Sampai kapan epic battle kecebong vs kampret akan berakhir?

30 Apr 2019 | Cetusan

Seorang kawan, pada 18 April 2019 silam? tiba-tiba berkoar di media sosial. Ia kecewa. Dikiranya riuh-rendah kecebong vs kampret akan berakhir saat Pilpres usai diselenggarakan. Tapi nyatanya, masih harus menunggu sampai pengumuman resmi KPU, 22 Mei. Itupun dengan catatan kalau tak ada pihak yang mengajukan judical review terhadap keputusan KPU lalu pergi ke Mahkamah Konstitusi (MK)? seperti yang terjadi lima tahun silam!

Lelah ‘sosial politik’

Kawanku tadi, dan kuyakin banyak di antara kita adalah contoh orang yang mengalami ?lelah sosial politik? karena panjangnya kampanye Pilpres 2019. Mereka (dan kita?) jengah, lelah dan berharap semoga pertarungan antara kecebong vs kampret berakhir secepatnya!

Tapi menurutku, fenomena kecebong dan kampret akan bertahan lama! Keduanya lahir sebagai konsekuensi logis terhadap pilihan kita untuk menggunakan sistem demokrasi.

Kecebong vs kampret, per-kubu-an abadi

Keduanya jadi representasi dua kubu besar yang saling berseberangan ditinjau dari kepentingan politik! Kalau mau diperbandingkan dengan dunia politik barat, barangkali mirip dengan eksistensi paham ?kiri? dan paham ?kanan?, paham ?liberal? dan paham ?konservatif?.

Bedanya, kalau kubu ‘kiri’ dan ‘kanan’ adalah representasi paham, kecebong dan kampret adalah representasi kepentingan kelompok.

Tak percaya, lihatlah kubu yang selama ini dianggap sebagai kecebong, ternyata pernah jadi kampret pada Pilpres 2014 silam. Sosok yang jadi komandan kampret, pada Pilkada DKI Jakarta 2012 sialm adalah jurkam dari pasangan kecebong!

credit: Jakarta Post

Kebhinekaan

Oleh karena itu yang terpenting sekarang adalah tidak berharap terlalu banyak pada hilangnya entitas kecebong dan kampret. Berusahalah mencari akal untuk bisahidup berdampingan dengan mereka.

Selain kesadaran atas adanya perbedaan menurut agama, suku dan ras maka kita perlu belajar melihat kecebong dan kampret sebagai perbedaan lain yang juga perlu kita hargai dan pahami.

Jauhkan pikiran bahwa pertikaian kecebong vs kampret itu mengancam runtuhnya NKRI. Selama kita sepakat pada rambu-rambu dalam menjalankan peran baik sebagai kecebong maupun sebagai kampret yang baik, ancaman itu semoga tidak pernah terjadi!

Perlunya kesepakatan yang harus dijunjung bersama-sama baik oleh kecebong dan kampret. Dan bila ada yang tak setuju atau melanggar ya ditindak. Hal ini bisa dimplementasikan dalam regulasi anti-hoax dan anti penggunaan isu-isu personal misalnya.

Selebihnya, mari melanjutkan hidup dalam bahagia dan sukacita!

Anggaplah epic battle antara kecebong dan kampret sebagai hiburan saat kalian tak menemukan channel hiburan menarik di televisi. Sambil menunggu munculnya spesies-spesies yang baru pada Pilkada DKI Jakarta 2022 dan Pilpres 2024 mendatang entah itu marmut, semut, ulat bulu, ikan mujaher hingga beruang madu atau jangan-jangan kutu kupret?

Sydney, 30 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.