Kakak dari nenekku adalah seorang jenderal purnawirawan. Tak perlulah kusebut namanya karena memang kalian tak perlu tahu. Setelah pensiun dari militer, beliau jadi wakil rakyat menjabat sebagai Ketua Komisi X hingga dua periode, wakil dari Golkar pada saat Soeharto berjaya.
Sekarang sudah sangat sepuh usianya, mungkin sekitar delapan puluh lima tahun, terakhir bertemu dengannya adalah sewaktu ia menghadiri pesta pernikahanku di Jakarta, enam tahun yang lalu.
Suatu waktu dulu? dulu sekali, dalam perjumpaan dengannya, aku pernah bertanya begini,
?Pakde??
Aku memanggilnya demikian karena aku ikut-ikut cara orang tuaku serta om dan tanteku memanggilnya.
?Pakde kenal Pak Harto, ya??
?Ya kenal tho, Lik!? balasnya. Ia memanggilku Lik, Lilik, panggilan hangat cara Jawa untuk anak kecil, mungkin asal katanya dari ?cilik? (Kecil).
?Kenal dimana??
?Kenal di Golkar, kenal juga di militer? Dulu kan Pakde pernah satu kantor, jadi bawahannya di Solo.?
?Hmmm, kalau Oentoeng kenal juga Pakde??
?Oentoeng? Oentoeng siapa??
?Oentoeng Samsoeri, yang mimpin Gestapu (Letkol Untung Samsuri, pemimpin pasukan G 30-S)!?
?Oh, dia! Kenal juga? Dulu sering main tenis bertiga di Solo. Pakde, Pak Harto dan dia!?

* * *
Kawan, pertama-tama bersyukurlah kalian karena masih kupanggil kawan setidaknya hingga terbit tulisan ini.
Bersyukurlah juga karena pada saat tulisan ini kupublikasikan, Pemilu Presiden 2014 telah dilangsungkan. Sejauh ini, Jokowi-JK memimpin pasti meski pihak sebelah juga pasti nggak mau kehilangan muka jadi ikut-ikutan mengklaim kemenangan.
Tapi terlepas dari itu semua, selesainya Pilpres ini semoga menandai babak baru. Babak yang tidak lagi bising oleh riuh kampanye copras-capres di sana-sini.
Semoga tak ada lagi dikotomi antara ?kita? dari ?mereka?, ?kalian? dari ?kami? karena sesudah segala riuh rendah ini, kita harusnya bisa bersatu sebagai bangsa mengawal pemerintahan siapapun presidennya.
Seperti Anis Baswedan pernah katakan, ?Lawan debat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolahraga.?
Tapi pertanyaannya sekarang adalah bisakah kita benar-benar menganggap mereka itu kawan kita, dan kalian itu adalah bagian dari kami?
Katakanlah kita bisa, bagaimana pula dengan mereka? Bisakah mereka menganggap kita kawan tanpa harus menelikung di sana-sini?
Kampanye adalah cermin
Kampanye yang baru lalu, meski meriah dan menggairahkan, di satu sisi juga menjadi cermin yang mampu memperlihatkan bagaimana watak asli kawan kita.
Ada yang kreatif ada pula yang naif, menebar nilai-nilai positif tapi tak jarang yang menebar hal-hal berbau negatif. Ada yang mengusung prestasi, tapi sayangnya ada yang meletakkan kampanye pada serangan berbasis SARA.
Yang serba positif dan bersih tentu tak jadi soal, tapi bagaimana yang negatif?
Ada seorang, sebutlah Apete namanya, tentu nama samaran. Bukan kawan dan bukan pula musuhku.
Ia berprofesi guru namun perilakunya dalam berkampanye lebih buruk dari anak SD kelas satu!
Sebelum aktif berkampanye, dari gelagatnya di lini masa memang tampak ia bukan orang yang baik benar. Tapi yang amat disayangkan, ia malah menjadikan ajang kampanye untuk semakin meyakinkan publik bahwa anggapan itu benar sekaligus ia, Apete, mengolok-olok dirinya sendiri dihadapan publik.
Ia tak jarang mengunggah info yang jelas-jelas tak benar, intimidatif, berbasis SARA, kadang me-retweet foto-foto hasil editan, dan sejauh kucatat, dua kali dengan alasan lupa, Apete menggunakan akun sebuah perkumpulan blogger untuk me-retweet kampanye busuk dari capres yang dibelanya.
Dari semua itu, tak jarang membuahkan pertanyaan yang sangat dasar, ?Ini orang bego apa sinting?!?
Untung aku memutuskan untuk tak terlalu lama mengamati lini masanya, karena semakin kemari aku semakin berpikir dan bertanya-tanya bahwa hanya orang bodoh yang mengikuti percakapan orang bodoh.
Nah, pada kasus seperti si Apete itu, kalau kita paparkan kembali pada omongan Anis Baswedan dan beberapa rekan netizen senior yang sangat ?wise? untuk bisa berteman dengan mereka yang berseberangan, bagaimana kita mampu menjalin relasi dengannya?
Sanggupkah kita berkawan dengan orang yang meski kuyakin pintar tapi mau menjatuhkan kredibilitas dirinya sendiri di hadapan publik dengan melakukan tindakan-tindakan bodoh?
