Risalah Akhir Pekan XXXI/2016

1 Agu 2016 | Risalah Akhir Pekan

Minggu kemarin adalah another big week dalam hal pekerjaan.

Aku ditempatkan di sebuah proyek besar terkait dengan salah satu instansi pemerintah di sini dan punya tingkat kepentingan yang luar biasa tingginya: sistem tak boleh mati sama sekali selama proses migrasi apalagi saat sudah rilis nantinya.

Hal yang lebih menyulitkan adalah, kami tak mendapatkan satupun clue daftar project requirement yang jelas dan ini membuat kami seolah berjalan dalam gelap. Bukannya takut nyasar, tapi setiap menit waktu yang kami habiskan harus bisa dipertanggungjawabkan jadi kami harus berhati-hati benar.

Aku sempat mengeluh ke Joyce jumat malam tentang hal ini dan satu hal yang menenangkan sekaligus jadi pompaan semangat adalah tanggapannya. Begini katanya, “Kalau nggak menantang dan nggak sulit, masa sih perusahaan bayar kamu mahal?”

***

Punggungku ‘kena’ lagi, lebih tepatnya punggung bagian atas lalu menjalar hingga leher.

Hari selasa lalu aku nge-gym dan ada sebuah exercise yang membuatku cedera otot. Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak, leher hingga ke pundak serta punggung sakitnya ampun-ampunan.

Keesokan harinya sepulang kerja aku memutuskan pergi ke chiropractor langgananku, Vincent namanya. Ia lahir di Vietnam meski karir membawanya ke Inggris, Amerika lalu menetap di Australia.

Vincent jugalah yang sekitar dua tahun lalu memberitahuku bahwa tulang belakangku bengkok ke kanan lima derajat dan aku harus berhati-hati benar dengan hal itu. “Sekarang tak jadi soal, tapi kalau kamu mencapai umur 80 tahunan, bengkoknya bisa mencapai 25 – 30 derajat, kamu harus operasi dan itu bisa mengancam hidupmu.”

O well, hidup memang selalu penuh ancaman, kan?

Sore itu, setelah memeriksa, Vincent berkata kali ini gangguannya bukan dari tulang belakang tapi ini adalah cedera otot. Ia memijat sebentar lalu menyarankanku untuk menggunakan dudukan laptop yang membuatnya bisa sejajar dengan mata saat aku duduk bekerja. “Kamu juga harus banyak gerak selama bekerja supaya posturmu nggak terkunci dan jangan berhenti berolah raga!”

Ya sudah aku nurut saja. Keesokan paginya aku beli dudukan laptop dan external keyboard. Benar yang dibilang Vincent, kini aku tak perlu membungkuk atau menunduk untuk bekerja karena laptop bisa ku-stel sesuka hati mau setinggi apa dudukannya.

Risalah Akhir Pekan

Dudukan laptop dan keyboard baru. Abaikan betapa berantakannya mejaku ya hahaha

***

Minggu kemarin juga membahagiakan karena beberapa nara sumber yang kudapuk untuk kumasukkan menjadi tokoh muda Jogja edisi 2 menyatakan kesanggupannya. Beberapa bahkan sudah tak sabar untuk kuwawancarai padahal aku belum menyiapkan pertanyaan-pertanyaan. Aku memang cukup serius dalam menyusun daftar pertanyaan semata karena aku tak mau bertanya hal-hal yang sifatnya ‘ecek-ecek’ nan sepele yang mengingatkanku pada bagaimana majalah-majalah gaul remaja saat aku remaja dulu, medio 90an, meng-interview tokoh.

Satu tokoh muda yang sudah kukontak dan akhirnya kuwawancarai minggu lalu adalah Erix Soekamti!

Aku memang menghubunginya seminggu sebelumnya dan ia saguh untuk diwawancarai kapan saja dengan syarat melalui teleconference.

Ini adalah tantangan besar mengingat selama ini aku tak pernah menginterview narasumber dengan cara demikian.

Rabu malam akhirnya kami ber-tele conference dan dalam percakapan yang amat menyenangkan dan berjalan lebih dari satu jam itu, kami malah seperti kawan lama yang ngobrol ngalor-ngidul menggunakan kebanyakan Bahasa Jawa (ketimbang Bahasa Indonesia) dan ada beberapa sesi dimana justru ia yang bertanya kepadaku terutama terkait soal blog!

Rencananya Erix akan kujadikan Tokoh Muda pertama yang akan kurilis dalam waktu dekat. Saat ini aku masih mencari waktu yang tepat untuk mengedit hasil wawancara yang besarnya 25gb itu dan sekaligus akan menjadi wawancara pertama yang kutayangkan dalam format teleconference.

Seru? Ya jelas! Nantikan ya!

Feature image di atas adalah gambaran interviewku dengan Erix.

***

Masih terkait Erix Soekamti yang selain ngetop lewat kiprah karyanya di grup musik Endank Soekamti juga lewat DOES (Diary of Erix Soekamti), dokumentasi gambar gerak lewat kanal Youtube-nya, aku jadi tersemangati untuk menetaskan vlog pertamaku!

everything for dummies

Aku belum berani janji nanti akan seperti apa dan sesering apa panayangannya, tapi kalian bisa mulai menikmatinya di tulisan ini. Serialnya kuberi nama Everything for Dummies by DV. Aku memang mengambil tema-tema ringan karena keterbatasan waktuku untuk membuat vlog termasuk saat meng-editnya.

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XVIII,
pada pesta nama Santo Ignasius Loyola, Pengaku Iman, Beato Yohanes Columbini, Pengaku Iman, Santo Germanus, Uskup dan Pengaku Iman, Santa Eilin, Janda dan Pengaku Iman

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Aku suka pendapatmu tentang hobi itu mas
    Ketika hobi menjadi profesi karya yang kita lakukan pasti killer-nya klien ya mas…

    Wah jadi terpecut dengan istilah :hobi yang dibayar hihi…

    Balas
  2. Erix Soekamti ft Donny Verdian dalam satu frame itu… *speechless*

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.