Saat kita kehilangan Tuhan

13 Agu 2017 | Kabar Baik

lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. (Lukas 1:42)

Hari ini, sebenarnya 15 Agustus 2017, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Maka Kabar Baik hari inipun mengulas tentang peristiwa Maria mendatangi Elizabeth, sepupunya, saat keduanya tengah hamil, Maria mengandung Yesus dan Elizabet mengandung Yohanes Pembaptis.

Tapi meski demikian, jika boleh memilih satu perikop Kabar Baik tentang Maria yang paling kusukai, favoritku adalah cerita saat bagaimana Maria (dan Yusuf) kehilangan Yesus.

Waktu itu Yesus masih dua belas tahun usianya dan seperti tradisi Yahudi lama, Yusuf dan Maria membawaNya ke Yerusalem untuk memperingati Paskah.

Saat kembali ke Nazareth, kota asalnya, mereka berdua tak menemui Yesus ada bersama dalam rombongan. Yang kubayangkan, Maria dan Yusuf panik lalu berputar arah untuk mencari anak semata wayangnya itu.

Seperti ditulis Lukas dalam Lukas 2:41-51, mereka berdua akhirnya menemukan Yesus sedang ada di Bait Allah, berdiskusi dengan para alim ulama.

Maria lantas menegur kepadaNya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau?”

Aku tak tahu bagaimana persisnya sikap Maria karena Lukas hanya menulis singkat tentang kejadian itu. Tapi hal ini mengingatkanku saat dulu aku kecil tinggal di kampung Tegal Blateran Klaten dan pada suatu malam aku diajak main petak umpet oleh kawan-kawan sepantaran. Mama panik karena aku tak ada di rumah. Dikitarinya kampung dan ditanya kanan-kiri tentang keberadaanku. Begitu ketemu, dengan setengah teriak, Mama berkata, Ayo bali! Bengi bengi dolan digondol Wewe mengko kowe! (Ayo pulang! Malam-malam kok main? Nanti diculik Wewe! –jw)” Wewe Gombel adalah hikayat cerita di Tanah Jawa yang kerap menculik anak-anak kecil. Telingaku dijewernya dan jewerannya itu tak dilepaskan hingga sampai masuk rumah.

Sakit? Jelas! Tapi dari kerasnya jeweran itu aku tahu betapa Mama mencintaiku sehingga iapun mencariku.

Mamaku tentu tak bisa dibandingkan dengan Maria tapi setidaknya dari peristiwa tersebut aku mendapatkan gambaran tentang betapa cintanya Maria terhadap Yesus meski ia tahu dengan kapasitasNya sebagai Anak Allah, seharusnya Maria tak perlu khawatir. Tapi di sini Maria menunjukkan kemanusiawiannya karena ia memang benar-benar manusia biasa.

Kita juga manusia biasa dan barangkali pernah ‘kehilangan’ Tuhan sama seperti Maria kehilangan Yesus. Dari Maria kita diajak untuk belajar kembali ke jalanNya, mencariNya dengan segala daya serta upaya dan penuh cinta. Meskipun saat bertemu pun kita tak bisa mendapat jaminan bahwa semua pertanyaan akan terjawab, tapi lagi-lagi Maria memberi contoh bagaimana menyimpan saja hal-hal itu dalam hati lalu melanjutkan hidup sebaik-baiknya sesuai jalur yang telah ditentukan Tuhan terhadap kita, terhadap Maria.

Salam Maria…

Sydney, 13 Agustus 2017

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Trima kasih tulisannya sangl?t bermanfaat

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.