Risalah Akhir Pekan XXXI/2017

6 Agu 2017 | Risalah Akhir Pekan

 

Setelah beberapa kali muncul dengan produk mahal dan jumlah terbatas, minggu lalu Politik Merchandise berhasil mengeluarkan produk murah-meriah dengan batasan produk yang lebih longgar dari biasanya.

Tajuknya ‘Kaos Untuk Nusa’.
Ide ini muncul dari kenyataan ada beberapa orang yang dengan jujur menyatakan sangat ingin memiliki produk Politik tapi karena kemahalan mereka mengurungkan niat tersebut.

Bagiku ini tidak adil!
Make-up artist dan photographer kenamaan, Francois Nars pernah berkata bahwa setiap orang berhak untuk tampil baik dan karena design serta produk Politik Merchandise itu sudah mulai dikenal kualitas baiknya, maka semua orang sejatinya pun berhak untuk merasakan produk brand yang kubesut sejak beberapa bulan silam itu.

Meeting online digelar. Keputusan diambil. Kami merilis produk murah, Rp 100 ribu rupiah sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh pelosok Indonesia. Biasanya produk kami jual sekitar 200 ribu diluar ongkos kirim. Mahal? Jelas!

Tapi dengan harga semurah itu, bagaimana designnya? Masa kaos murah diberi design mahal?

Kami berembuk lagi dan muncul keputusan yang bernada pertanyaan, “Memangnya ada design murah dan design mahal dari orang yang berpikir untuk menciptakan produk terbaik?”

Jawabnya tentu tidak! Design yang kami buat muncul dari kedalaman hati, dikemukakan di forum, dilibas dan dikritik kanan-kiri. Tak jarang dibatalkan dan diganti yang lain hingga akhirnya disetujui. Dengan metode penyaringan seperti itu, bagaimana mungkin menciptakan sebuah design mahal dan design murah?

Jadi? Designnya tetap harus mahal!

Lalu apa yang di-murah-kan? Bahan kaosnya! Kualitasnya bukan yang terburuk tapi tentu tak lebih baik dari yang biasa kami pakai untuk dijual dalam kelas ‘premium and limited product’.

Deal! Nah, karena tahun ini adalah ulang tahun Republik Indonesia k-72, maka kami merilis 72 kaos banyaknya!

Pengumuman digelar dan yang beli bejibun. Hingga tulisan ini kumuat, jumlah kaos tersisa tinggal lima lembar yang belum bertuan atau dengan kata lain 67 kaos sudah ludes terjual!

Bisnis, bagiku memang tak melulu soal bagaimana membuat keuntungan itu berbiak secara eksponensial! Kalau mau seperti itu tinggal pelihara tuyul atau jadilah rentenir, habis perkara!

Bisnis itu soal seni dan soal etika. Bagaimana menunjukkan sikap tanggung jawab moral terhadap produk yang kita gelar dengan mengindahkan aspek keadaan sekitar termasuk masukan dari orang-orang yang merasa ingin tapi tak bisa, mau tapi belum mampu!

Para pebisnis kuno akan menganalisa hal itu sebagai sebuah kewajaran, “Salahnya kere! Salahnya nggak punya uang!” dan pebisnis seperti itu biasanya memang cepat kaya.

Tapi aku pebisnis milenial! Analisaku adalah seperti yang tertuang di atas. Masalah seberapa cepat kaya, bagiku aku tetap yang paling cepat kaya dibandingkan para pebisnis kuno tersebut.

Kenapa aku bisa se-pede itu? Karena saat aku berpikir, mendiskusikan, berproses lalu merilis produk murah meriah itu aku sudah merasa sangat kaya! Bagiku kekayaan tak melulu berupa doku tapi juga hati yang terhangatkan oleh kerja Roh Allah dalam diri yang membuatku berpikir dan bertindak merilis Kaos Untuk Nusa sebagai jawaban bagi mereka yang ingin tetap tampil keren tapi nggak mahal-mahal amat!

Selamat menjalani minggu yang baru, Tuhan berkati!

Dipublikasikan pada hari Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
pada pesta nama Santo Herman(us), Pengaku Iman serta dalam rasa turut kehilangan atas wafatnya Ibu Estherina Harmini, Ibu dari adik iparku Ayok Prabowo. Sugeng tindak, Bu!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.