Pertemanan itu tidak untuk selamanya atau setidaknya tidak semuanya bisa dijadikan teman selamanya. Ketika sudah tidak lagi compatible ya baiknya kita tinggalkan saja.
Ada seorang teman lama. Puluhan tahun lalu ketika duduk di bangku sekolah, orangnya asik meski agama kami berbeda. Tapi pas ketemu belakangan, tiba-tiba kata-katanya penuh duri dan sengatan terutama waktu bicara tentang iman. Untung ketemunya cuma online, tinggal kugeser topik dikit lalu kuputuskan untuk melipir dan kutinggal pergi begitu saja.
Ada juga kawan lain yang dulu akrab tapi sekarang menjauh hanya gara-gara merasa dirinya beda kelas denganku yang tinggal di luar negeri. Baginya, orang yang tinggal di luar negeri itu identik dengan kaya dan mapan. Ya aku aminin sih kalau dia bilang gitu sebagai doa meski pada kenyataannya, mau tinggal di luar negeri ataupun di dalam negeri ya sama saja!
Dua orang teman di atas akhirnya kutempatkan sebagai mereka yang ada dalam ‘rak’ teman lama. TEMAN. LAMA. Teman tapi ada di masa lampau bukan sekarang karena pertemanan kami sudah tidak compatible lagi. Dan karena tidak compatible ya ada baiknya diakhiri.
Di sini yang kadang jadi pembeda.
Ada orang yang merasa teman itu harus dijaga untuk selamanya. Alasannya?
“Demi masa lalu lah! Masa gitu aja trus musuhan?”
Nah, ini konyolnya!
Tidak berteman itu bukan berarti lantas bermusuhan. Tidak berteman itu bisa berarti tidak lagi berhubungan kecuali dalam hal-hal yang sifatnya penting. Aku punya teman lama lainnya yang kami berdua bersepakat untuk tidak berhubungan lagi tapi ya tidak bermusuhan. Ketika pulang ke Jogja, aku nggak ngabarin, ketika dia dan keluarga berkunjung ke Sydney, aku juga gak mengharapkan dia menghubungiku. Cukup tau lewat sosmed aja bahwa dia sedang di sini.
Tapi suatu waktu ketika tidur, aku bermimpi tentangnya. Sebagai orang Jawa, aku merasa harus menyapa (ngaruhke) untuk memastikan dia baik-baik saja. Maka pagi itu aku mengirimkan pesan singkat menanyakan apakah dia baik-baik saja. Dia menjawab, “Terima kasih. Kami baik.” Singkat, padat dan jelas … jelas kaku maksudnya hahaha
Ada juga orang yang malu-malu menyudahi pertemanan karena alasan ‘nggak enak.’
“Nggak enaklah dulu kan baik banget, kalau sekarang dia berubah ya lebih baik dimaklumin aja!“
Gak papa sebenarnya. Pemakluman adalah langkah awal tapi kalau berkali-kali kita maklumi tanpa berani menyudahi, apa wajar? Kan enggak juga.
Jadi sekali lagi, bagiku pertemanan itu tidak untuk selamanya atau setidaknya tidak semuanya bisa dijadikan teman selamanya. Ketika sudah tidak compatible ya ada baiknya kita tinggalkan saja sambil terus merawat kenangan sebagai pengalaman indah yang ada di masa silam. Gitu aja…
Tinggalkan Balasan