Saat kita merasa malas dan jemu berdoa

19 Nov 2018 | Kabar Baik

Yesus meminta kita untuk tak jemu-jemu berdoa seperti ditulis Lukas dalam Lukas 18:1. Sebagai orang beriman, pernahkah kita merasa jemu, bosan, capek dan letih dalam berdoa?

Aku sering!

Rasa jemu dalam berdoa menurutku muncul pada saat-saat tertentu. Pertama, saat apa yang kuharapkan tak terjadi atau makin jauh dari kenyataan. Kedua, saat aku merasa tak perlu berharap apapun lagi.

Hal yang pertama terjadi saat misalnya aku sedang mendoakan seseorang yang sedang sakit. Tiap malam berdoa semoga si sakit disembuhkan. Tapi alih-alih sembuh, yang kita terima justru sebaliknya, sakit makin berat dan kata dokter dalam hitungan hari ia akan meninggal dunia! Secara manusiawi kita akan jadi merasa tak ada gunanya lagi berdoa. Untuk apa toh mati juga?

Hal yang kedua sepertinya lebih menarik untuk dibahas karena kita perlu mengenali kapan sih kita merasa tak perlu berharap? Kita merasa tak perlu berharap saat kita tak percaya lagi akan adanya harapan. Misalnya ya seperti yang kutulis barusan di atas, saat si sakit yang kita doakan tak kunjung sembuh dan malah memburuk, harapan pun surut. Tapi tak hanya itu saja! Kadang kita merasa tak perlu berharap apa-apa saat semuanya kita pikir justru sudah tercukupi! Dan ini yang menurutku membahayakan! Aku pernah terjebak dalam keadaan tersebut, tak perlu berharap apapun karena merasa hal-hal yang kuperlukan telah tercukupi.

Misalnya saat kawan-kawanku berharap untuk membeli mobil tertentu atau laptop terbaru atau apapun itu. Sebagai orang yang merasa sudah beriman, aku tak merasa butuh memiliki barang-barang idaman tadi. Nah, karena tak merasa butuh lagi, tak perlu berharap mendapatkan aku lantas merasa ogah berdoa!

Sepertinya ini tak masuk akal, tapi aku pernah dan sering mengalaminya.

Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Agar kita tak jemu berdoa, kita harus menempatkan makna doa lebih dari sekadar memohon dan meminta barang/keadaan yang kita inginkan/butuhkan! Doa harus diletakkan dalam kerangka yang paling dasar sebagai sarana komunikasi kita dengan Allah. Komunikasi itu tak melulu harus bermuatan permintaan, bahkan sekadar untuk menyapa dan berterima kasih atas nafas yang kita hirup, itupun menurutku sudah masuk dalam kategori ?doa?.

Jadi?

Coba letakkanlah barang sejenak segala pinta yang biasa kita selipkan dalam doa dan mulaikah dengan sekadar menyapa, 

?Tuhan?

Terimakasih atas segala yang telah Kau beri!? 

?dan rasakanlah perbedaannya.

Sydney, 19 November 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.