Risalah Akhir Pekan XVI/2017

23 Apr 2017 | Risalah Akhir Pekan

Minggu kemarin melelahkan ya?

Jagoan kalah di Pilkada, hati siapa tak jadi nestapa? Jadi supaya tak makin berlarut biarlah risalah kali ini kubuat yang ringan-ringan saja!

Kalau membaca Risalah minggu lalu, kalian akan tahu bahwa aku diminta untuk bermain musik (gitar) dalam perayaan ekaristi Malam Paskah di gereja paroki setempat di sini.

Nah, tepat setelah selesai perayaan yang berlangsung tiga jam itu, saat sedang beres-beres tiba-tiba seorang yang kukenal adalah tetangga rumah mendekatiku.

“Wah, aku nggak nyangka kamu main gitarnya jago!” Aku tersenyum. “Thanks, Mate!” Kami bersalaman.

“Aku juga main gitar tapi cuma inget empat chord saja hehehe…”

“Oh ya?” Aku masih tersenyum sambil terus melanjutkan beres-beres amplifier, pedal, dan kabel-kabel untuk kumasukkan ke dalam tasku.

“Iya. Lima belas tahun lalu aku malah ikut pelayanan dalam perayaan ekaristi berbahasa China di daerah Pymble (sebuah kawasan di Sydney -red) tapi sekarang sudah nggak lagi!”

Aku manggut-manggut saja sementara di seberang, Joyce dan anak-anak sudah memberi kode supaya aku buruan beresin barang-barangnya karena hari sudah larut dan anak-anak sudah pula mengantuk.

“Kamu keberatan nggak kalau ngajari aku main gitar lagi jadi kita bisa main bareng di gereja?”

WHAT? Aku kehilangan kata-kata selain mengangguk saja.

Mungkin kalian bertanya apa salahnya untuk mengajari dia? Toh tetangga sendiri? Betul! Dan aku jadi serba salah karena kalian berpikir dan bertanya begitu.

Sejujurnya sembilan tahun tinggal di Australia telah mengubah sedikit banyak cara pandangku untuk bercengkrama dengan tetangga. Di sini tak bisa disamakan dengan di Indonesia meski yang kudengar di beberapa perumahan elit di Jakarta pun katanya seorang dengan yang lainnya nggak saling sapa dan kenal.

Kenal dengan tetangga adalah ketidakharusan di sini. Kalaupun kenal, perkenalannya sebatas pada nama, alamat email dan mobile numbernya sehingga kalau misalnya kita ingin mengajak diskusi tentang cara tamunya memarkir mobil yang tak baik, kita bisa menghubunginya. Atau kalau kita ingin memberitahukan bahwa kita tak terlalu suka dengan caranya mengadakan pesta yang hingar-bingar, kita tahu kemana email harus dikirimkan.

Perkenalan tak bisa dan tak biasa lebih dalam daripada itu. Misalnya untuk tahu siapa nama pacar anaknya, kapan anaknya akan dinikahkan, atau hal apa yang membuat hati istrinya dongkol dan bisa kita gosipkan dengan tetangga lainnya, pun tak sedalam itu!

Jadi bayangkan, untuk membayangkan aku mengetuk pintu rumahnya lalu mengajarinya bermain gitar, bukannya tak mau, tapi aku sudah lupa bagaimana cara memulai percakapan yang hangat dan berbincang dengan orang yang kenal tapi tak ‘kukenal’ lebih dari nama, alamat email dan nomer telepon tadi.

Malam itupun berlalu begitu saja dan kupikir bahwa permintaan untuk mengajarinya bermain gitar itu hanya basa-basi biasa.

Hari selasa pagi saat berjalan dari rumah menuju ke stasiun tiba-tiba pundakku dijawil.

“Donny! Jadi kapan latiannya?”
Mukaku pucat. Aku kehabisan kata-kata…

Selamat menjalani minggu yang baru. Semoga tak melelahkan lagi ya, Kawan!

Dipublikasikan pada Hari Raya Minggu Paska II/Hari Minggu Kerahiman Ilahi pada pesta nama Santo Adelbertus, Uskup dan Martir dan Santo Gregorius, Martir

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.