Santo dan santa hidup. Itulah kita seharusnya?

9 Nov 2017 | Kabar Baik

Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
(Yohanes 2:15)

Hari ini Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, menuliskan kejadian yang amat monumental dan dikenal banyak orang.

Beberapa hari sebelum diserahkan, Yesus mengusir pedagang-pedagang yang ada di Bait Suci. Iapun berkata, ?”Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

Banyak yang mengkaitkan hal ini dengan kecenderungan banyaknya pedagang di Gereja masa kini. Haruskah kita juga mengusir mereka karena mereka juga ‘mengotori’ Bait Allah?

Saranku sih jangan!
Nanti kamu dilaporkan polisi atas perbuatan tak menyenangkan. Kamu juga tak berhak mengusir karena Gereja itu bukan milikmu. Lagipula mari mulai dari diri sendiri.

Diri kita ini adalah juga Bait Allah seperti yang dituliskan Santo Paulus maka karena pada diri kita Allah bersemayam, sudah selayaknya kita menjadikan diri kita selalu kudus dan tidak ‘dikotori’ oleh hal-hal lain.

Kita harus kudus dan inilah awal persoalan. Kita kadang alergi dengan yang namanya kekudusan. Mau mencoba hidup kudus sudah dicap ‘sok kudus.’ Tapi bukankah tiada yang mustahil bagi orang yang percaya?

Apa yang kutulis di sini dan bersumber dari Katekismus Gereja Katolik bisa dijadikan referensi dasar bagaimana hidup kudus.

Dalam tataran praktek, Paus Fransiskus pada sebuah audiensi umum di Basilika Santo Petrus, Juni 2017 silam, pernah berkata bahwa menjadi kudus itu tak identik dengan doa melulu. (Sumber di sini)

Menjadi kudus berarti tetap melakukan tugas-tugas harian kita termasuk bekerja, mengelola keluarga, berdoa, dan beraktivitas lainnya. Bedanya, semua harus dikerjakan dengan keterbukaan hati kepada Tuhan. Bahkan sikap terbuka itu juga harus dijadikan landasan pada saat-saat yang secara manusiawi tak menyenangkan; sakit dan menderita.

?Dan kamu akan jadi santo!? begitu tutupnya.

Siap untuk menjadi orang Kudus? Nggak perlu pindah ke kota Kudus!

Oh ya, selain penjelasan di atas, aku menemukan artikel menarik dari situs web OMI Indonesia (Oblat Maria Imakulata) tentang sepuluh rahasia hidup suci/kudus menurut Paus Fransiskus.

Apa saja?

  1. Mengikuti Tuhan dengan segenap hati, tanpa kompromi, tanpa kemunafikan.
  2. Carilah kebahagiaan dari kasih Tuhan, bukan dari hal-hal duniawi.
  3. Selalu melayani sesama.
  4. Belajarlah menderita dengan mereka yang menderita dan bersukacita dengan mereka yang bersukacita.
  5. Menerima penderitaan dan keberagaman tanpa kebencian.
  6. Membalas kejahatan dengan kebaikan dan belas kasihan.
  7. Mengampuni dan membangun perdamaian dengan semua orang.
  8. Rendah hati dan penuh sukacita tanpa menghakimi orang lain.
  9. Berdoa
  10. Mengikuti jejak para kudus.

Sydney, 9 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.