Risalah Akhir Pekan XXV/2017

28 Jun 2017 | Risalah Akhir Pekan

Minggu lalu aku dikirim bekerja ke proyek sebuah perusahaan penyewaan alat berat dan konstruksi ternama di Australia.

Kantornya terletak di sebuah areal berjarak 40km dari kota Sydney. Dengan ber-mobil, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang 45 menit. Tak terlalu jauh sebenarnya. Jarak segitu hanya sejauh Jogja ke Delanggu atau Solo ke Pandang Simping lebih kurangnya tapi suasana yang kudapat benar-benar jauh beda.

Di Sydney aku menemui gedung-gedung baru dengan ruang-ruang kerja model milenial; activity based room yang membebaskan para pegawai untuk bekerja dimanapun, furniture-furniture minimalis yang didominasi warna kayu maple nan pucat serta stainless steel yang tegas dan ruangan berbau parfum yang cozy.

Sementara di sini yang ada gedung-gedung berwarna kusam dengan ruang kerja ala 80-90an didominasi kubikal yang menyekat satu pegawai dengan yang lainnya yang sebenarnya aku lebih senang untuk bekerja di dalamnya karena lebih leluasa untuk melakukan hal-hal personal seperti ngupil dan membersihkan sisa makanan di sela gigi tanpa takut dan gengsi dilihat orang di keliling.

Orang-orangnya juga berbeda, karakter serta pembawaannya.

Di Sydney kamu bertemu dengan banyak pekerja berdandan stylish, mengenakan earphone atau headphone segede gaban, berkacamata hitam dan berjalan lurus seolah meniti garis yang tak pernah putus.

Di sini orang-orang berdandan ‘ala kadarnya’; bercelana jeans gombrong, sepatu kets kusam dan jaket tebal pelawan hawa dingin. Tapi meski demikian mereka tak ragu menyapa sesama yang lewat semata karena tak ada ‘musik’ yang menyumpal di telinga dan tak ada lensa hitam yang menyembunyikan bola mata seperti yang dimiliki dan dikenakan ‘orang-orang kota’.

Yang istimewa adalah ruang hijaunya.
Ruang hijau di sini lebih stylish ketimbang di Sydney dan memungkinkan para pekerja untuk memanfaatkan lunch time lebih leluasa dan ‘activity based’ untuk memilih tempat dimana, di dekat telaga atau yang tak jauh dari pohon rindang yang anginnya bersemilir ditingkahi ceracau burung yang hinggap di dahan, matahari bersinar terang…

Hal ini mengingatkanku pada pekerjaan pertama yang kudapat sejak bermigrasi ke Australia 2008 lalu.

Kantor perusahaan dulu juga berada di tempat seperti ini, berjarak dari Sydney tapi berada di belahan utara sisi kota. Sebuah perusahaan majalah kecil yang kemudian tutup tak lama setelah aku pindah ke perusahaan lainnya, 2010. Hal ini mau tak mau membawaku larut ke dalam memori.

Berbagai kenangan muncul meruap ke permukaan benak seolah memintaku untuk menyapanya satu per satu dan makin lama aku menghitung lembar demi lembarnya, semakin banyak aku bersyukur kepada Tuhan betapa Ia memeliharaku dengan begitu baik selama ini.

Pada permukaan air telaga yang kudekati ketika hendak menyudahi makan siang, aku berkaca diri. Ternyata sudah cukup lama aku ada di negara ini, mendapatiku yang sekarang, yang sudah jauh berbeda dengan keadaan diri baik fisik dan mentalku saat pertama kali datang. Waktu bergulir, pohon bertumbuh, jiwa mematang…

Selamat menjalani minggu yang baru.

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XII,
pada pesta nama Santo Gulielmus, Abbas dan Santa Febronia, Pengaku Iman dan Martir.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.