Foto di samping adalah pemandangan yang jamak ditemui di sini. Sebuah iklan berisi ajakan menyewa apartemen secara berbagi (shared). Apartemen yang disewakan biasa terdiri dari beberapa kamar (2 – 4) namun pada kenyataannya yang disewakan bisa lebih dari angka jumlah kamar karena atas nama pengiritan, banyak yang rela tidur dan ‘berkamar’ di ruang tamu dengan sofa bed sebagai tempat tidurnya. Iklan seperti ini biasanya mudah ditemukan di areal tempat tinggal mahasiswa pendatang seperti misalnya di areal Sydney CBD yang dekat dengan berbagai macam kampus.
Kenapa mahasiswa?
Kenapa apartemen dan bukan rumah?
Rata-rata mahasiswa pendatang di sini tinggal dalam tempo kurang dari lima tahun kecuali kalau ia memang memutuskan untuk menetap di sini. Nah, tempo yang singkat seperti itu tentu akan mudah baginya untuk menyewa apartemen saja ketimbang rumah karena dari sisi efisiensi waktu termasuk biaya, tinggal di apartemen terlebih bersama-sama adalah solusi yang paling menyenangkan dan relatif ringkas untuk diatur.
Barangkali yang jadi soalan dalam tinggal bersama-sama di satu apartemen itu hanya soal bagaimana masing-masing penghuni beradaptasi satu sama lain. Idealnya sih semua penghuni datang dari satu daerah dan suku bangsa yang sama, syukur-syukur mereka saling kenal dan memiliki bahasa ibu yang sama.
Ini bukan perkara racist lho!
Tapi kenyataannya memang setiap daerah dan suku bangsa memiliki standar budaya hidup yang berbeda-beda satu sama lain. Contoh paling gampang nih, bagi sebagian orang yang berasal dari belahan dunia tertentu, buang ingus, sendawa dan kentut bukanlah hal yang menjijikkan meski sementara bagi sebagian yang lain ketiganya merupakan sesuatu yang ‘tak termaafkan’. Ada pula kebiasaan membuang riak yang nyempil di leher pada pagi hari dengan suara keras “Arghhhhh… cuhh” tapi bagi sebagian lain hal itu cukup membuat semua sarapan bisa dimuntahkan begitu saja saking jijiknya meski hanya mendengar.
“Wah kalau demikian bisa jadi perkara tinggal di apartement yang sama bagi mereka yang berjenis kelamin berbeda dan belum menikah adalah gerbang menuju pergaulan bebas!?”
Tapi bukan manusia namanya kalau ia tak mampu beradaptasi.
Apalagi di Australia, negara yang dibentuk dari berbagai macam suku bangsa, pada akhirnya membuat mereka, mahasiswa itu, membaur dan bergaul. Maka akhirnya jadilah kebanyakan iklan tawaran tinggal bersama (shared) di apartemen seperti tampak di atas jarang yang menyebutkan suku bangsa tertentu dan agama tertentu walau sebenarnya para pencari tempat tinggal itu pada akhirnya bisa menandai dari areal tempat apartement berada. Misalnya, kalau kalian cari apartemen di daerah Parramatta, maka besar kemungkinannya kita akan berbagi ruangan dengan orang-orang dari Asia Tengah dan selatan, lalu Chatswood dan Epping yang akrab dengan orang-orang Asia Timur, Northern Area yang jamak dengan orang-orang Eropa dan Jepang serta Korea dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana ‘iklan’ itu bekerja dan mendatangkan feedback dari pembaca yang berminat?
Awalnya, si pemilik iklan menempelkan begitu saja iklan itu di tempat-tempat yang mudah diakses seperti tiang lampu merah (foto di atas) atau tempat-tempat lainnya. Di situ disebutkan keterangan fasilitas yang akan didapat serta (meski jarang) batasan-batasannya termasuk ongkos sewa per minggu/dua minggu. Kalau tertarik, pembaca iklan tinggal merobek bagian suwir-suwir yang berisi nomer telepon pengiklan di bagian bawah iklan itu (apologize… ngga nemu istilah yang pas untuk ‘suwir-suwir’ dalam Bahasa Indonesia!). Ini tentu ide yang bagus ketimbang si pembaca harus mengeluarkan pena dan kertas ataupun membuka mobile-nya untuk mencatat nomer telepon (beberapa iklan yang tidak menyediakan suwir-suwir itu malah koyak karena seseorang mencoba merobek iklan untuk mendapatkan nomer telepon). Sesudahnya, si peminat menghubungi pemasang iklan untuk bertemu dan melihat apartemen. Selanjutnya mudah ditebak, kalau OK deal, kalau tidak ya nggak papa.
Ini bukan perkara racist… kenyataannya memang setiap daerah dan suku bangsa memiliki standar budaya hidup yang berbeda-beda satu sama lain.
Hal menarik selanjutnya adalah, dari sekian banyak iklan sewa apartemen yang kulihat, rasanya belum sekalipun kulihat mereka mencantumkan syarat jenis kelamin sebagai syarat utama calon penghuni yang dikehendaki. Pastinya sih ada, tapi sejauh mata memandang, aku belum pernah menemukannya.
Kenapa? Entah! Barangkali memang tak penting untuk menyeleksi calon teman penghuni apartemen dari hal “berjenis kelamin apa?”. Barangkali bagi mereka sama saja, selama mereka membayar, nggak berbuat onar dan nggak merugikan orang lain ya ‘ayo-ayo aja!’
Wah kalau demikian bisa jadi perkara tinggal di apartement yang sama bagi mereka yang berjenis kelamin berbeda dan belum menikah adalah gerbang menuju pergaulan bebas!?
Bisa jadi, sangat bisa jadi! Tapi persoalan pergaulan bebas itu sekarang konon kabarnya bukan pada jenis kelaminnya yang berbeda lagi lho. Banyak pasangan sejenis yang juga bebas-bebasan bergaul karena mereka memang memiliki orientasi seksual yang berbeda! Nah, gimana coba kalau demikian?
Kupikir semuanya kembali ke pilihan kita masing-masing. Kalau kita memang maunya bebas-bebasan, tak perlu lewat jalan menyewa apartemen bareng-bareng pun terjadilah dan sebaliknya, ketika kita memang berprinsip tak mau seperti itu ya berusahalah untuk tak terjadi dan barangkali salah satu caranya adalah menghindari sewa apartemen bareng-bareng seperti itu, kan?
Jangan pula bilang “Nah bener kan! Makanya jangan tinggal di negara barat!”
Kenapa? Karena sekali lagi, dimanapun itu selama masih berada di bawah matahari yang sama, hal buruk dan hal baik memiliki peluang terjadi yang sama besarnya entah itu di negara A maupun negara Z. Semua tinggal bagaimana kita memilih hidup… Eh satu lagi sih, hampir kelupaan, selain bagaimana kita mau memilih jalan hidup, faktor lain yang berpengaruh adalah sejauh mana kita mau blak-blakan mengakui kebejatan kita atau malu-malu menutupinya dengan pencitraan semu termasuk menggunakan tameng agama dan atas nama adat ketimuran.
Untuk yang terakhir nggak perlu banyak dijelaskan, pepatah tua bilang, Laksana sembunyi-sembunyi puyuh, kepala tersorok ekor kelihatan. Menyangka dapat menutupi kebejatan padahal orang kita toh makin lama makin pintar untuk menandai mana yang nyata mana yang tak palsu :)
Tinggalkan Balasan