Kalau kalian membaca tulisanku yang berjudul ?7PT ? Taat sampai mati di salib (7 dari 7 tulisan ? habis)? aku pernah menyinggung tentang bagaimana godaan setan itu bekerja. Mereka tahu apa yang kita pikirkan tapi mereka tak pernah tahu apa yang muncul dari hati kita? Dalam tulisan kali ini aku hanya ingin memberikan tekanan atas apa yang pernah kutulis, sesuatu yang tak pernah salah.
***
2005.
Sepuluh tahun silam, setelah sekitar lima tahun sebelumnya berhasil membuktikan bahwa hidup sukses itu tak harus bergelar sarjana, tiba-tiba aku berada pada satu titik dimana aku ingin menyelesaikan studiku di Universitas Kristen Duta Wacana yang terbengkalai.
Pikiran itu tercetus setelah berdiskusi dengan beberapa kerabat dan pemantiknya adalah, aku ingin melengkapi kebahagiaan orangtuaku.
Orang tua boleh bangga aku terbilang sukses dalam usia muda, tapi apakah mereka bangga dengan studiku?
Mereka memang tak membiayaiku kuliah sejak ekonomi mereka jatuh pada 1997 (simak tulisan tentangku di sini), tapi itu bukan berarti mereka tak boleh bercita-cita punya anak yang lulus sarjana.
Hal yang pertama kulakukan untuk memulai tekad itu adalah memberanikan diri untuk datang kembali ke kampus Universitas Kristen Duta Wacana dan hal itu sungguh tidak mudah!
Seperti ada beban jutaan ton saat mengarahkan langkah ke sana dan beban itu berasal dari diri sendiri. Tentang sesuatu yang seolah tak berhenti berbisik,
?Ngapain, Don? Loe kan udah sakses!?
?Dosen-dosennya masih belum bisa melupakanmu yang badung dan nakal itu!?
?Nggak malu sama rumput? Dulu kamu udah bersumpah untuk nggak bakalan kembali??
?Bukankah ijasah itu hanya kertas yang tak kalah tak berharganya dengan koran yang bisa dijadikan bungkus nasi rames pinggir jalan??
Tapi aku berhasil melawan semuanya dan akhirnya kembali ke kampus pada sebuah pagi yang ranum, datang ke loket biro dan bertanya tentang kemungkinan melanjutkan studi setelah sekian lama.
?Bisa, Don! Tapi kamu harus masuk ke jurusan lain karena jurusan Teknik Informatika sudah berubah kurikulumnya!? tutur Mbak penjaga biro yang aku lupa namanya tapi dia masih ingat padaku.
Wah! Penjelasan itu seolah menambah setengah kuintal dari beban yang semula sudah kulepas satu-per-satu.
Aku sempat berpikir untuk benar-benar membuang angan menjadi sarjana tapi aku sudah terlanjur berjanji pada kerabat yang kuajak diskusi pada awalnya.
Hal ini membuatku berpikir keras, apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan tanpa harus kerepotan.
Aku lalu ingat cerita seorang kawan yang sama-sama pernah berpikir untuk apa kuliah kalau bisa sukses tanpa gelar sarjana tapi akhirnya mendadak bergelar ?S.Kom? di belakang namanya.
Segera aku menghubunginya, sebut saja Budi namanya.
?Bud, share dong gimana kamu dapet gelar sarjana??
Ia tertawa terpingkal-pingkal, ?Kenapa? Kamu tiba-tiba berpikir pengen jadi sarjana? Sejak kapan hahahaha…”
Setelah menjelaskan beberapa saat untuk memantapkannya bahwa aku datang untuk tidak dijadikan bahan tertawaan, iapun mengungkapkan jawabnya, ?Beli aja! Kamu punya uang tapi tak punya waktu, kan? Kuliah itu buang waktu jadi mending buang duit sebagai gantinya dan yang penting sarjana!?
Jawaban itu seperti menjadi secercah cahaya bagiku; mengongkosi waktu yang harusnya terbuang dengan cara membelinya? Wow sekali,kan?
