Saya benci lip synch/playback. Anda?

21 Jul 2010 | Cetusan

Entah bagi kalian, tapi bagiku melihat seorang penyanyi / sebuah grup band yang tampil di layar kaca membawakan lagu andalannya dalam lip synch/playback mode adalah sesuatu yang menyebalkan. Bagiku itu tak ubahnya seperti melihat pertunjukan boneka di Ancol yang dengan mulut megap-megap pura-pura bernyanyi dan tangan musisinya sok sibuk menabuh instrumen padahal semua suara yang keluar tak lebih dari sebuah cakram pemutar musik yang diputar dan diperdengarkan keras-keras.
Barangkali ada yang protes kenapa aku membencinya? Demikianlah di bawah ini alasan-alasanku:
Perampasan proses pengayaan interpretasi karya musik
Sebuah lagu, meski dibawakan oleh orang yang sama tapi pada waktu yang berbeda harusnya membawa kesan yang berbeda pula bagi pendengarnya. Hal ini merunut pada hukum alam bahwa tidak ada satupun yang sama meski keduanya identik, dan dalam dunia seni, sejauh dilakukan dengan ‘hati’, perbedaan ini justru akan memperkaya interpretasi orang terhadap karya musik itu sendiri. Sebagai pecinta live music, hal tersebut adalah yang paling kutunggu.
Contohnya kuingat betul waktu Slank manggung di Jogja tahun 94 (Damn! So longgg ago!) silam dan tiba di lagu Reaksi Kimia yang menawan itu, tiba-tiba di atas panggung dihadirkan seorang peniup flute dan jadilah lagu itu terdengar sangat jauh berbeda dengan versi rekaman aslinya.
Atau, simaklah bagaimana Bono (U2) memberikan snippet (imbuhan di bagian akhir) pada With or Without You ketika manggung di Slane Castle, Dublin, 2001, kata-kata seperti, “Yeah, we’ll shine like stars in summer night… we’ll shine like stars in winter night… one heart, one soul…” Hal itu sangat menggairahkan karena tak kita temui di lagu With or Without You versi rekaman yang ada di album Joshua Tree.
Sayangnya, teknologi lip synch/playback menghilangkan semua itu.
Hak untuk merasakan ‘gregetan’ dan ‘terkejut’ pada setiap perbedaan interpretasi karya seni yang mungkin dihasilkan terampas begitu saja karena semua suara hanya bersumber dari cakram yang sama yang
telah dipersiapkan jadi sebelumnya…
Cara mudah menjadi Penyanyi/Band rekaman!?
Playback/lip synch mau tak mau juga turut membuat persepsi baru yang beredar bahwa menjadi penyanyi atau group band rekaman itu mudah!
Mereka seperti tak perlu lagi menguatkan skill musik terkait dengan live performance karena semuanya tergantikan dengan lip synch/playback. Tinggal bagaimana mempersiapkan kostum, mengarang ide koreografi serta menjaga kemulusan kulit dan kesehatan rambut saja untuk menjaga penampilan.?Salah? Tidak, tapi pertunjukan musik kan bukan fashion show! :)
Ongkos Produksi minim, ‘value’ panggung menyusut
Bagiku, seni itu harus mewah demi menjaga persepsi bahwa seni itu adalah semua yang bisa diberikan untuk keindahan.
Jadi, kalau ada alasan bahwa menghadirkan teknologi playback itu memangkas ongkos produksi, alangkah memprihatinkannya pendapat tersebut.
Atas nama seni, acara-acara berbiaya rendah (namun tetap mengharapkan tayangan iklan yang optimal) tersebut harusnya ditutup dan digantikan dengan pemutaran video klip saja. Lebih mudah dicerna, tak perlu dicerca dan jelas tak menciderai ‘perasaan’ seni itu sendiri toh?
Ah, tiba-tiba aku jadi rindu acara-acara semacam MTV Unplugged!
Acara dimana bahkan seorang legenda Kurt Kobain (Nirvana) pun dibiarkan melakukan ‘kesalahan’ pengambilan nada dasar demi menegaskan karya musik mereka adalah karya manusia bukan robot atau teknologi yang bernama digital.

Sebarluaskan!

25 Komentar

  1. Yoih, lip sync sux!

    Balas
  2. agree!! acara musik di Indonesia di Dominasi dengan Penyanyi yg jago Lip sync doank..bikin kecewa penonton ..
    ini banyak terjadi di Indonesia saja apa di Luar negeri jg ya?

