Roh yang lemah lembut, Roh yang ada tapi mungkin tak kita dengarkan

15 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 15 Mei 2017

Yohanes 14:21 – 26
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Renungan

Apa yang terjadi setelah Yesus terangkat ke surga? Adakah kuasaNya menjadi ‘diskontinyu’ dan tak berkelanjutan?

Tentu tidak demikian! Kasih dan kuasaNya adalah abadi. Melalui Sang Penghibur berwujud Roh yang Kudus yang diutus Bapa dalam nama Yesus, Ia ada bersama kita.

Secara tradisi, Roh Kudus diterima setiap orang sejak ia dibaptis (Martosudjito, 2003; Maryanto, 2004; Buku pembabtisan dalam roh; Sugino, 1982) lalu dalam Sakramen Penguatan/Krisma, kita menerima curahan dalam kelimpahan yang dirasai pula oleh para murid saat Pentakosta dulu (Katekismus Gereja Katolik ? 1302)

Tapi aku sudah dibaptis dan sudah dikuatkan, kenapa aku tak merasa mendapatkan Roh Kudus, Don?

Karena roh kudus itu adalah pengajar dan pengingat seperti yang dikatakan Yesus dalam Kabar Baik hari ini, tiba-tiba yang kubayangkan adalah sosok guruku waktu SMP dulu.

Ia seorang wanita yang lemah lagi lembut tutur-katanya. Ia tak pernah kutemukan dalam kondisi marah, karena ketika ia tak suka dengan para murid, ia lebih memilih diam.

Sialnya, aku tak menganggap mata pelajaran yang diampunya itu penting. Maka, setiap kali ia mengajar, aku lebih memilih untuk banyak bicara dengan kawan sebangku.

Lalu pada saat menjelang ujian, guru yang lemah lembut itu menyampaikan kisi-kisi yang harus dipelajari, aku tak pula mendengarkannya.

Saat ujian tiba, bisa ditebak aku tak bisa mengerjakan soal-soal sama sekali. Nilaiku jeblok. Kawanku bilang, “Salahmu nggak belajar!”

“Abisnya Si Ibu nggak pernah memberi tahu apapun!” Kawan tadi menertawakanku. “Karena kamu nggak pernah mendengarkannya dan sibuk berisik dengan kawanmu! Hahaha!”

Ya! Bu Guru itu ada dan bicara tapi aku tak mendengarkannya.

Jadi kalau kamu sudah dibaptis dan sudah pula menerima Sakramen Penguatan tapi kamu tak merasakan apa-apa dari Roh Kudus itu bukan berarti Ia tidak ada karena bisa jadi Ia terus-menerus mengingatkan dan mengajarimu tentang berbagai macam hal terkait apa yang dulu diucapkan Yesus tapi selumbar di matamu terlalu besar, congek kotoran di telingaku terlalu menggumpal dan hatimu tertutup gelambir ego yang menutup pintumu untuk menerimaNya?

Luangkanlah waktu untuk tenang, untuk mendengarkan apa yang seharusnya kamu dengar dariNya, tentangNya…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.