Beban di pergelangan kakiku seolah-olah hilang tak berbobot bahkan ketika aku hanya membayangkannya saja…
Dari Si Budi aku mendapatkan nomer telepon orang yang bisa jadi jalan keluar untuk beli ijasah dan aku menyuruh sekretarisku untuk membuat janjian dengannya.
Waktu dan tempat yang ditentukan pun tiba.
Aku pergi ke kampus yang semula kupikir tak?kan pernah sekalipun aku rela untuk mendatangi dan sudi untuk dicatat sebagai lulusan darinya.
Tapi hati dan pikiranku sudah mantap. Persetan dengan sudi-tak-sudi itu, yang penting sarjana, yang penting lulus yang penting bergelar S.Kom!
Orang yang dimaksud si Budi ternyata salah satu dosen dan pejabat di kampus itu. Tampak dari tongkrongannya. Berkemeja halus, jas diselampirkan ke kursi kulit mahalnya, menggenggam headset yang sedang populer kala itu dan ukuran perutnya mulai melorot meski kutaksir umurnya belum jauh dari 45.
Dibawanya aku masuk ke dalam ruangannya yang salah satunya berdinding kaca dan kami bercengkrama.
Sebagai orang Jawa, tentu kami tak langsung menuju ke pokok pembicaraan, sengaja mengular berputar-putar untuk lebih menghangatkan dan mengakrabkan suasana.
?Mas Donny pasti banyak pengalaman ya menghadapi anak-anak lulusan IT?? tuturnya membuka pembicaraan. Aku memang sejak awal mengenalkan diri dan profesi serta perusahaanku; sesuatu yang ditanggapinya dengan, Oh ya? Anda salah satu pendiri dan direkturnya?
?Iya, Pak! Perjuangan mereka untuk menyesuaikan diri dengan dunia kerja. Tak mudah memang.?
?Tuntutan kurikulumnya memang begitu, Mas! Kita harus nurut, kalau mau di-improve untuk menyesuaikan permintaan dunia kerja, selain waktunya yang nggak cukup dalam satuan semester, anak-anaknya sendiri juga banyak menolak!?
Aku manggut-manggut.
Tiba-tiba, di tengah obrolan yang bertubi-tubi, mataku tak sengaja terpaku pada pemandangan di luar ruangan yang tampak dari kaca.
Para mahasiswa mengenakan kemeja yang dirapi-rapikan dan dipatut-patutkan, celana katun dan rambut yang klimis mengantri di muka pintu. Masing-masing dari mereka tampak membawa stopmap dengan warna yang senada.
Wajah-wajah mereka menyimpan gairah yang luar biasa mungkin juga karena hari itu masih terlalu pagi untuk mereka tampil dalam suasana letih dan pasi.
?Mereka pasti sedang mengantri untuk bertemu si Bapak ini untuk mendapatkan satu approval entah apa tapi aku yakin terkait dengan studinya!? batinku.
Sekonyong-konyong aku merasakan iri yang terlalu besar pada diri mereka.
Aku sukses dan kesuksesanku selalu kuatasnamakan sebagai sesuatu yang bukan berasal dari jerih payah para dosen di kampusku dulu mengajar.
Tapi aku merasa aku tak pernah seperti mereka dulu. Masa laluku di kampus terlalu singkar dan mudah. Bersinar di semester-semester awal, ekonomi papaku bangkrut lalu aku mundur dari kuliah dan mencari kerja lalu membangun usaha.
Masa-masa itu, seperti yang kulihat di kaca, seolah aku lompati, aku skip. Layaknya menikmati sebuah album musik, aku hanya menikmati lagu pertama, kedua lalu langsung loncat lagu ke empat belas!
Pada tatap lamunku di kaca itu, tiba-tiba aku mendapati diriku terpantul di sana.
Seorang pengusaha IT kenamaan dari Jogja. Punya nama dan hampir punya segalanya. Orang tua dan adikku sepertinya juga senang-senang saja. Di muka dan di belakangku, mereka kerap membanggakanku kepada para tentangga dan kawan-kawan bahwa aku sudah mentas (sudah berhasil) meski aku tak tahu bagaimana cara mereka menjawab pertanyaan, ?Donny sampun lulus tho, Mas Didiek??
