Sandiaga, Bu Lis dan User Experience Personas

20 Mar 2019 | Cetusan

Debat  calon wakil presiden (cawapres), 17 Maret 2019 lalu, tak disangka berlangsung cukup seru! Salah satunya karena Sandiaga Uno, cawapres nomer urut 2 yang berpasangan dengan Prabowo Subianto, banyak menyebut nama-nama orang yang tak dikenal. Salah satunya adalah sosok Bu Lis yang katanya tinggal di Sragen, Jawa Tengah.

Seperti dirilis Tirto.Id, kutipan Sandi tentang Bu Lis adalah sebagai berikut:

? Saya teringat kisah Ibu Lis di Sragen, di mana pengobatannya harus disetop karena BPJS tidak lagi meng-cover. Di bawah Prabowo-Sandi, kami pastikan dalam 200 hari pertama, akar permasalahan BPJS dan JKN kita selesaikan.?

Lalu pada segmen debat kedua, lagi-lagi Sandi berkata,

?Kisah yang dihadapi Ibu Lis, di mana program pengobatan harus terhenti, karena tidak di-cover oleh BPJS, itu tidak boleh lagi kita tolerir. Indonesia, apalagi akan menjadi negara yang ekonominya nomor lima terbesar di dunia tahun 2045, harus menghadirkan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakatnya,? 

personas
sumber: Tempo

Hal itu lantas menjadi viral di social media. Sandi dianggap mencomot sosok Bu Lis dan sebagainya.

User Experience Personas

Aku hendak menanggapi cara Sandi menyebut nama-nama orang termasuk Bu Lis itu dari sudut pandang bidang kerjaku selama ini, User Experience Design. Sekadar memberi latar belakang, aku bekerja sebagai Lead User Experience Designer/Consultant di sebuah perusahaan penyedia enterprise solution terkemuka di Australia.

Jurus Sandi itu dalam  dunia User Experience dinamakan sebagai Personas.

Representasi (calon) pengguna

Personas, dalam penjelasan yang kubuat tidak terlalu teknis, adalah sebuah representasi calon pengguna terhadap sebuah produk/calon produk yang didesign. Tujuannya diantaranya memberikan gambaran karakteristik calon pengguna produk serta  untuk digunakan sebagai penguji prototype produk.

Bangunan karakter dalam personas didapat dari hasil analisa pengguna/user baik secara literasi, statistik maupun wawancara langsung dengan beberapa calon pengguna/user. Namun demikian, proses penamaannya biasanya bersifat imajiner.

Berikut adalah contoh personas:

Wati, 32 tahun, ibu rumah tangga
Beranak 2. Tinggal di Jakarta.
Lulusan S1, pernah bekerja.
Terbiasa main internet untuk membaca artikel, social media dan bertransaksi online.

Maria, 63 tahun, ibu rumah tangga
Beranak 5, bercucu 12, janda.
Tinggal di Salatiga. Lulusan SMP, pernah bekerja.
Tak terbiasa main internet.

Tanto, 56 tahun, PNS.
Beranak 2. Tinggal di Soroako.
Lulusan D3, PNS.
Terbiasa main internet untuk membaca artikel dan social media.

Sosok yang bernama Wati, Maria dan Tanto adalah imajiner meski data-data karakteristik yang menempel kepada ketiganya bersifat ilmiah karena diambil dari proses analisa.

Ujicoba prototype

Lalu bagaimana cara menggunakan personas di atas?

Katakanlah seorang UX Designer/Consultant sepertiku diminta untuk membuat produk aplikasi transaksi finansial online. Ketika membuat prototype, prototype yang dibuat bisa diujicobakan secara ?imajiner? terhadap personas tadi.

Misalnya begini,

Bagaimana aplikasi itu nanti bisa dipakai seorang seperti Wati? Adakah ia akan mengalami kesulitan atau lancar-lancar saja?

Bagaimana aplikasi itu nanti bisa dipakai oleh Bu Maria? Ia tidak terbiasa main internet tapi dia ingin membeli barang secara online. Kesulitan seperti apa yang akan ditemukan saat menggunakan aplikasi itu?

Bagaimana pula ketika Tanto hendak menggunakan aplikasi ini? Bagaimana koneksi internet di Soroako? Adakah infrastruktur koneksi internet yang ada di daerah akan membuat orang merasa frustrasi menggunakan aplikasi ini nantinya?

Hasil analisa dari pengujian seperti itu akan menjadi bahan revisi/ pembenahan dalam pembuatan prototype selanjutnya,demikian terus-menerus hingga mendapat prototype terbaik yang siap diimplementasikan.

Barangkali ada yang bertanya, akan seperti apa jika tidak menggunakan persona? Jawabnya, akan lebih sulit untuk membuat pengujian imajiner seperti di atas.

Kita ambil contoh ya. Misalnya pengujian terhadap Wati.

Yang semula semudah ini,
?Bagaimana aplikasi itu nanti bisa dipakai seorang seperti Wati? Adakah ia akan mengalami kesulitan atau lancar-lancar saja??

akan jadi seperti ini,

?Bagaimana aplikasi itu nanti bisa dipakai seorang ibu rumah tangga, beranak 2, tinggal di Jakarta, lulusan S1, pernah bekerja, terbiasa main internet untuk membaca artikel, social media dan bertransaksi online? Adakah ia akan mengalami kesulitan atau lancar-lancar saja??

Panjang dan kompleks, kan?!

Supaya tampak peduli?

Maka, kembali ke Sandiaga Uno. 
Penggunaan nama-nama ?random? seperti Bu Lis di Sragen menurutku adalah cara dia untuk menyederhanakan penyampaian pesan kepada pemirsa debat mengingat waktu yang sangat sempit yang diberikan.

Kita tidak tahu siapa Bu Lis tapi kita bisa membayangkan bagaimana keadaan karakteristiknya justru dari penyampaian Sandi yang berulang-ulang. Karena dari perulangan itu Sandi menyampaikan karakteristik Bu Lis sedikit demi sedikit sehingga otak kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang Bu Lis dan orang-orang yang berada dalam grup karakteristik yang sama; ibu rumah tangga, kelas menengah ke bawah, tinggal di daerah serta butuh mengakses fasilitas publik yang disediakan pemerintah.

Mungkin juga Sandi sedang menunjukkan kalau ia peduli pada kaum marjinal seperti yang ditulis Tirto? Mungkin saja tapi itu di luar ranah pembicaraanku.

Lagipula kalaupun demikian, bagiku nggak ngaruh. Tanggal 17 April 2019 nanti tekadku sudah bulat ke yang sudah berpengalaman ajah :)

Oh ya, untuk mau lebih detil tentang UX Persona, silakan klik link di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.