Sebagai seorang yang juga tak lepas dari kenarsisan akut, saya harus menyadari bahwa meski sekian lama kutahan-tahan, akhirnya harus kubikin juga laporan ini.
Wah, ternyata ada juga televisi yang mau memangsukkan saya ke dalamnya.
Meski televisi lokal, yang penting televisi. Toh televisi lokal, televisi nasional maupun internasional sekalipun, caranya menyetel juga sama saja tho ?
Apa ya kalau televisi lokal njuk nyetelnya harus pake merk yang lokal, kan nggak juga.
Lagipula kadang aku berpikir, saya mangsuk televisi lokal hanya karena saya tidak tinggal di Batavia.
Kalau misalnya saya memilih tinggal di Batavia, mungkin juga saya sudah akan masuk ke televisi nasional karena ketika saya nyonthong [1] ngalor-ngidul, telinga para pemrogram televisi nasional itu tak jauh-jauh mendengarkannya, ah… tapi ini nggak usah dan nggak perlu dibahas.
Pokoknya mangsuk tipi!
Acara rekamannya sudah dilakukan beberapa minggu lalu tapi baru disiarkan malam minggu kemarin, 19 Januari 2008 jam 20.30 – 21.30 WIB.
Nama acaranya Tamu Kabare, disiarkan di Jogja TV, televisi lokal Jogja yang punya motto “Tradisi Tiada Henti” tersebut.
Dan jebul mangsuk tipi itu (meski ini bukan yang pertama) mbikin grogi meluap-luap.
Untung aku bisa mengendalikan pita suara supaya tak terlalu gemetar, tapi ya tetep saja, seperti ada yang menarik-narik di lidah untuk diam, tercekat.
Trus sudah gitu, lampu sorot yang mencrong-mencrong [2] dan diarahkan ke panggung itu ternyata juga sangat menyilaukan yo.
Puanase poul dan… mbikin sakit di mata, jadi harus memicing-micing gitu bolehnya melihat, “Semakin kayak engkoh-engkoh!” mungkin kalau HonHon ku berkomentar seperti itu.
Di tengah-tengah acara saya sempat berpikir, itu berapa watt dihabiskan buat menyorot saya ya..?
Kalau diirit-irit kan ya bisa dipake buat menerangi jalan maupun rumah-rumah sekitar.
Idep-idep mbantu PLN yang katanya sudah mulai kehilangan akal untuk tidak kekurangan energi.
Udah gitu, yang nonton di studio yang kebetulan disiarkan dari lobi salah satu hotel di Jogja itu ya ayu-ayu tenan lho.
Tatapan mereka yang mau tak mau mengarah pada saya itu membuat saya semangkin grogi.
Aku juga jadi nggak bisa membayangkan kiro-kiro yang nonton acaraku di rumah-rumah di sekitar Jogja apa ya se-ayu-ayu itu ya..?
Tapi kok nek menurut perkiraanku nggak, soalnya kan acaranya disiarkan pas malam minggu. Jam setengah sembilan lagi!
Itu kan jam hot-hotnya pacaran, jadi ya arep piye maneh.
Pasrah bongkokan saja kalau yang nonton adalah mereka yang mrengut habis putus dan nggak diapelin, atau mereka yang gak pacaran, mas-mas, ibuk-ibuk, bapak-bapak, mbokdhe-mbokdhe dan pakdhe-pakdhe yang lagi leyeh-leyeh menikmati malam minggu mereka.
Ra urusan ah. Sing penting gayeng [3]!
Soalnya memang bener-bener gayeng dan sip!
Dari Klaten, asal muasal saya, Simbok lan Bapak pada lapor ke saya kalau tetangga-tetanggaku juga serta merta nonton televisi pada saat itu juga.
Simbok bilang gini “Le! [4] Wah apik tenan lho. Iki para tetangga podho bilang sukses dan proficiat untukmu.”
Aku kok lantas jadi membayangkan suasana ndeso yang penuh guyub rukun dengan tonggo teparoku yang datang trus menyalami bapak lan simbokku, tapi ini juga bayanganku yang berlebihan soalnya pada kenyataannya ternyata mereka beradu komunikasi lewat SMS. Apa nggak hebat..tonggo teparo yang jaraknya hanya beberapa meter sudah tidak lagi mau datang-mendatangi tapi cukup mencet-mencet henpon untuk berucap sesuatu. Ini namanya teknologi masuk desa atau desa yang merasuki teknologi ? Ah, nggak usah digagas juga!
Bapakku juga sempat menunjukkan padaku salah satu bunyi sms dari tetangganya itu.
“Wah ada cah Mblateran Klaten bisa masuk tipi”
“Mau punya menantu bule ya?”
“Putrane wes nyebut Tegal Blateran. Jadi ngetop nih!”
Itu sudah prestasi huebat banget buat seorang saya yang anak desa tapi bisa mangsuk tipi, meski taraf lokal.
Opo tumon?!
- bicara; teriak-teriak
- gemerlap
- seru
- panggilan sayang dari ibu pada anak lelaki
Tinggalkan Balasan