Risalah Akhir Pekan XLVIII/2015

29 Nov 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

blog_risalah48_02

Hari Rabu yang lalu, 25 November 2015, aku diundang berbicara jarak jauh (teleconference) dalam sebuah talk show pembekalan adik-adik kelas SMA Kolese De Britto Yogyakarta bertajuk ?Taklukkan Duniamu?

Acaranya informal dan diadakan di kafe milik beberapa alumni De Britto, Kafe Jinemji namanya. (Jinemji dalam bahasa Jawa adalah 161, nomer jalan kampus sekolah De Britto, Jl Solo 161).

Adalah Damar ?Benni?, kawan dekat seangkatan dulu, yang memintaku sejak jauh-jauh hari dan aku mengiayakannya. Seiring pengiyaan itu, akupun mulai menyiapkan materi yang hendak kusampaikan.

Ironisnya, saat aku mempersiapkan materi tentang bagaimana aku menaklukkan duniaku, kenyataan membawaku di hadapan sebuah cermin besar yang memaksaku untuk bertanya, apakah aku telah benar-benar menaklukkan duniaku?

Sebuah masalah terjadi di pekerjaan.
Belum bisa digolongkan sebagai sesuatu yang besar, tapi aku bisa merasakan hawanya. ibarat kita mendekat menuju ke pantai, angin laut yang membawa garam terendus sebagai pertanda bahwa kita tak jauh dari laut.

Kalau tak fokus, masalah itu bisa membesar dan dampaknya kukhawatirkan sama dengan yang pernah kuhadapi awal tahun ini. Persoalan yang paling mendasar adalah, aku belum tahu bagaimana cara mengatasinya.

Tapi aku kadung sudah janji pada Benni dan acara talkshow tak bisa dihentikan begitu saja, terlebih setelah e-poster seperti di bawah ini telah menyebar di Internet.

blog_risalah48_01

Aku melanjutkan persiapan materi yang hendak kuberikan. Terbayang wajah adik-adik kelas yang menatapku di giant screen, aku memutuskan harus menampakkan bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku telah menaklukkan duniaku, bahwa aku kedap masalah dan persoalan. Jagoan. Jawara!

Hari yang dinantikan tiba. Rabu silam, dan aku masih bergelut dengan pekerjaan. Hingga sekitar dua jam sebelum jadwal acara dimulai, aku masih berada di depan komputer kantor, bekerja.

Taklukkah duniaku? Kalau takluk tentu aku tak bekerja hingga larut.

Sesampainya di rumah dan bersiap di depan komputer untuk memulai acara, panitia yang salah satunya juga adalah kawan dekat seangkatan dulu, Epik/Indra Bayu, mengirim pesan,??Sabar ya! Yang datang baru sedikit karena Jogja hujan deras!?

Tapi karena sudah terlalu larut, aku mendesak supaya acara dimulai secepatnya. Kali itu Benni yang membalasnya, ?Sabar ya. Musuhmu itu alam semesta! Hujan!?

Aku menggerutu. Ngantuk, letih, dan hujan. Semua tak bisa kukendalikan. Sebuah pertanyaan menyempil keluar, ?Taklukkah duniaku??

Seperti layaknya orkestra, tiba-tiba persoalan lain datang. Aku mendapatkan notifikasi dari sistem yang kubangun di kantor bahwa ada kesalahan dalam deployment yang kulakukan beberapa jam sebelumnya.

Gila!
Hampir jam 12 malam, pikiran tertuju pada talkshow yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, lalu mendadak hujan dan kini ada issue di pekerjaan yang harus ku-fix-kan!

Segera aku menelpon anggota tim-ku untuk bersama-sama memperbaiki kesalahan. Hingga lima belas menit menjelang tengah malam, akhirnya issue kami selesaikan dan tak lama kemudian talkshow dimulai.

Dari penggalan-penggalan yang terjadi malam itu dan beberapa saat sebelumnya, pada akhirnya aku seperti dibukakan mata di depan cermin besar tadi bahwa ini bukan soal bagaimana menaklukkan dunia karena ia sejatinya tak kan bisa ditaklukkan. Ini masalah penyelarasan; bagaimana menyikapi perubahan dunia sehingga kita bisa tetap merasakan syukur atas segala yang diberikan.

Jalannya talkshow menjadi menarik. Mungkin karena aku mengesampingkan rencana menunjukkan arogansi palsu yang telah lama kusiapkan. Semua lebur menjadi dialog yang tak menggurui, dialog andap-asor yang semoga berguna untuk adik-adik kelasku itu.

blog_risalah48_03

Pada akhir talkshow yang berdurasi 45 menit itu, ketika diminta untuk menyampaikan kesimpulan dan pesan, aku berujar,?Adik-adik, kalian belajar nggak usah ngoyo dan ngotot. Nikmati masa muda dan masa SMA kalian. Belajarlah dengan gembira karena kegembiraan itu sumber segalanya.

Setelah koneksi jarak jauh kami putus, aku melipat laptop dan naik ke kamar atas saat waktu sudah menunjuk pukul satu malam.

Anak-anak sudah pulas tertidur. Kuciumi mereka satu per satu lalu akupun rebah. Malam itu, aku belajar begitu banyak hal dan aku mensyukurinya.

Tak ada yang perlu ditaklukkan dalam dunia ini.Aku hanya perlu berbahagia untuk selama-lamanya. Kebahagiaan itu lebih mahal ketimbang mars kemenangan paling megah sekalipun!

Selamat menyambut pekan yang baru. Berbahagialah

Dipublikasikan pada Hari Minggu Adven I

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Kegembiraan juga memudahkan masalah.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.