“Saatku nanti pulang”, behind the track

21 Mar 2018 | Cetusan

Banyak yang mengira ?Saatku Nanti Pulang? adalah lagu yang bicara tentang bagaimana aku mengenang dulu waktu pulang ke rumah orang tua di Klaten dan aku berinteraksi dengan almh. Mama yang dua tahun lalu tepat hari ini, kutemui untuk terakhir kalinya.

Padahal? Jauh dari itu.

Ide!

Ide lagu datang tiba-tiba di satu minggu saat hari masih pagi. Aku mengambil gitar kecilku, memainkannya di atas sofa menemani anak-anak nonton tv, lalu irama kutemukan begitu saja tak sampai sepuluh menit lamanya.

Ide itu langsung kurekam menggunakan Voice Memos di iPhone X ku lalu kuendapkan begitu saja? Waktu itu, Januari 2018.

Tema

Setelah sekitar seminggu kuendapkan, aku membumbui ide yang kutemukan dengan tema. Apa yang hendak kusuarakan dalam lagu itu?

Sudah lama aku ingin membuat lagu untuk kedua orangtuaku yang sudah meninggal dunia. Maka jadilah lagu itu kutulis dengan tema pada kedua almarhum orang tua.

Persoalannya kemudian, dari sudut apa aku menceritakan?

Rindu? Itu pasti tapi harusnya lagu ini tak sesempit itu.

Kehilangan? Benarkah mereka hilang? Tidak! Mereka ada dalam doa, mereka hidup dalam kehidupanku. Raganya saja yang terpendam di pemakaman Semangkak, Klaten, sana.

Kenangan? Lagi-lagi apa yang perlu dikenang kalau mereka hadir dalam hidupku tiap hari?

Aransemen

Aku tak kunjung menemukan lirik meski tema tentang kedua orang tua sudah kudapat. Untuk itu aku memutuskan melompati proses lirik dan kubikin aransemen musiknya terlebih dahulu.

Aku tak menggunakan satu alat musik pun dalam mengaransemen, aku hanya bermodalkan iPhone.

iPhone?
Yup! Aku mengaransemen lagu ini menggunakan aplikasi gratisan bawaan iOS, GarageBand namanya. Proses pembuatannya pun terjadi di atas kereta saat pergi dan pulang kerja bahkan di atas closet di malam hari.

Inspirasi aransemen lagu ini, sejujurnya, kudapat dari With or Without You-nya U2.

Lagu hits era 80an milik grup musik Irlandia itu kusuka justru karena iramanya yang ngelangut, menggantung, monoton, dan sederhana. Kenapa? Karena justru dari situ kudapatkan suasana yang mencekam nan intens. Bukannya kebetulan, irama ?Saatku Nanti Pulang? pun juga itu-itu saja.

(Aku sempat mencari inspirasi dari lagu ?Di Keheningan Malam? yang adalah OST film Penghuni Setan karena aku suka pada suasana mencekamnya. Tapi ketika kudiskusikan hal ini dengan Joyce, istriku, ia keberatan karena kerinduan dan lagu tentang orang tua yang sudah meninggal itu tak perlu mencekam tapi intens. Tak perlu gelap gulita tapi gloomy?)

Lirik

Aransemen sudah jadi tinggal membuat lirik dan ini pekerjaan yang paling berat.

Dari pertengahan Januari hingga pertengahan Februari aku mengulik lirik lagu ini. Tapi justru dari ketidakringanan itu, tema akhirnya mendapatkan kepenuhan dari lirik yang kudapat!

Tema lagu menjadi lengkap: pelukisan bagaimana aku kelak bertemu lagi dengan almh. Mama dan alm. Papa setelah peziarahan hidupku di dunia ini berakhir.

Seram?
Ah, bukankah semua dari kita pasti akan mati dan semakin hari, semakin banyak orang tua, saudara, kawan dan keluarga yang pergi mendahului, kematian bukan lagi hal yang menyeramkan. Ia justru jadi kerinduan yang kita kadang masih takut dan sungkan untuk mengungkapkannya dan itu manusiawi!

Aku membayangkan pertemuanku nanti dengan almh. Mama adalah seperti pertemuan yang dulu sering terjadi saat akhir pekan aku pulang dari Jogja ke Klaten; masuk rumah sudah disediakan teh panas dan kudapan. Untuk itulah bait pertama lagu ini tertulis:

Saatku nanti pulang
kau hidangkan teh panas dan kudapan,
pisang goreng, roti bolu, setoples emping.

Masih melukiskan tentang apa yang dulu kualami dalam setiap kepulanganku ke Klaten, bait kedua adalah kelanjutannya,

Saatku nanti pulang
kaurebus air hangat untuk mandi,
agar lelah pergi dingin terakhiri

Kami hidup sederhana. Rumah kami adalah rumah kampung dan kami tak punya instalasi air panas. Oleh karena itu, mandi air hangat adalah sebuah kemewahan karena air harus direbus dulu dan merebus air menggunakan minyak/gas yang tidak murah bagi kami saat itu.

Yang menarik adalah bagian reffrein.
Entah apa sebabnya, tapi dalam keluarga orang tuaku, interaksi fisik antar-kami tidaklah hangat. Amat jarang kami saling berpelukan, mencium pipi, mencium tangan seperti keluarga-keluarga lain dalam mengekspresikan hal. Kami lebih suka berbicara.

Oleh karena itu, lirik pada bagian reffrein adalah suasana yang tak pernah terjadi di masa lalu tapi semoga terjadi saat ?perjumpaanku dengan mereka? nanti.

Saatku nanti pulang
Kaubenamkan wajahku di pelukmu
Kauusapi rambutku, degup jantungmu menentramkanku, ku tlah ada di rumah seperti dahulu

Bait ketiga, adalah penajam tema lagu ini; bahwa ini bukan lagu tentang masa lalu tapi masa nanti. Masa setelah kematian, masa abadi yang tak lagi mengenal konsep ruang dan waktu karena keduanya telah berlalu.

Saatku nanti pulang
Tak kau tanya lagi kapan pergiku
Sbab ruang dan waktu telah berlalu.

Dari tadi menceritakan Mama, lantas dimana Papa?
Papa kuselipkan sebagai sosok ?ada pria yang bersanding di sebelahmu? yang kutulis dalam verse keempat yang sekaligus jadi penutup lagu ini.

Saatku nanti pulang
Kutemui engkau tak sendirian
Ada pria yg bersanding di sebelahmu
Ada pria yg kukenal, ialah bapakku

Kenapa aku memberi porsi sedemikian kecil pada Papa? Karena dalam prakteknya dulu, Papa memang sosok yang pendiam. Ia diam karena memberi ruang pada Mama untuk bersuara dan beraksi. Dalam pelukisan lirik, aku bukannya menganggap Papa tak ada, ia ada di sisi Mama tapi diam saja :)

Videoclip

Clip lagu ini kubuat dengan amat sederhana. Aku merekam kaki-kakiku melangkah karena bagiku selaras dengan tema ?pulang?.

Belum nonton clip dan dengar lagunya??Silakan ditonton di sini

Aku juga mengunggah di soundcloud, silakan stream atau download di sini:

Selamat menikmati!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.