Risalah Akhir Pekan XXXVI/2016

5 Sep 2016 | Risalah Akhir Pekan

Pekerjaan seolah tiada henti, dan bagaikan kentut dan tai yang saling menyertai, stress pun mengikuti.

Deadline mega proyek ini semakin dekat tapi semakin banyak pula hal yang perlu diselesaikan. Semua seolah berebut masuk ke lorong pipeline yang menyempit; bukan karena diameternya yang sempit tapi karena begitu banyak yang harus diloloskan, diselesaikan sementara dindingnya tidaklah elastis.

Risalah Akhir PekanDulu aku punya sebuah jam pasir yang kupajang di meja kerja untuk keren-kerenan saja. Setiap isi pasir kosong di gelembung kaca bagian atas, kuputar balik dengan setia.

Hingga tiba satu siang, tekanan kerja menghampiri, aku merasa waktu lah biang masalahnya.

“Kalau waktu itu lebih dari 24 jam, tentu tak kan jadi sepelik dan se-hectic ini!” Serta merta aku langsung membawa jam pasir itu ke tempat sampah untuk kubuang!

Orang-orang waktu itu menyebutku gila, dan aku menyahutnya dengan, “Belum (gila), hampir (gila) iya!”

Kenapa?
Tekanan kerja semakin terasa setiap melihat pasir meluncur turun melalui leher. Aku membayangkan butir-butir pasir itu adalah butir-butir detik dan pemandangan serta bayangan itu membuatku pening!

Kenapa gelembung kaca tak dibuat lebih besar sehingga butir-butir pasir bisa ditambahkan dan waktu pengerjaan tak sesempit dan seketat ini?

Di saat pikiran itu makin sering muncul setiap melihat jam pasir, aku berkeputusan dan keputusanku tepat, membuang jam pasir itu jauh-jauh dari pandangan atau aku jadi gila beneran!

Kini, meski tak lagi punya jam pasir (dan tak ingin lagi… please jangan coba-coba terutama untuk kalian yang bekerja di bidang IT atau lainnya yang terkait dengan proyek dan deadline kerja) hal yang kuhindari saat mengerjakan hal-hal di masa genting adalah melongok kalendar dan jam.

Hal ini membantu benar meski sebenarnya bantuan itu hanyalah ilusi.
Ilusi bahwa seolah karena aku tak menatap waktu maka waktu pun berhenti. Sama seperti bius anestesi, seolah karena kita tak merasa maka kita tak diapa-apakan oleh dokter gigi, padahal setelah anestesi habis masa kerjanya, sembilu nan ngilu yang muncul dari gusi yang habis dikerjai dentist pun tak terperi!

Tapi setidaknya aku bisa bekerja lebih tenang, tak sebentar-sebentar melongok jam. Hanya ketika melihat langit sore dari kaca ruang kerja biasanya aku tersengat, “Shit! Udah sore! Gile, cepet bener hari ini” lalu reflek mengirim pesan ke Joyce untuk bilang bahwa aku harus lembur malam ini…

Anehnya, memandang penunjuk waktu saat Jumat adalah hal yang menyenangkan dan lagi-lagi ini sebenarnya juga hanya ilusi. Ilusi bahwa sebentar lagi akhir pekan, libur dua hari sabtu dan minggu, padahal hari seninnya, seperti saat aku menuliskan semua ini, pekerjaan harus dilanjutkan kembali.

Hidup memang penuh dengan ilusi, tapi ilusi akhir pekan adalah hal yang menyenangkan.?Sabtu kemarin bangun kesiangan. Padahal weker sudah ku-stel jam 6:30 untuk menyiapkan anak-anak berangkat ke ballet class. Jadinya batal, kami lantas bermalas-malasan berempat di tempat tidur hingga hampir siang.

Perut keroncongan, kami memutuskan untuk makan besar siang itu. Makan medium rare steak sapi seberat 700gr ditemani bacon dan telur mata sapi serta kentang goreng dan sayuran membuatku semangat untuk menjalani ilusi sabtu siang itu.

Apalagi segelas wine produksi Australia Selatan yang kesohor membuat keratan daging bakar seperempat matang itu seperti menemui ‘pasangan hidupnya’…

Sesudahnya aku pergi ke acara latihan musik untuk praise and worship persekutuan doa minggu depan hingga sekitar jam 7 malam lalu kami pulang.

Keesokan paginya, kemarin, adalah Father’s Day dan seperti biasa, Kakak dan Dedek memberiku sebuah craft (kerajinan tangan) yang dikerjakan di sekolah dan dihadiahkan kepadaku untuk Father’s Day.

Kakak memberikan sebuah buku puisi dan Dedek memberikanku sebuah lukisan yang kata Joyce itu maksudnya adalah lukisan wajahku tapi yang kulihat lebih seperti dinosaurus hahahaha..

Maaf aku tak mengunggah foto-foto craft mereka karena lupa memotret kemarin.

Joyce? Ia memberiku hadiah kecupan, kartu ucapan dan… tiket konser Temper Trap yang akan mengadakan pertunjukan November nanti. Ini bener-bener sweet disposition namanya hahaha :)

Oh ya, aku ingin menampilkan carikan kertas tentang Ayah yang kudapat dari perayaan ekaristi mingguan di Gereja Paroki Epping kemarin. Seperti tahun-tahun lalu, sebelum Berkat Penutup, pastor yang memimpin acara memanggil para ayah yang hadir dalam perayaan untuk maju ke depan dan didoakan. Lalu masing-masing diberi kertas seperti tampak di bawah ini…

Risalah Akhir Pekan

Selamat menyambut Minggu yang baru, bangun dan sambut ilusi-ilusi terbarumu!

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXIII,
pada pesta nama Nabi Musa dan Santa Rosa dari Viterbo, Pengaku Iman.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.