    Balas
    • Rasanya ia … mengingat ams DV sampai memposting yang seperti ini… beliau kangen Unplugged

      Balas
  3. Kalo band2 Indonesia sih (terutama band2 gurem), udah lip-sync aja sering masih jelek kok sound & style-nya. Gimana kalo beneran live? :mrgreen:
    Tapi memang sudah harus ada undang2nya di Indonesia yang melarang artis tampil lip-sync. :cool:

    Balas
    • Banyak ngejar setoran tampaknya.. makanya merelakan ‘hilangnya’ greget

      Balas
  4. kyknya tergantung juga sama technik pas di acara tsb yah? kadang kan ada yg gak memungkinkan untuk bisa tampil live dng bagus..tapi banyakan juga emang dasarnya artisnya yg gak pede utk nyanyi live… tergantung juga mungkin lagi nyanyi lagu apa..misalnya kyk britney spears/pink gitu yg banyak dancenya denger2 mereka lip synch krn mereka kan lompat2 gitu dancenya, tp begitu lagunya slow mereka live.
    paling sip emang michael jackson deh…mau dance juga dia tetep live nyanyinya :)
    untung aku sempet nonton konsert terakhirnya di eropa…jaman dulu bgt…kalo kata anakku, jaman tahun seribu sembilanratusan hehehehehe

    Balas
  5. Aku juga sebel penyanyi mangap-mangap doang gitu, udah gitu gitarannya cuma akting…ah menyebalkan…
    Ada beberapa grup band yang udah punya nama yang menolak teknik ini, dan aku salut… mereka nggak latah ikut begituan…

    Balas
  6. Problemnya televisi juga gak mau repot sih…taruh misalnya acara musik pagi yang sering tayang sekitar jam 8 pagi. Kalau mau live berarti harus set alat dan sound check, yang membutuhkan waktu sekitar dua jam sebelumnya. Berarti mereka sudah harus siap jam enam pagi. Ini baru satu artis! Di acara itu biasanya tampil tiga atau empat artis sekaligus dalam satu hari.
    Untuk bisa siap di sound check jam enam pagi, berarti orang teknik dan panggung harus mulai menyiapkan dua jam lagi sebelumnya yang berarti jam empat pagi. Dan sepertinya televisi tidak siap dengan hal ini. Karena mereka memang bukan televisi yang konsentrasi dibidang seni musik.
    Karena itu pula akhirnya para artis didorong untuk Liyp synch. Dan kalau band yang menolak dan ngotot tampilan live macam Padi yah gak akan pernah dipake sama acara televisi. Hasilnya makin banyak band yang memilih untuk lip synch saja… :D

    Balas
  7. Setuju deh, live concert biasanya banyak banget re-arrangement nya yang bikin kita terbuai apalagi kalau itu lagu favorite kita. Dirubah sedikit, langsung heboh banget rasanya :))
    Btw, waktu kamu sebut “Pertunjukan boneka di Ancol” itu tak pikir nyinggung masalah grup boyband “F4” itu, yang waktu ngehit meteor garden, mereka konser di ancol, taunya lipsync semua, dan aku pun tertawa terbahak2 ngelihat sepupuku cewek yang kecewa berat setelah bela-belain ke Jakarta buat liat mereka nyanyi, lol….

    Balas
  8. Lip synch membuat orang malas menambahi “bumbu” untuk karya mereka yang sudah jadi, Ya Don?
    Sepakat denganmu, aku ga suka pertunjukan Lip synch. Hm..jadi pengen muter lagu Slank..

    Balas
  9. jujur saja ya, walaupun belakangan ini sudah tahu kalau acara musik live di tipi2 nasional adalah “nyanyi boongan” tapi saya baru tahu istilahnya.
    saya sebenarnya juga tidak suka menonton mereka menyanyi yang menurut saya membohongi penonton itu. Kayaknya masih mending karaoke aja.
    dan saya setuju ide diatas, acara itu lebih baik diganti dengan acara klip lagu-lagu saja, kayaknya lebih adil dan jujur.

    Balas
  10. Ada 2 sudut pandang.
    1) dari sisi penyanyinya, tentu akan terkurasnya tenaga vokal. Bisa berakibat menurunya atau menggangu pita suara.
    2) dari sisi pendengar tentu kita berharap keterkejutan, yang sayangnya amat jarang bisa dinikmati kecuali pada konser konser besar..
    After all saya sepakat, tepatnya saya setuju..saya kangen Unplugged

    Balas
  11. yah bagiku yang suka pake lipsynch bisa memposisikan dirinya menjadi penyanyi kelas bawah lah di bandingkan penyanyi lain…salah sendiri mau…heee

    Balas
  12. Saya membayangkan Donny lagi kesel…tapi memang menyebalkan sih, lha kita kan inginnya menonton mereka untuk menyanyikan lagu beneran….kalau cuma mangap-mangap (pinjam istilah Nana)…lha ngapain pake panggung yang gemebyar….

