Risalah Akhir Pekan XXX/2017

2 Agu 2017 | Risalah Akhir Pekan

Hari Minggu lalu aku diundang Mudika CIC (Catholic Indonesian Community) Newtown untuk memberikan pengajaran materi tentang Jodoh.

Topik Jodoh yang lantas ‘kuturunkan’ menjadi “Jodoh di tangan Tuhan atau manusia?” kupilih karena menurutku adalah yang paling mudah dari beberapa topik yang ditawarkan kepadaku sekaligus yang menurutku paling penting bagi mereka yang sebagian sedang dalam usia mencari jodoh dan sebagian lagi merasa sudah mendapatkan jodoh dan tinggal mencari tanggal serta hari yang baik untuk menikah.

Yang hadir empat belas orang; jumlah yang amat ideal mengingat kali itu adalah acara pertama dari rangkaian acara yang konon akan terus berkelanjutan, juga karena dengan konsep acara yang kubawakan yang lebih ke arah sharing, kalau jumlahnya kebanyakan justru takut tak terserap.

Bicara soal konsep acara, aku tak membawakan dalam wujud formal seperti pengajaran-pengajaran pada umumnya yang bersifat satu arah karena dalam acara tersebut aku membuka begitu banyak dialog dengan peserta.

Konsep ‘workshop’ juga kumasukkan. Sebagai seorang UX/UI Consultant, memimpin sebuah workshop tentu tak asing lagi dimana partisipasi peserta dalam menentukan hal-hal yang perlu dibahas amat penting.

Terlebih karena acara diadakan pada pukul 2 hingga 5 sore, hanya beberapa saat setelah peserta disuguhi hidangan makan siang, perjuangan mereka yang terutama kutahu betul bukan bagaimana menyerap materiku tapi bagaimana untuk tetap sadar dan tak tertidur selama acara.

Joke-joke yang kulontarkan juga berpengaruh untuk memancing bibir mereka tertawa atau setidaknya tersenyum diimbangi dengan beberapa sub tema yang nendang dan kontroversial seperti “Bolehkah menikah antar agama?”, “Pandangan gereja tentang pernikahan sejenis” hingga “Seks bebas!”, pokoknya kocak, pokoknya seru!

Dari feedback yang kuterima, mereka senang dan mengapresiasi konten yang kubawakan. Padahal kalau mau jujur, konten yang kubawakan hanya mengisi sekitar 50% dari acara karena yang 50% lainnya adalah partisipasi mereka.

Berkumpul dan berbagi pengalaman dengan rekan muda Katolik memang menyenangkan. Bukan hanya karena decak kagum dan tepuk tangan yang mereka berikan kepadaku tapi yang jauh lebih mengesankan karena aku diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi dengan orang-orang yang kelak akan jadi tombak Gereja Katolik untuk semakin diterima pada generasinya nanti.

 

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XVII,
pada pesta nama Santo Petrus Krisologus, Uskup dan Pujangga Gereja, Santo Yustinus de Yakobis, Uskup dan Pengaku Iman, Santo Abdon dan Senen, Martir, Santa Yulita dari Kaesarea, Martir dan Pengaku Iman.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.