Sanggupkah kita berkawan dengan orang yang kasat nyata begitu culas dan tak ragu mengkhianati perkawanan meski dia selalu bilang, ?Lho, aku kan tim sukses! Setelah pilpres pasti beda lah, kita bisa berteman lagi??
Bagaimana kalau tiba-tiba setelah kita berkawan dengannya ia melakukan hal yang sama atau lebih buruk terhadap kita?
Bisa kalian bayangkan?
Bisa?
Unfriend gak berarti musuhan kok!
Jadi, kalau aku, menghadapi orang seperti Apete dan banyak kawan-kawan di belakangnya adalah unfriend! Habis perkara!
Kita memang harus tegas dan jangan pernah takut dibilang pilih-pilih dalam berkawan karena sejatinya hidup itu memang harus memilih.
Lagipula dengan tidak berteman itu sebenarnya bukan berarti kita otomatis bermusuhan. Ini mungkin susah dipahami oleh mereka yang hanya mengenal dua kata ?lawan? dan ?kawan? tapi mari simak contoh analogi yang agak ?nyeleneh? di bawah ini:
Kamu sedang antri pipis di toilet di sebuah mall. Ada sekitar lima orang di depan kamu dan ketika kamu menoleh ke belakang ada sekitar delapan yang lainnya.
Tiba-tiba seorang bapak menepuk pundakmu sambil memegang selangkangannya dan bilang, ?Dik.. maaf dik? saya boleh mendahului nggak? Bapak sudah nggak nahan nih!?
Kalau dia adalah seorang kawan, tentu kita akan bilang, ?Ah, bapak lupa sama saya? Saya kan Donny? silakan, Pak.. silakan!? Dengan ketulusan kita memberi jalan dulu kepadanya.
Tapi kalau dia bukan kawan, kita bisa meluluskan permintaannya karena iba tapi bisa juga bilang, ?Wah, maaf Pak, saya juga kebelet lagipula kalau memang benar-benar tak kuat bisa pipis di celana toh tinggal dilap atau beli yang baru!?
Kalau si Bapak marah lalu menampar kita, disitu ia telah terdegradasi sebagai musuh secara otomatis!
Kawan di muka, bisa jadi lawan di punggung kita, kenapa harus berteman?
Tapi aku tahu alam hidup di Indonesia itu kan penuh rasa ?sungkan? dan ?tepa selira?. Jadi, kadang gawal juga untuk tak menjadikan orang-orang seperti Apete itu kawan.
Kalau sudah terlanjur, hal terbaik adalah waspada terhadap perilaku mereka kepada kita terutama di belakang kita.
Coba ingat, apa yang kalian lakukan selama kampanye kemarin??Hiruk-pikuk euforianya kadang tak sengaja membuat adrenalin kita terpacu terlalu tinggi sehingga tak sadar kita kadang beropini yang terlalu menyudutkan capres sebelah sana.
Seperti yang dilakukan kawanku, Mimisan namanya, ya jelas ini samaran lagi.?Si Mimisan ini kalau nggak salah sudah dua kali nulis tentang capres ?yang itu? yang menurutku agak terlalu berani.
Anggaplah ia lantas harus berkawan dengan orang-orang sekelas Apete karena rasa sungkannya dan secara mengejutkan capres yang disudutkannya tadi benar-benar jadi presiden.
Pada awalnya mungkin, ini masih mungkin, orang-orang seperti Apete tadi merangkul Mimisan. Tapi mau sampai kapan?
Katakanlah tiba suatu waktu ketika Sang Presiden merasa sudah cukup kuat untuk menampakkan watak aslinya, Apete bisa jadi mulut yang memberikan asupan kepada telinga presiden bahwa si Mimisan itu adalah orang yang layak disingkirkan karena tulisan-tulisannya selama kampanye kemarin.
Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita harapkan dari teman? Akankah ia yang kita panggil dengan sebutan Mas dan Mbak sebagai bentuk hormat terhadap mereka yang berseberangan itu akan melindungi kita dari popor senapan dan setrum dan mau memangku kita ketika harus duduk telanjang di atas es balok semalam-malaman?
Kalian bisa bilang aku terlalu berlebihan dan mengada-ngada, tapi biarlah kisah pilu dari seorang bernama Oentoeng Samsoeri menutup tulisan ini.
Sesaat sebelum akhirnya dieksekusi mati, Oentoeng masih percaya bahwa kawan main tenisnya di Solo yang namanya Soeharto itu pasti akan menolongnya dengan setidaknya mengubah hukuman dengan cara meringankannya.
Keyakinannya semata karena ia tahu bahwa Soeharto yang waktu itu adalah Panglima KOSTRAD pun tahu rencana apa yang akan terjadi di Lubang Buaya, dini hari 1 Oktober 1965.
Sebelum diringkus untuk ditembak, ia bicara dengan Soebandrio di sel sebelahnya, ?Selamat tinggal Pak Ban, jangan sedih??
Sayang, keyakinannya berujung hampa.
Tubuhnya koyak ditembus tajam peluru yang panas pada sebuah malam jahanam di kawasani Cimahi Jawa Barat, Maret 1966. Ia meregang nyawa ketika kawan? sekali lagi, kawan lamanya tadi melaju ke tampuk pimpinan tertinggi bangsa untuk 32 tahun ke depan lamanya…
Tinggalkan Balasan