    Balas
  13. ada beberapa faktor sbnrnya kenapa penyanyi ngelakuin lip synch..
    1. kadang jadwal manggungnya padat banget sampe nguras suara. bayangin, kalo sehari manggung tiga kali, di acara ketiga si penyanyi pasti suaranya udah abis. di sinilah harusnya management pinter2 ngatur jadwal. tapi, industri seringkali ga mau peduli, kan… yang penting duit dan artis jadi sapi perah.
    2. event-nya sendiri mau neken budget. jadilah semua artis berbadut ria. tapi, ada band-band, salah satunya padi, yang ga mau lip synch. mereka ini pinter ngatur jadwal supaya suara fadli ga abis.
    3 (ini yg paling memalukan). penyanyinya memang ga layak tampil atau ga memenuhi standar. kok bisa jadi penyanyi? ya jelas, dong… kan cantik. memalukan memang, tapi nyata. temen saya kerja di label bilang gini, orang industri itu senang (kasarnya) jualan tai, tapi orang lain tetep beli. katanya, itu baru pebisnis handal.
    saya jg ga pernah suka sama band yang lip synch. menurut saya, mereka bukan seniman, tapi buruh seni. bukan menjunjung seni, tapi menjunjung duit yang ditawarkan dunia seni.. :D

    Balas
  14. Aku ya seneng lyp synch..
    kurang asik memang…
    Iya.. jd kangen MTV unplugged deh!
    Eh btw dulu gue punya kaset unplugged Nirvana itu beli skitar thn 95 kalo gak salah.. eh ada temen yg beli di thn 2000, harganya jd berkali-kali lipat lho :D pdhl keknya di toko msh ada.. embuh.. itu Nirvana Unplugged emang melegenda

    Balas
  15. Ya memang, Om. Sepertinya dalam bidang seni, apa pun itu seni, justru yang alami itulah yang menghadirkan keunikan. Sehingga, menimbulkan getaran-getaran kekayaan interpretasi dan imajinasi.

    Balas
  16. lipsync adalah penghianatan terhadap musik dan seni, ngapain juga ngadain konser kalo musiknya cuma rekaman yang tiap hari udah kita dengerin. Industrialisasi musik memang kejam, termasuk menghilangkan rasa seni dari musik. Ganyang Amrik *eh

    Balas
  17. wah, rupanya teknologi telah ikut berperan merampas kenikmatan penikmat musik, mas don, sampai2 kreativitas panggung pun bisa dimanipulasi. padahal, pinginnya nonton kreativitas spontan saat para awak musik tampil di atas panggung. kebencian mas donny sangat bisa saya pahami, hehe …. *kok jadi sok tahu saya, haks*

    Balas
  18. Hahaha… kamu bakalan kesal berkepanjangan kalau ngeliat saban hari di teve swasta Indonesia bertebaran konser2 lipsinc gituan di emperan mal Jakarta. Untungnya juga cuma di teve, jadi ya tinggal pencet tombol remote nyari channel lain.
    Denger2 Gigi, selain Slank tentunya, juga ga mau lipsinc gitu Bro…

    Balas
  19. Bagi artis profesional, sungguh nggak patut melakukan lipsinc. Menyanyi langsung, itu adalah ujian yang sesungguhnya akan kemampuan vokal mereka. Lha kalau hasil rekaman kan bisa direkayasa …
    Paling sebel kalau nonton pentas lipsinc di teve, dan pas di close up terlihat gerak bibir si artis nggak pas dengan suara yang keluar … yeah!! :(

    Balas
  20. Setuju !
    Lipsynch itu membunuh.
    Di China kan ada peraturan, kalo lipsynch di denda.
    Hhee,, kalo udah ada yang bahas ini di comment sebelumnya, berarti aku gak baca :p
    Btw DV…..
    Ini Muzda, ingat gak…?i

    Balas
  21. Hihihi, jadi inget jaman2 masih hobi dengerin Nirvana. Kalo sekarang udah jadi emak2 mah ngapalin lagu2 yang ada di VCD nya Barney :-)
    Oya, gw juga benci lip synch. Bukannya ketika tampil live mereka (band / penyanyi solo/ group) itu bisa membuktikan kehebatan suara mereka? Kalo lip synch mah semua orang yang suaranya fals di atas rata2 juga bisa

    Balas
  22. Lipsync gak lucu banget …

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.