Di titik itu, pada menit dan detik itu, setumpuk rencana yang telah kususun untuk membeli ijasah termasuk bagaimana nanti caranya mengelabui orang tua, adik, teman-teman dan kolegaku bagaimana caraku mendapatkan ijasah buyar mendadak.
Aku merasa seperti ada yang berujar, ?Ayo dengarkan dulu lagu ketiga, keempat? terus sampai ke tiga belas baru akhirnya ke trek empat belas, Don!?
?Hmmm, jadi bagaimana Mas Donny? Iya, itu mereka mahasiswa-mahasiswa saya yang masuk tahap akhir dan akan mengajukan berkas pendadaran ke saya??
Aku gelagapan saat si Bapak itu bicara demikian.
?Oh? hmmm?. saya sudah mantap sih Pak!?
Ia manggut-manggut.
?Jadi Mas Donny mau lulus apa mau kuliah di sini??
?Hmmm, nanti saya akan kabari. Pokoknya seperti yang saya bilang barusan, saya sudah mantap. Paling lambat senin lah!?
Aku lalu minta diri dan kamipun berpisah. Gerombolan mahasiswa yang menunggu diluar tampak semakin sumringah melihatku pergi. Dari belakang kuamati mereka sesaat, dan aku benar-benar sangat iri!
Hari itu kuingat sampai sekarang dan untuk selamanya sebagai salah satu hari yang sangat patut untuk kubanggakan.
Aku merasakan kemenangan yang luar biasa. Aku berhasil menolak rayuan setan untukku masuk terperangkap dalam kemudahan semu, membeli ijasah tanpa perlu kuliah.
Awalnya aku seperti menyerahkan diri dalam alur permainan yang telah mereka siapkan tapi ketika aku melihat persimpangan, tiba-tiba aku memutuskan untuk memilih jalur yang lain yang membuat mereka kaget dan hilang langkah.
Sebulan kemudian, dengan gagah berani aku mengundurkan diri secara resmi dari Universitas Kristen Duta Wacana karena proses studi yang kupikir akan sangat lama jika aku harus mengikuti dari awal lagi.
Aku memilih jalur pindah studi ke AKAKOM Yogyakarta dengan pertimbangan, mata kuliah2 yang pernah kutempuh di Duta Wacana masih bisa diperhitungkan untuk mempersingkat masa studiku. Tiga bulan sesudahnya aku memulai masa kuliah.
Aku berbaur dengan para mahasiswa lainnya. Masuk dari satu kelas ke kelas lain untuk mengikuti kuliah, sibuk mengerjakan tugas dan praktikum di laboratorium dan saat mengerjakan skripsi, akupun terjun dalam lautan buku di perpustakaan.
Semuanya seolah berjalan lancar selancar kalian membaca tulisan ini.
Tapi sebenarnya perjuangannya adalah hal yang sangat berat. Saat itu Aku sengaja menutupi identitasku sebagai seorang pengusaha IT dan itu adalah hal yang paling berat, menjadi sosok anonymous di tengah anak-anak yang bahkan saat mereka sedang belajar pipis dengan baik dan benar aku sudah memulai kiprahku di dunia web development di Indonesia.
Dua tahun sesudahnya, September 2008.
Satu bulan sebelum pindah ke Australia, Tuhan menggenapi perjuanganku tepat pada waktuNya. Aku lulus dengan hasil yang memuaskan.
Mengenakan jubah serta toga, membawa serta Papa, Mama dan adikku (waktu itu Joyce ada di Australia dan tak bisa pulang) ke kampus AKAKOM Yogyakarta, aku mengikuti prosesi wisuda. dengan khidmat.
Sesaat sebelum aku maju ke depan untuk disahkan kesarjanaanku, aku mencium punggung tangan Papa dan Mamaku serta memeluk mereka, ?Wes, tugasku wes rampung yo Pa, Ma. Wes tak saur lunas!?
Aku dan mereka, kami semua berkaca-kaca hingga semuanya pecah ketika namaku dipanggil sang pembawa acara, ?Saudara Donny Prima Verdian Sarjana Komputer!? aku begegas maju ke panggung meninggalkan mereka…


Tinggalkan Balasan