Robot Trading

9 Feb 2022 | Digital

Sejak beberapa waktu belakngan, pembicaraan tentang robot trading, meski tak terlalu trending tapi menyelinap senyap di antara banyak hal yang menyeruak dalam percakapan-percakapan yang ada di berbagai media.

Awalnya aku cuekin sampai akhirnya seorang kawan lama… lama sekali menghubungiku via WA dan bertanya, 

“Don!  Mau ikut bisnis?”

Sejujurnya aku agak trauma dengan ajakan seperti itu. Dulu sekali pernah juga datang orang bertanya begitu, berakhir dengan ajakan ikut sebuah bisnis nggak jelas…

Pernah juga, dan ini yang paling bikin kapok, beberapa tahun lalu ada orang yang sok ‘yak-yak-o’ nggambleh nawarin bisnis. Secara hitungan logika masuk akal makanya sempat kuseriusin banget. Tataran ‘serius banget’ bagiku itu kalau sampai hal itu memberanikanku menyisihkan waktu untuk keluargaku dan pekerjaan utamaku guna mengurus ini dan itu. Sayangnya waktu mimpi belum sepenuhnya usai dan pondasi belum rampung dikerjakan udah bubar jalan, nggak ada ujung-pangkalnya lalu menghilang begitu saja! Ya asu sih!

Jadi waktu ada yang menawari seperti itu, naluriku otomatis membangun benteng pertahanan naruto dalam sekejap, “Nggg…. bisnis apa ya?” sesuatu yang harusnya dibaca sebagai, “Nggak tertarik! Tapi sebagai kawan lama aku ingin mendengarkanmu karena itu yang kamu perlukan: didengarkan!”

Intinya invest duit, Don!
Kalau invest sekian juta, dapat untung sekian setiap harinya.

Kalau invest sekian juta lagi di atasnya, dapat untung lebih banyak lagi setiap harinya.

Kalau invest sekian lipat-lipat-lipat juta lagi di atasnya, ya tentu untungnya juga sekian lipat-lipat dan lipat lagi di atasnya..

“Kalau nggak untung?” tanyaku.

“Selama aku ikut, selalu untung sih! Cuma dua kali lost kayaknya…” kilahnya…

“Loh kok bisa?”
“Ya bisa, namanya juga bisnis ada lostnya tap…”

“Bukan.. bukan itu! Pertanyaanku justru sebaliknya, kenapa baru dua kali lost padahal kan ini bisnis katamu?” tanyaku lagi.

“Nah ini menariknya, Don! Pakai robot!”

“Oh! Robot?!?” 
“Robot yang menjalankan uang kita…” Robot yang kubayangkan adalah Robocop, Gaban, Sharivan dan yang pasti bukan Robot Gedek!

“Lalu kitanya ngapain?”
“Kita nggak ngapa-ngapain.. cuma ngitung cuan aja pokoknya! Asik, kan?!”

Aku sempat tertarik dan membicarakan ide ini dengan istri. Toh cuma sekian juta rupiah? Uang kita diamkan lalu tiba-tiba jadi banyak karena.. robot yang mengerjakan.

“Nanti kita pas pulang liburan ke Indonesia nggak perlu pusing mikir duit, Hon!” kataku meyakinkan.

Istri teryakinkan, lampu hijau dinyalakan tapi aku tak bergerak. Ide kuendapkan. Kudiamkan.

Bukan soal sayang uang, tapi soal motif dan alasan. 

Semakin lama aku hidup semakin aku merasa perlu untuk berpikir tentang banyak hal dari sisi motif sebelum akhirnya bicara di level rencana dan akhirnya pelaksanaan.

Apa motifku ikut bisnis itu?
Apa motifku berinvestasi lalu mendapatkan untung?
Apa motifku dan akhirnya, apa rencanaku dengan uang yang kudapat sedemikian banyak itu nantinya?

Semua orang, termasuk aku, butuh duit.

Apalagi di hari-hari ini, saat aku baru selesai membangun rumah dan pindahan, biaya tetek-bengek itu ada aja. Tagihan-tagihan berlomba saling berkejaran bagai anak-anak klitih memburu mangsanya!

Tapi di satu sisi, aku ini orang kuno.

Pandanganku soal uang masih sangat lawas bahwa uang itu harus dihasilkan dari kerja keras, dari jerih dan kepayahan dan dari bagaimana aku bertahan untuk berjuang menggunakan bakat atau talenta yang Tuhan berikan.

“Lho tapi dalam bisnis itu kita juga diajak untuk berjerih payah, Don! Karena selain investasi kita juga diajak mencari teman untuk jadi…”

“Jadi downliner?” potongku.
“Iya! Ya rekan bisnis lah!” kilahnya.

Nah itu dia!
Apalagi itu!
Aku sudah mencoba dan aku nggak punya bakat di bidang ‘itu’.

Suatu waktu aku datang ke rumah kawan lamaku di Klaten sana lalu setelah memberi intro basa-basi tanya kabar ini dan itu, aku menohok dengan bilang, “Kamu mau bisnis denganku?” Semua berlanjut sampai dia bilang, “Masa kamu tega jadiin aku downlinermu, Don?”

Aku terdiam!
Aku tak punya bakat untuk berkelit dari pertanyaan itu. Hatiku nanar…

Aku nggak bilang bisnis seperti itu jahat, tapi serius, aku nggak punya bakat. Lebih baik bagiku untuk berkarya membuat design bagi para klienku, sesuatu yang kutekuni sejak dua puluh tiga tahun yang lalu.

Benar, aku mungkin akan kalah kaya dibanding mereka, tapi selama ini pun tanpa harus ada kehadiran mereka dengan cuan-cuan harian mereka berkat robot trading, sudah ada lebih banyak orang yang jauhhhh lebih kaya tapi aku toh tenang saja.

Hidup ini tak mengejar kaya. 
Hidup berbahagia toh tak selalu identik dengan angka.

Tapi ini semua hanya pandangan dan pilihanku. Bagaimanapun juga aku tetap angkat topi dan menghargai orang-orang yang ikut bisnis robot trading ini. 

Sekaligus aku sangat menyayangkan ketika ada segelintir orang nyinyir membicarakan sisi negatif tentang bisnis robot trading. Coba kalau profesimu diejek dan diceng-cengin apa ya kamu terima? Kan nggak juga.

Udahlah biarin aja. Kalau kata Slank, “Asal nggak melanggar hukum biarkan saja…” 

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Closing statementnya bagus om.
    Semoga semua makhluk, hidup berbahagia.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.