Risalah Akhir Pekan XXXV/2015

30 Agu 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

Minggu yang lalu aku belajar tentang pentingnya jari tengah setelah sekian lamanya aku pikir, seperti yang ditayangkan di film-film, ia hanyalah piranti yang digunakan untuk ditunjukkan pada orang yang kita benci untuk kita umpat sambil teriaki, ?F*&K Y@u!?

Semua bermula dari hobi gigitin kuku. Hobi yang buruk sekali, aku tahu. Menggigit kuku lalu mengupasnya hingga pangkal. Hal ini sering kulakukan ketika stress melanda atau hanya sekadar pelampiasan iseng saat tak ada kerjaan yang lebih menyenangkan ketimbang? menggigit kuku itu sendiri!

Rabu malam ketika menghabiskan 15 – 30 menit di atas toilet sebelum mandi, aku melakukannya. Tak sadar ujung kuku jari tengah yang kugigit lalu kutarik mengakibatkan pecah permukaannya berdarah. Tak banyak darahnya, dan kuanggap sambil lalu saja karena yang begini ini sering terjadi dan jusru jadi penanda untuk menyudahi hobi gigit kuku lalu mandi.

Keesokan paginya, waktu bangun tidur, jari tengah tangan kiriku bengkak. Setiap kugerakkan, rasanya berdenyut kencang. Aku segera menebak: infeksi! Tapi itupun kuanggap biasa karena meski tak terlampau sering, setidaknya setahun sekali kejadian yang seperti ini lumrah terjadi.

Foto atas adalah foto jari tengah setelah pecah terbentur pintu kamar mandi. Foto bawah adalah foto perbandingan jari tengah tangan kanan (yang luka) dan kiri

Foto atas adalah foto jari tengah setelah pecah terbentur pintu kamar mandi.
Foto bawah adalah foto perbandingan jari tengah tangan kanan (yang luka) dan kiri

Tapi seharian itu rasa nyerinya bertahan dan ini sudah sangat tak biasa dan mengganggu!?Aktivitas kerjaku kacau. Aku tak bisa mengetik sama sekali bahkan untuk sekadar diskusi dengan rekan kerja saja, usahaku untuk menahan sakit di wajah sangat kentara.

Malam harinya, aku tak bisa tidur pulas. Badanku demam. Infeksi menjadi.?Joyce bilang beberapa kali aku mengigau mengaduh dan menangis. Ia membangunkanku dan bertanya, ?Ada apa, Hon? Ngimpi apa??

?Aku ngimpi jari tengahku diamputasi karena infeksi ini trus aku nggak bisa main gitar lagi!?

Beruntung? eh ?beruntung? malam berikutnya saat mandi, jari tengahku terbentur pintu kamar mandi dan pecahlah nanah bercampur darah bercampur air.

Rasanya? Perih. Tak terbayangkan. Tapi di satu sisi aku lega karena jari tengahku tak lagi bengkak, sekarang sudah jauh lebih baik meski rasa nyeri dan memarnya masih ada tersisa.

Dari derita sakit yang benar-benar mengganggu itu, aku belajar bahwa rasa nyeri itu adalah tandem kita selama hidup yang akan selalu ada timbul tenggelam. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Kehadirannya menjadi penanda ada yang tak beres dengan tubuh kita.

Pengalaman minggu lalu dengan luka di jari tengahku, pada titik-titik tertentu aku sampai pada titik untuk tak kuasa melawannya dan putus asa kapan akan diberi sembuh. Tapi pada fase-fase yang lain, aku mengalami penyadaran diri dan menerima kenyataan bahwa rasa sakit itu nyata, tak dibuat-buat sekaligus sebenarnya tak ada yang menginginkan kehadirannya.

Pada tahap penyadaran diri akan rasa sakit tadi, pada akhirnya aku diajar untuk lebih menghargai proses; yaitu bahwa sakit akan hilang setelah melewati proses yang makan waktu dan kesabaran.

Hal ini seolah menjadi kaitan dengan pengenalanku pada sosok Natalia Dewiyani.

Ia wanita kelahiran Jogja dan kakak dari seorang kawan lamaku sesama alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Tinggal di Melbourne, Australia, saat ini Natalia sedang menjalani kemoterapi untuk kanker yang diidapnya.

Apa yang istimewa darinya?
Di tengah ketidakberuntungannya, Natalia justru bertekad untuk tetap bahagia, membagi senyum dan pelukan untuk semua orang yang ditemuinya. Channel 7, sebuah stasiun televisi Australia memberitakannya secara nasional.

Sejak menemukannya pagi itu, aku jadi ketagihan untuk menikmati satu per satu postingan terutama video-videonya di laman Laughter with Cancer yang dikelolanya.

Kanker tentu bukan penyakit ringan; sebagian orang malah menganggapnya sebagai penanda tahap akhir dalam hidupnya.

Pada fase itu konon segala bentuk kekecewaan dan self denial/menolak kenyataan merebak dibarengi dengan pertanyaan terbesar yang tak?kan sanggup terjawab, ?Kenapa aku? Kenapa saya dan bukan orang lain yang kena??

