Santai Papa? Ini meme bukan memedi*

3 Nov 2017 | Cetusan

Meme (dibaca ?mim?, tapi kalau mau baca ?meme? juga gak dilarang) menurutku adalah cara indah nan singkat dalam mengekspresikan pesan di social media.

Meme itu sederhana tapi bikin meme yang baik itu tidak mudah. Modalnya memang hanya gambar menarik dan teks pendukung yang tak kalah menariknya. Meme yang baik adalah meme yang dari paduan gambar dan teksnya mampu ?bicara? dan menarik orang dalam sekejap untuk memperhatikan lantas membagikannya. Meme yang tak baik harus terima nasib di-scroll ke atas dan terlupakan ditelan riuhnya linimasa.

Yang lebih menarik lagi, kehadiran meme yang satu bisa men-trigger terciptanya meme-meme lainnya dengan topik sama. Mereka ter-transmisi begitu saja tanpa janjian antar pembuat meme-nya, mengalir, sporadis kadang masif?

Meme kadang dijadikan sebagai tanggapan atas kejadian atau ?hot issue? yang sedang dapat tempat dalam perhatian orang.

Salah satunya apalagi kalau bukan tentang maraknya meme sebagai tanggapan atas film Pengabdi Setan. Meme bertebaran menggunakan foto ?Ibu? tokoh sentral dalam film besutan sutradara cerdas, Joko Anwar itu. Permainan kata singkat serta montase foto yang terkesan seadanya justru memuat spektrum lain yang lucu dan kadang konyol dari film ber-genre horor tersebut.

Makanya aku cukup kaget ketika ada kudengar dan kubaca orang yang ?tega? mengkriminalisasikan para pembuat dan penyebar meme terkait tokoh pejabat publik yang namanya beberapa waktu lalu banyak disorot terkait kasusnya di KPK.

Kalau dicari keabsahannya ya sah-sah aja toh ada payung hukumnya. Tapi apa perlu sih membunuh semut? Kalaupun perlu apa harus dengan bazooka? Kenapa energi tak dihabiskan untuk hal-hal yang lebih pelik untuk dikerjakan dan diselesaikan?

Takutnya kalau sampai para pembuat dan penyebar meme itu diputus bersalah, kreatifitas para kreator konten akan terberangus dan menghadirkan trauma terhadap hal yang seharusnya tak perlu dan tak boleh ditakuti yaitu kebebasan. Orang jadi takut untuk bebas, takut untuk berkreasi dan linimasa nantinya tak lagi jadi medium karya tapi lebih seperti jalan menurun di musim hujan yang licin serta berpeluang membuat celaka yang perlu dihindari.

Harapanku, Papa akan bersikap wajar dan santai dalam menanggapi soal meme ini. Kalau memang tak bisa memancing tawa atau malah bikin bete, cuekin aja memenya tinggal di-scroll ke atas. Jangan malah merasa terancam apalagi terhantui. Itu kan meme, Papa? bukan memedi*

*Memedi adalah hantu dalam Bahasa Jawa

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.