Risalah Akhir Pekan XLVI/2017

22 Nov 2017 | Risalah Akhir Pekan

Minggu lalu adalah minggu yang padat tapi menyenangkan sangat. Ada beberapa hal yang terjadi dan berikut adalah rangkumannya.

 

iPhone X!

iPhone X

iPhone X

Akhirnya orderan iPhone X ku sampai! Waktu pesan dibilang harus menunggu hingga enam hinggu tapi nyatanya baru dua minggu orderan sudah datang.

Aku tak sempat membuat unboxing video seperti yang sudahsudah karena aku harus memindahkan sim card dari iPhone7-ku ke iPhoneX saat itu juga.

Kok bisa? Biar penasaran nanti, semoga minggu depan aku jadi rilis vlog tentang kesan-kesanku menggunakan iPhone X dan alasan kenapa aku harus memindahkan sim card pun kubahas di sana!

Acara ?Diskusi Kebangsaan? sukses!

Jokowi 2019

Jokowi 2019

Setelah menyiapkan sejak lama, NKRI OZ Community seperti kukupas tuntas dalam tulisan sebelumnya terselenggara dengan amat baik. Dua pembicara yang hadir, Nur Arief dan Bhatara, bagai duo maut mengupas tuntas prakiraan ?cuaca? di Indonesia tahun 2019 serta prediksi presiden-wakil presiden dengan amat baik.

Lebihnya lagi, media-media Indonesia pun bergegas menayangkan liputan acara dan membuat acara yang kami adakan lokal itu teramplifikasi hingga semoga ke seluruh pelosok Tanah Air dan penjuru dunia.

Bertemu Happy!

Bertemu Happy. Aku dan Happy.

Bertemu Happy. Aku dan Happy.

Acara sukses, secara personal akupun mendapatkan ?kesuksesan? lainnya.

Adalah Happy Indriyono.
Dia cowok, meski namanya ?Happy?. Kakak kelasku beda setahun saat aku duduk di bangku SD dan SMP di Kebumen. Ia dulu kujadikan role model dalam memeluk dan berinteraksi dengan agama karena Happy kerap tugas sebagai putra altar pada misa harian maupun mingguan di Gereja Katolik Gembala Yang Baik di Kebumen.

Dari dialah akhirnya aku tertarik jadi putra altar yang bukannya tak mungkin hal itu membentuk senarai sebab hingga akhirnya memicuku mau jadi penulis renungan Kabar Baik setiap hari dalam beberapa tahun belakangan.

Selepas SMP, Happy melanjutkan studi ke Seminari Mertoyudan, sekolah romo meski akhirnya ia tak jadi pastor.

Nah, hari sabtu, saat acara diskusi kebangsaan digelar, Happy muncul bersama rombongan guru-guru kolese di Indonesia yang kami undang hadir. Rupanya ia sekarang jadi guru di SMK Kolese St Mikael Surakarta dan termasuk satu dari yang dikirim kemari untuk belajar.

Wajahnya tak berubah, tetap klasikal dan sesuai namanya, happy, bahagia!

Aku memanggil namanya saat bersalaman, ?Happy! Kebumen, kan??

Ia kaget.
Mungkin dalam hati ia berpikir bagaimana mungkin seorang Indonesia yang tinggal di Sydney tahu kota Kebumen yang ada di selatan Jawa Tengah itu? dan kenal ia pula!

?Aku adik kelasmu di SD Pius dan SMP Satu! Donny!? ujarku lagi.

Ia diam.

Mungkin kali itu ia lagi-lagi berpikir bagaimana mungkin seorang adik kelas di SD dan SMP-nya dulu sampai di Sydney? Ia lupa padaku dan hingga akhir pertemuan kami dan bahkan sekarang, ia mengaku tidak ingat siapa aku dan seperti apa tampangku dulu. Tapi tak masalah. Yang lupa kan dia, bukan aku hahaha?

Kami ngobrol banyak hal tentang Kebumen, kota yang kutinggali sejak 1984 – 1993 sebelum akhirnya pindah ke Jogja untuk studi di SMA Kolese De Britto.

Selepas acara, Happy harus kembali ke Indonesia karena keesokan paginya, Hendy Irawan, adiknya yang juga adalah adik kelasku di SD dan SMP hendak menikah.

?Pesawatku jam 10 malam. Aku harus sampai di bandara jam berapa?? tanyanya.

?Jam delapan.? jawabku.

?Dari sini naik apa baiknya sampai ke bandara??

?Ambil kereta sampai ke Central lalu ganti ke platform yang menuju bandara??

Tapi setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk mengantarkannya ke stasiun Central. Kapan lagi aku bisa ketemu dia di Sydney, kan? ?Udahlah jangan khawatir, kamu nanti kuantar sampai ke Central.?

Adapun jarak dari Ashfield ke Central tidaklah terlalu jauh mungkin sekitar 15km meski lalu-lintas macet dan tempat parkir minim karena saat itu menjelang malam minggu.

Sepanjang perjalanan kumanfaatkan untuk terus berbincang tentang masa lalu, tentang Kebumen, tentang kehidupan kami saat ini dan mungkin nanti.

Tempat parkir di sekitar Central Station tak kami temukan, aku memutuskan untuk menyusuri jalan balik menuju ke Newtown Station karena di sana tempat parkir pasti lebih lapang.

Matahari sudah condong ke barat saat akhirnya aku melepaskannya di gerbang stasiun.

Bertemu Happy yang berwajah happy!

Bertemu Happy yang berwajah happy!

?Maturnuwun!? ujarnya.
Kusalami dia, ?Aku juga maturnuwun! Aku seneng banget ketemu kamu meski kamu tetap nggak ingat denganku, Hap! Salam untuk keluargamu dan sampaikan salam bahagiaku untuk Hendy, adikmu dan istrinya!? Jabat tangan kami erat, lalu ia berlalu begitu saja?

Selamat memasuki minggu yang baru.

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXXIII

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.