8:13 malam. Sepertinya dia tidak akan datang dan saya pun berpikir untuk membuang saja bunga itu dan beranjak pulang. Ketika saya sedang memperhatikan kereta listrik itu beranjak pergi dari stasiun Kalibata, semakin menggeram hati saya. Terbengong oleh pikiran-pikiran yang mulai membuat siasat untuk menyudahi penantian saya. Saat itu juga pijatan lembut jari-jari sejuk angin malam menutup kedua mata saya. “Halo sayang”. Saya segera membalikkan tubuh seraya menatap wajah sang pemilik suara. “Maaf, gue nunggu nyokap tidur dulu supaya bisa pergi.” Saya hanya tersenyum. Lega. Kami berbincang sejenak sebelum menyetop bus kota yang mengarah ke Pasar Minggu.

Hari itu saya berjanji pada teman saya untuk sama-sama pergi menuju jantung selatan Jakarta, Blok M. Kami, untuk pertama kali, bersama-sama berpetualang untuk hal yang sedang kami gandrungi – Cinta . “Yah, motornya dibawa abang gue” dan saya pun manyun. “Ya udah, naek sepeda bokap gue aja. Boncengan kita.” Dia mengangguk. Pergi bersama mengayuh sepeda berboncengan seperti kami sewaktu berusia separuh usia kami hari itu. Di kala BMX masih merajai jalanan dan gengsi teman-teman kami yang lain. Di Jalan Barito kami menawar setangkai mawar yang hanya boleh kami tebus dengan harga lima belas ribu rupiah, tidak boleh kurang. Dua tangkai mawar saya genggam di kedua tangan saya sembari duduk di belakang. Gantian teman saya yang memboncengi saya. Kami pun kuyup karena siraman hujan. Tapi kami bahagia membawa pulang mawar-mawar itu. Segera setelah kami siap, kami berjabat tangan untuk saling menyemangati. Kami pun menumpang bus kota yang berbeda. Saya menuju Kalibata.

#Cerita 1
Demi Hari Valentine

Nugi (@Agnostinia),Seorang Aries yang bekerja sebagai Virtual Assistant di Jakarta. Suka bersepeda fixed gear. Blogger pemula.

Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Nugi? Silakan baca informasi di sini

Sebarluaskan!

5 Komentar

  1. sayangnya tidak semua laki-laki mengerti bahwa perempuan suka bunga (eh tapi ada juga loh wanita yang alergi pada bunga)
    Yang penting bukan bunganya sih…tapi perhatiannya

    EM

    Balas
  2. kalau aku gak suka dikasih bunga mbak em.. gak ada gunanya gitu :p

    Balas
  3. dulu sering ngasih bunga.. sekarang kok jadinya biasa saja ya… tidak penting.. mungkin ada baiknya kasih perhatian saja ya…

    Balas
  4. kalau saya pernah memberikan bunga plastik kepada pacara saya, dengan harapan bunga tersebut ga akan pernah layu ketika bersamanya, sama dengan perasaan saya:)

    Balas
  5. Asik ya? hanya dengan sebuah narasi tentang bunga, beberapa orang dengan sendirinya bercerita tentang pengalaman pribadinya tanpa saya bertanya.
    Giliran saya yang membaca cerita-cerita dari para komentator dan saya tersenyum-senyum senang membacanya..

    Bunga pada narasi saya memang bersifat simbolis bagi situasi saya saat itu, dan simbol itu saya tarik kembali ke masa kini dengan media narasi agar saya dapat mengetahui opini banyak orang tentang situasinya dan opininya tentang bunga.

    Sangat menarik!

    Dan saya berharap akan terus mengalir opini-opini baru..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.