Risalah Akhir Pekan XXI/2017

29 Mei 2017 | Risalah Akhir Pekan

Kalau dipikir-pikir daur hidup blog ini kadang lucu juga!

Awal-awal dulu, 2002 hingga sekitar 2008 semua tentang kehidupan pribadi, blog layaknya diary.

Dari 2008 mulai membahas permenungan (mungkin karena sudah merasa berumur waktu itu hahahah!) lalu 2011 tiba-tiba blog ini kupakai sebagai senjata untuk melawan ‘oknum buzzer’ yang cara nge-buzz produknya amat kacangan. Kawan-kawan yang sejak dulu mengikuti tentu tahu kiprahku :)

Tiga tahun silam, saat Pilpres, tiba-tiba blog ini jadi bau politik! Setahun berikutnya, karena cukup ‘eneg’ dengan bau-bau politik aku lantas mengikrarkan blog ini sebagai blog kampung. Blog yang kedap terhadap trend dan politik, blog yang ingin kembali ke sebagaimana aku ngeblog di awal 2002 dulu!

Awal 2016, mendadak blog ini jadi religius hingga kini! Aku menulis Kabar Baik setiap hari, sehari satu tak pernah berhenti dan tak satupun terlewati.

Awal 2017 kemarin sempat bimbang apalagi yang hendak kutuliskan dan… beberapa bulan kemudian semuanya terjawab! Aku tak akan bicara soal politik saja tapi akan mencakup hal yang lebih luas dari itu, kebangsaan!

Kenapa?
Aku ‘membaca’ keadaan di Tanah Air, rasa kebangsaan tampaknya mulai terkikis pada hati sebagian kecil orang. Ada kawan bercerita tentang bagaimana ia begitu dibedakan di lingkungannya hanya karena agama yang dianut dan suku yang menempel pada identitasnya. Di beberapa bagian timbul penolakan atas orang-orang yang dirasa tak segolongan dengannya.

Belum lagi soal ‘Ahok effect’ dimana orang-orang tak cukup puas ketika ia kalah dan tampaknya belum juga mencapai titik orgasme bahkan ketika manusia bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu dibui!

Lalu pada sebuah pagi saat aku berbincang dengan Joyce di sebuah coffee shop, niatku untuk menuliskan banyak hal tentang kebangsaan di sini membulat. Joyce yang selama ini tak terlalu masuk ke ‘zona per-blog-an’ ku tiba-tiba bilang bahwa aku harus ikut bersuara kalau hanya dengan itu aku bisa membantu Indonesia.

Tapi apakah topik kebangsaan itu? Apa bedanya dengan politik?

Bagiku kebangsaan adalah ketika aku memuat tulisan bernafaskan Indonesia yang ber-Pancasila, ber-UUD 1945 dan ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Kalaupun dalam tulisanku harus bersinggungan dengan aspek ‘Politik’ kuanggap itu adalah hal yang tak mungkin dihindari karena bukankah harusnya demikian?

Jadi, kalau akhir-akhir ini blog ini begitu gencar menyuarakan hal-hal terkini di Tanah Air seperti soal Ahok, harap dimaklumi, semua memang sudah kugariskan demikian.

Mungkin juga sebagai pemanis untuk politik aku juga akan mengimbuhinya dengan ‘Politik’!

Maksudnya?
Kalian tahu kan bahwa beberapa waktu silam di Facebook, aku merilis brand ‘Politik’ yang menjual merchandise khusus menyangkut tema-tema politik di Tanah Air, (oh ya, nanti kuperkenalkan secara khusus ya tentang Politik itu) nah, tulisan bertema kebangsaan adalah tema politik yang kuimbuhi dengan iklan jualan kaos dan merchandise Politik :)

Bagiku, semangat kebangsaan akan muncul ketika kita melek Politik dan kalau kita mengenakan kaos Politik, betapa kita merasa jadi lebih sebangsa?

I know yang terakhir ini agak sedikit dipaksakan dan cenderung lebay tapi anyway… selamat menjalani minggu yang baru, semangat sebagai satu bangsa, apapun ras dan agamamu!

Oh ya, rangkaian tulisan bertajuk kebangsaan itu akan kuberi label ‘Proud to be Indonesian!’?dan rabu nanti aku akan merilis tulisan pertamaku dalam label tersebut.

Dipublikasikan pada Hari Minggu Paskah VII, Hari Minggu Komunikasi Sedunia pada pesta nama Beata Margaretha Pole, Martir, Santo Wilhelmus, Biarawan, Santo Bernardus dari Montjoux, Imam , Santo Germanus dari Paris, Pengaku Iman

Foto ilustrasi adalah repro dari lukisan terakhir Myuran Sukumaran, terpidana mati kasus Narkoba yang dieksekusi akhir April 2015 silam.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.