Salahkah pindah agama karena menikah?

4 Jan 2019 | Kabar Baik

Jika kita mencermati bagaimana akhirnya dua orang pertama, Andreas dan seorang lagi yang ditengarai adalah Yohanes Rasul menjadi murid Yesus seperti ditulis Yohanes hari ini amatlah menarik.

Keduanya pada mulanya adalah murid Yohanes Pembaptis. Hingga suatu saat, gurunya tadi melihat Yesus dan berujar “Lihatlah Anak domba Allah!” (lih. Yohanes 1:36) hal tersebut membuat kedua murid tadi mengikuti Yesus.

Mengikuti di sini berarti mengendap-endap dan hal ini membuat Yesus menoleh dan bertanya, “Apakah yang kamu cari?” (lih. Yohanes 1:37) Andreas dan seorang lainnya itu lantas berterus-terang, mereka ingin tahu dimana Yesus tinggal.

Yesus mempersilakan mereka untuk mengikuti lalu kedua murid tadi tinggal bersama. Hal itu yang kemudian membuat mereka berkesimpulan bahwa mereka telah bertemu Mesias. (lih. Yohanes 1:40).

Jika kita ambil benang merahnya, Andreas dan seorang lainnya yang diceritakan di atas, mereka tidak serta-merta langsung menjadi murid Yesus. Mereka berproses secara alami, melakukan observasi mulai dari hal-hal kecil seperti dimana Yesus tinggal lantas mencoba untuk tinggal bersama.

Dari situ mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman bersamaNya yang lantas menguatkan apa yang dikatakan ?mantan guru mereka?, Yohanes Pembaptis saat ia melihat Yesus, ?Lihatlah Anak Domba Allah!? Mereka lalu berkeputusan, jadilah keduanya murid.

Dalam beberapa kali mengikuti pemberitaan tentang selebritis yang memutuskan untuk pindah agama, adalah menarik untuk mengetahui apa yang membuat mereka pindah.

Namun menurutku tak ada yang lebih menarik ketimbang mereka yang bilang bahwa keputusan untuk pindah agama terjadi setelah mereka mimpi bertemu Tuhan lewat dan ketika bangun lantas berkeputusan, ?Aku pindah agama!?

Hal itu tentu sah-sah saja, setiap orang berhak mengungkapkan pengalaman imannya dan bukankah Tuhan itu maha kuasa sehingga mungkin saja memang melalui mimpilah kuasaNya ditampakkan.

Tapi hal ini bukan berarti bahwa jika kita tidak ditemui melalui mimpi atau tidak didatangi sosok gaib maka pengalaman iman kita jadi tidak sah. Tuhan memberi kita akal dan budi untuk mengalami Tuhan justru melalui hal-hal duniawi yang kasat mata.

Pernah ada seorang kawan yang berkata jujur, ia mengenal Tuhan melalui pasangannya. Beberapa minggu sebelum menikah, ia pindah agama.

Sahkah? Sah saja! Tuhan Maha Kuasa, kan?

Aku lebih menghargai orang-orang yang jujur seperti itu ketimbang mereka yang berusaha menutup-nutupi. Kenapa mesti malu? Bukankah seharusnya kita bangga punya pasangan hidup yang menuntun kita untuk mendapatkan jalan kebenaran? Malulah justru misalnya kita mendapat pasangan hidup yang menjerumuskanmu masuk ke dalam jurang yang salah dan menjauh dariNya!

Meski untuk perkara ini  kita tetap harus berhati-hati dan memohon bimbingan Roh karena tanpaNya kita teramat sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah apalagi kalau yang menyatakan benar-salah itu adalah orang yang kita kasihi yaitu pasangan hidup kita.

Lho kok mbulet, Don??
Hahaha?hidup kadang membingungkan, dinikmati ‘ja!

Sydney, 4 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.