oleh Arya Perdhana*
Pada awalnya adalah rasa malu.
Tahun 2011 lalu, saya mencatat kalau saya cuma membaca 7-8 buku saja. Tentu saja jumlah ini sangat sedikit bila mengingat saya adalah seorang pekerja di bidang media yang seharusnya menjadikan membaca sebagai kegiatan rutinnya setiap hari.
Sebagai penulis, membaca adalah modal berharga untuk menangkap ide, mencari inspirasi, kemudian mengembangkannya dan menuangkannya ke dalam satu tulisan. Lantas, bagaimana bisa saya mencari ide dan terus belajar tentang menyusun kata-kata bila hanya membaca tujuh buku dalam setahun?
Membaca cuma 7-8 buku setahun itu sedikit. Serius. Kalau diukur, saya cuma membaca dua buku dalam tiga bulan. Dua buku dalam 90 hari alias satu buku dalam 45 hari. Saya terhenyak ketika salah seorang teman bilang kalau dia membaca setidaknya 50 buku setahun! Saya terus terang iri melihat kemampuan teman saya untuk melahap sebegitu banyak buku itu.
Memang, sebenarnya saya tidak mengurangi kegiatan membaca. Tetapi yang saya baca sehari-hari adalah berita di media online yang hanya berkisar 6-10 paragraf per artikel. Bila ada artikel yang agak panjang, maka itu adalah artikel-artikel majalah yang terdapat di situsnya. Sisanya, saya lebih banyak menghabiskan waktu buat membaca Twitter di mana setiap kicauan cuma sepanjang 140 karakter.
Menyedihkan? Menurut saya iya. Kebiasaan membaca pendek-pendek membuat stamina saya dalam membaca artikel panjang jadi menyusut. Penurunan stamina ini kian terasa kalau saya membaca buku. Baru membaca selama 15 menit, otak dan mata saya sudah merasa capek dan butuh istirahat. Di masa istirahat itu, saya kembali menengok BlackBerry saya dan membaca Twitter. Tidak jarang, kegiatan itu berlangsung berjam-jam dan buku kembali terlupakan.
Buku akan selamanya punya tempat istimewa di hati dan benak saya. Saya terlahir di era di mana semua bahan bacaan berbentuk cetakan di atas kertas. Membaca buku buat saya tidak akan tergantikan oleh membaca di tablet dan smartphone apapun. Biarpun ada teknologi yang bernama e-ink (seperti yang dipakai oleh Amazon Kindle atau Nook dari Barnes and Noble), itu tidak dapat menggantikan sensasi sebuah buku. Sensasi ketika saya menyentuh tiap lembarnya, sensasi bau kertasnya, sensasi melipat halamannya untuk menandai di mana kita terakhir membaca (note: saya tahu, ada beberapa teman saya yang mengharamkan melipat kertas buku karena dianggap merusak. Tapi buat saya, melipat kertas buku tidaklah terlalu masalah) dan sensasi-sensasi yang bersifat emosional lain.
Karena itulah, kemudian saya memaksa diri saya sendiri untuk membaca lebih banyak buku di tahun 2012. Saya bertekad untuk tidak lagi pelit membelanjakan uang untuk membeli buku dan tidak lagi malas buat meluangkan waktu demi melahap lembar demi lembar buku. Dalam bayangan saya, bisa membaca 15 buku setahun itu sudah perkembangan yang bagus. (Jumlah ini sebenarnya masih terlalu sedikit dan pasti akan ditertawakan oleh kalian yang bisa membaca di atas 20 buku setahun, tapi tak apalah. Setidaknya saya masih mau membaca :p)
Buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2012 adalah buku berjudul ?Gadis Jeruk? karangan pengarang Norwegia, Jostein Gaarder. Buku ini berbahasa Indonesia. Saya menyelesaikan buku setebal 242 halaman ini dalam waktu cukup lama (kalau tidak salah, hampir dua pekan).
Kemudian, minat saya bergeser. Di sebuah toko buku, saya secara impulsif membeli dua buku berbahasa Inggris.
Yang pertama adalah ?Little Prince? (berbahasa Inggris, judul asli Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupery). Meski saya sudah membaca versi bahasa Indonesianya (sejak berjudul Pangeran Kecil hingga berubah jadi Pangeran Cilik di cetakan terbaru), saya merasa harus membaca ulang dan memiliki judul buku paling favorit sepanjang masa saya ini.
Bersamaan dengan Little Prince, saya juga membeli The Girl with the Dragon Tattoo, novel kriminal karya penulis Swedia, Stieg Larsson. Punya tebal 640-an halaman, buku ini adalah buku pertama dari trilogi Millenium karya Larsson. Setelah Dragon Tattoo, ada buku The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked Hornet?s Nest. Untuk menyelesaikan Dragon Tattoo, saya membaca saat naik angkutan umum, saat sedang jeda di kantor, hingga saat sebelum tidur. Buku ini akhirnya habis dibaca dalam waktu 28 hari.
Di sela-sela membaca Dragon Tattoo, nafsu impulsif kembali menyerang dan saya membeli dua buku lagi, Norwegian Wood-nya Haruki Murakami dan Anna Karenina, novel klasik sastrawan Rusia, Leo Tolstoy (Saya tidak merasa rugi telah membelanjakan uang buat membeli buku. Buat saya, memiliki buku itu membuat hati kita kaya).
Nah, buku apa yang sedang kamu baca saat ini?
Tinggalkan Balasan