Roh Kudus dan keegoisan kita dalam menikmatiNya

28 Mei 2019 | Kabar Baik

Dulu waktu masih tinggal di Jogja, aku punya kawan akrab, seorang stand-up comedian. Kalau kalian melihat tampang dan lagaknya, tanpa harus berkata-kata pun ia memang sudah lucu! Tak heran kalau ia pernah masuk dalam sepuluh besar finalis ajang kompetisi stand-up comedy yang diselenggarakan sebuah saluran televisi nasional.

Aku pernah bicara hati-ke-hati dengannya dan ternyata kelucuan yang ia tampilkan itu tidaklah mudah untuk didapat. Butuh usaha dan perjuangan melalui ketekunan melatih diri, riset tiada henti dan uji coba berkali-kali.

?Uji coba gimana?? tanyaku suatu ketika.
?Ya uji coba di depan audiens, apakah leluconku bagus atau tidak. Kalau mereka tertawa, berarti bagus, kalau tidak ya aku harus cari cara lain supaya bikin mereka tertawa!? jelasnya.

Menurutnya, hal tersulit adalah melucu di depan orang yang tak suka pada stand-up comedy. ?Audiens seperti itu usah ditaklukkan karena mereka memang sejak awal tidak percaya bahwa stand-up comedy itu lucu!? Sementara yang paling mudah adalah ketika melawak di depan audiens yang memang menggemari stand-up comedy.

Roh Kudus menginsafkan dunia

Hari ini, dalam amanat perpisahanNya, Yesus mengemukakan hal terkait dengan Roh Kudus.

?Aku akan mengutus Dia kepadamu!? kataNya seperti ditulis dalam Yohanes 16:7. Roh Kudus datang untuk menginsafkan dunia akan tiga hal: dosa, kebenaran dan penghakiman. (lih. Yohanes 16:8-11). ?

Kita sebagai orang Katolik yang sudah dibaptis adalah para penerima Roh Kudus itu. Permasalahnnya sekarang, hal apa yang perlu kita lakukan selanjutnya terkait dengan karunia tersebut?

Sebagaimana tertulis di atas, Roh Kudus itu menginsafkan dunia. Maka kita punya kewajiban untuk turut menyampaikan kepada dunia tentang penginsafan itu.

Dunia vs diri sendiri

Lalu apakah definisi dunia?

Dunia tak terbatas pada pagar-pagar gereja.  Dunia tak berorientasi hanya pada umat Katolik saja. Dunia adalah siapapun dan apapun yang kita temui selama kita masih bernafas dan hidup. Kepada merekalah, Roh Kudus diturunkan dan ditujukan.

Namun pada kenyataannya, banyak orang enggan untuk melayani dunia. Mereka memilih untuk melayani dirinya atau dalam lingkungan mereka sendiri, entah itu sesama umat paroki atau dalam lingkup yang lebih kecil dalam persekutuan doa dan stasi lingkungan masing-masing.

Tidak berani dan maunya nyaman sendiri

Kenapa?
Banyak alasan! Tapi jika harus menyebut dua, maka kedua hal tersebut adalah ketidakberanian dan kenyamanan diri sendiri.

Banyak dari kita tidak berani untuk melayani dunia karena takut dicap kristenisasi. Padahal melayani tidak identik dengan kristenisasi. Melayani adalah melaksanakan kasih seperti halnya kita dikasihiNya.

Kasih tidak menuntut imbalan apalagi kalau imbalannya adalah supaya orang berganti agama. Selain itu, ketidakberanian juga muncul barangkali karena seseorang takut membayangkan pahitnya penolakan. Tapi lagi-lagi, kasih tidak menuntut penerimaan, karena diterima-atau-tidak, kasih tetap harus dibagikan.

Terkait dengan kenyamanan diri sendiri, Roh Kudus, bagi sebagian kalangan adalah hal yang kalau bisa dikonsumsi untuk kalangan sendiri saja. Tak perlu dibagikan keluar yang penting kita menikmati jamahanNya.

Dalam benak orang yang seperti itu, tidak ada kamus ?mereka? apalagi ?dunia? karena yang ada hanyalah dirinya sendiri sebagai pusat dari pemuasan diri.

Orang-orang seperti itu seolah menganggap Roh Kudus adalah hal yang akan habis ketika dibagikan maka ada baiknya dinikmati sendirian. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya, Roh Kudus tidak akan habis, hidup kitalah yang cepat atau lambat akan terhabisi oleh waktu!

Apa yang kurenungkan hari ini dan mengapa aku mengemukakan cerita tentang kawanku yang stand-up comedian diatas adalah supaya kita punya semangat menebarkan Roh Kudus seperti kawanku bersemangat melakukan stand-up comedy pada audiens.

Kawanku tahu menebar lelucon bagi kalangan umum itu tidak mudah. Sebaliknya, menebarkan komedi bagi ?kalangan tersendiri? yang memang suka stand-up comedian adalah mudah. Tapi talenta yang diberikan kepadanya adalah hal yang harus disebarluaskan untuk semua kalangan apapun tantangannya. Ia berani keluar dari zona nyaman.

Maka demikianlah kita. Mari memberanikan diri dan keluar dari zona nyaman untuk menebarkan Roh Kudus bagi dunia!

Sydney, 28 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.