Tapi seperti yang sering kubaca dalam kitab suci adanya istilah ?Kau ubah ratapku jadi nyanyian? demikianlah tampak yang kubaca dari jalan hidup Natalia.?Alih-alih merutuki dan meratapi nasib serta keadaannya, Natalia menyikapi hidupnya secara unik dan positif melalui tawa dan pelukan. Ia seolah ?bernyanyi? di tengah deritanya.

Mungkin ada yang berkata, ?Ah jangan-jangan ia tertawa dan meluk-melukin orang karena ia sendiri sudah stress menghadapi penyakitnya?!??Hmmmm, aku tak bisa menyalahkan pendapatmu karena barangkali kehidupan mengajarkanmu untuk selalu skeptis seperti itu. Tapi coba simak videonya yang ini…

Pesan terkuat yang disampaikan Natalia pada video itu adalah penyadaran?atas?rasa sakit yang ia terima. Ia tidak sedang melakukan penolakan/denial dari rasa sakit itu sendiri. Justru, ia mengatakan bahwa rasa sakit itu patut disyukuri karena berarti sesuatu sedang bekerja di dalam tubuhnya untuk membuatnya merasakan hal yang lebih baik lagi!

Coba juga tengok video-video lain yang ia produksi dan edarkan sendiri di laman facebook yang kushare di atas tadi. Meski menggunakan Bahasa Inggris dalam video-videonya, kuyakin kamu tak akan kesulitan untuk menerjemahkannya.

Renungkanlah video-videonya dan biarkan pikiranmu mengembara melewati pengalaman-pengalaman yang pernah kau rasakan sendiri; tentang kekecewaan, tentang kesakitan, tentang kondisi yang tak kita inginkan namun terjadi di sekeliling kita: harga-harga bahan pokok yang merangsek naik, dollar yang meninggalkan rupiah jauh di bawah, calon presiden yang kalah dan kita tak sanggup move on dari kegoblokan dan kepicikan kita? termasuk bagiku, rasa sakit yang ada di jari tengahku yang kuceritakan di awal risalah ini?

***

Sementara kebahagiaan lain yang muncul pada minggu lalu adalah karena aku menulis tentang Icun Lin.

Seperti biasa, ketika aku menulis dalam tagar ?dkk?, interaksi antara aku dengan nara sumber adalah bonus dari proses membuat tulisan yang kudapatkan!

Mengejar Icun Lin sendiri tidaklah susah karena meski kini terpisah jarak, tapi aku masih mengikuti linimasa di Facebook-nya.

Ia juga bukan tipe seniman yang angkuh dan tak tersentuh karena begitu aku menyapa lewat messenger, ia langsung membalas dengan sapaan hangat, ?Hi Bro!? dan bukannya sok lupa seperti artis yang ?sudah-sudah?.

blog_risalah35-02

Masalah timing penayangan juga aku syukuri karena waktu-waktu ini di Jogja, tempat tinggal Icun dalam beberapa puluh tahun terakhir diselenggarakan Festival Kesenian Yogyakarta, sebuah acara tahunan yang dikomandoi kawan lamaku juga, Ari Wulu dan tahun lalu kutayangkan tulisannya di sini.

Bagiku sudah saatnya FKY pun mengangkat kesenian musik berbahasa Mandarin sebagai satu kolase yang membentuk keunikan seni dan budaya Jogja. Sempat men-share tulisan interview Icun Lin ini di laman Jogja Diaspora dan semoga bisa dijadikan pertimbangan untuk mengundang seniman pengusung musik berbahasa Mandarin pada FKY tahun yang akan datang.

 

***

Sementara itu, suhu di Sydney secara umum menghangat ketimbang pekan-pekan sebelumnya. Meski sesekali waktu, terutama saat malam, dingin kadang masih menggigit hingga ke pori-pori kulit.

Pucuk-pucuk daun serta bunga juga sudah tak malu-malu lagi untuk berlomba-lomba bermekaran meski secara aturan, musim semi baru akan masuk menggantikan musim dingin per satu september nanti.

Bagiku musim dingin yang segera akan berlalu ini amatlah mengesankan!?Ada banyak sukacita yang diberikan Tuhan untukku dan keluarga. Mulai dari kabar kesehatan Mama yang membaik, plesiran ke Canberra Juni lalu yang mengesankan dan pengalaman pertama bersinggungan dengan salju yang tak terduga di Blue Mountain Juli silam!

Tentu aku sangat berterima kasih kepada Tuhan dan berharap akan ada pengalaman-pengalaman yang unik nan menarik di musim semi ini. Ada beberapa rencana yang kusiapkan bersama keluarga, nanti pada saatnya pasti kuceritakan di sini!

Sekarang saatnya untuk memasukkan jaket-jaket tebal musim dingin ke dalam penyimpan untuk dibuka lagi tahun depan dan membuka pakaian-pakaian yang tebalnya medium untuk mulai dikenakan menyambut matahari yang bersinar lebih panjang dan hangat yang menyiratkan semangat dan harapan untuk hidup yang lebih baik lagi.

Selamat memasuki minggu yang baru. Tuhan memberkati kita dan orang-orang yang kita cintai.

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXII
Pada pesta peringatan Beato Ghabra Mikael, Martir dan Santo Heribertus, Uskup

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.