Saya berada di belakang Jokowi! Kamu?

31 Mei 2017 | Cetusan

Karena aku cinta Indonesia dan bangga menjadi bagian daripadanya maka aku memilih dan memutuskan untuk berdiri kembali di belakang Jokowi, I stand behind Jokowi!

Kembali?
Yup! Dulu aku pendukung setia saat Pilpres 2014 tapi tak berselang lama, saat euforia belum usai, saat poster-poster yang dipajang di tembok-tembok jalan belum luntur oleh liur hujan, aku memutuskan mencabut dukungan karena ketidaksediaannya memberikan grasi pada terpidana mati.

Rasa bangga dan cintaku tandas, hatiku mengeras terhadapnya. Aku tak menyesali apa yang pernah kulakukan untuk membelanya tapi aku juga mengikrarkan diri menjadi golongan apatis sambil menunggu munculnya tokoh-tokoh selanjutnya yang punya semangat kerja seperti Jokowi tapi punya keberanian untuk memberikan grasi saat orang-orang sekelilingnya barangkali menganggap bahwa penolakan grasi adalah yang terbaik.

Setahun berselang, tak bergeming.
Dua tahun… sesuatu terjadi. Pilkada Jakarta menorehkan luka yang berkepanjangan. Ahok kalah, Ahok dipenjara tapi tenun kebangsaan terlanjur terkoyak ke arah yang lebih dalam: ancaman terhadap kebhinekaan.

Orang berdiri melawan seorang lainnya, kelompok berhadap-hadapan dengan kelompok di seberangnya hanya karena perbedaan agama, suku, golongan dan pilihan calon gubernur. Di beberapa daerah ormas melakukan presekusi terhadap mereka yang dianggap menghina agama sedangkan di tempat lain, ormas lain melakukan penolakan kunjungan di bandara-bandara terhadap mereka yang dianggap wakil dari golongan pelaku presekusi di daerah yang lainnya lagi.

Tak mau mengamini, tapi apa yang diutarakan oleh Mahfud MD (simak di sini) tentang munculnya ancaman bahwa suatu waktu Indonesia bisa terpecah-belah jadi seperti Syria bermain di pelupuk mata.

Di titik ini, aku lantas memilih untuk kembali berdiri di belakang Jokowi!

Tapi kenapa Jokowi dan bukan yang lain? Nah, berikut adalah beberapa pertimbangan yang hadir dalam proses berkeputusan tersebut.

#1 Mengganti kalian yang akan Golput 2019

Beberapa sakit hati pada Jokowi karena ia dianggap ‘diam saja’ saat Ahok, mantan rekan sekerjanya di DKI Jakarta dikalahkan dalam Pilkada dan dipenjara.

Wajar? Wajarlah karena seperti kutulis di atas, dulu aku juga pernah sakit hati padanya saat narapidana mati dieksekusi.

Tapi aku juga menganggap bahwa pembelotan itu wajar ketika diakhiri dengan reunifikasi. Tulisan dan kejujuranku untuk mendukung kembali Jokowi adalah usaha untuk menggugah mereka kembali bahwa dua tahun sejak sekarang itu udah Pemilu dan itu nggak lama lagi.

Kalau sakit hatinya baru sekarang, apa yakin terobati saat nanti?

#2 Pembangunan yang berkelanjutan di kawasan-kawasan pelosok negeri

Suatu sore tak jauh dari sekarang, seorang kawan sesama Indonesia tapi ia sudah beralih kewarganegaraan menjadi Australia menyapaku, “Don, loe sampai tahun 2019 jangan pindah kewarganegaraan dulu!”

“Kenapa?”
“Ahok udah masuk penjara, harapannya hanya pada Pakdhe!”

“Pakdhe siapa?”
“Pakdhe loe lah, Jokowi!”

Aha… ini menarik. Saat ada dua orang kawan yang memutuskan golput karena kecewa Jokowi tak menolong Ahok, ada seorang kawan lain yang sudah harus golput karena tak punya hak memilih karena sudah berganti kewarganegaraan malah menyarankanku untuk tetap mempertahankan paspor Indonesia supaya aku tetap bisa memilih Jokowi.

“Kenapa, Bro?”
“Loe bayangin deh kalau bukan Pakdhe yang jadi presiden, siapa yang mau bangun Papua?”

Jreng-jreng!
Oh bener juga! Lantas aku terbayang wajah-wajah orang Papua yang mendambakan kemakmuran seperti halnya saudara-saudaranya di Jawa yang sudah makmur dan punya segudang infrastruktur.

Seperti kita tahu, salah satu hal yang menakjubkan dari Jokowi adalah saat ia menyerukan bahwa pembangunan harus dimulai dari yang selama ini distereotipikalkan sebagai ‘halaman belakang’ termasuk Papua.

Coba simak apa yang diucapkan Jokowi saat ia meresmikan Bandara Tanjung Api Tojo Una-una di Ampena dan Terminal Penumpang Bandara Kasiguncu di Poso. “Kita ingin menjadikan Pulau terdepan jadi beranda Indonesia, bukan lagi sekadar halaman belakang.” (simak beritanya di sini)

Adakah orang-orang yang menyatakan golput hanya karena Ahok ‘nggak ditolong’ itu juga berpikir sejauh ini? Se-egois itukah mereka saat bahkan Ahok pun sudah rela dan ikhlas dipenjara dan tak mengajukan banding karena demi stabilitas nusa dan bangsa?

#3 Keterdiaman kita adalah investasi atas munculnya kuasa jahat.

Pernah dengar pepatah bahwa lebih baik menyalakan lilin/api kecil daripada mengutuk gelap?

Menyatakan diri sebagai golput menurutku sama dengan mematikan lilin dan memilih diam dan berpikir bahwa dengan diam ia bisa memperbaiki keadaan? No way!

Tapi kan bisa saja bukan Jokowi?
Benar! Tapi tunjukkan siapa yang bisa menggantikan Jokowi pada 2019, dua tahun mendatang? Aku selalu berpikir bahwa kelahiran tokoh itu butuh waktu. Kalaupun tak butuh waktu lama (bagiku Jokowi termasuk yang tak butuh waktu lama mengingat ‘karir’ nya yang meroket sejak jadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta lalu Presiden Republik Indonesia) kita perlu ‘tangan Tuhan’ untuk mempercepatnya.

Jadi, siapa yang bakal tampak untuk menggantikan beliau pada 2019?

Aku ingin menutup tulisan ini dengan menayangkan sebuah video yang menampilkan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta terpilih 2017 – 2022 yang tahun 2014 silam adalah juru bicara Joko Widodo dalam Pemilu PResiden. Dalam video yang lumayan panjang dan dibikin oleh dokumenter terkemuka yang juga adalah kakak kelasku di SMA Kolese De Britto, Lexy Rambadetta dalam channelnya, Jakartanicus ini, Anies secara runut menjelaskan kenapa ia memilih Jokowi ketimbang Prabowo, orang yang justru lantas mendukungnya?untuk maju ke dalam Pilkada DKI Jakarta dan menang melawan Ahok, April 2017 silam!

Bangga menjadi orang Indonesia adalah bangga mendukung Jokowi!

 

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.