Risalah Akhir Pekan XLIV/2015

31 Okt 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

blog_risalah_44

Kalau benar si Arzt, yang wakil rakyat dan mantan artis itu selingkuh di Lawang, Malang seperti yang ramai tersebar di social media, maka kesalahannya ada tiga.

Pertama, ia selingkuh.
Kedua, kalau mau selingkuh, jangan saat jam dinas dan jangan suruh ia membawa sopir serta kendaraan dinas.

Ketiga, kenapa selingkuh di hotel murah? Coba masuk ke hotel bintang lima di pusat kota besar, mana ada sweeping berani digelar di sana?

Bagiku, sudah saatnya kita tak perlu terlalu menghiraukan masalah-masalah seperti ini. Salah kalau kita menggunakannya sebagai parameter akhlak karena kalau dianggap tak berakhlak hanya karena peristiwa seperti ini,, masyarakat kita sudah sakit dari sejak dulu kala karena perselingkuhan itu sudah berumur uzur, seuzur peradaban manusia itu sendiri!

Sebenarnya ini lebih menyangkut pada kegagapan kita terhadap keterbukaan informasi di era sekarang ini. Banyak orang masih tak sadar bahwa apa yang dilakukan dirinya, terutama ketika ia adalah seorang selebritas, pada masa kini lebih cepat tersebar sebagai berita dan kita tak punya kontrol terhadap penyebarannya.

***

Keterlibatanku dalam Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta berlanjut.

Setelah minggu lalu presiden yang baru, Mas Tony Prasetiantono, dilantik, Valens Riyadi, humas paguyuban yang baru, memintaku menjadi tenaga sukarela untuk mengelola project pembuatan situs web dan database alumni yang baru.

Aku tak menolaknya dan alasannya akan kusampaikan belakangan. Malah aku sangat excited dengan pekerjaan ini mengingat tantangan yang ada.

Tantangan itu bukan berasal dari kompleksitas persoalan yang harus dihadapi dan selesaikan, bukan pula soal kelangkaan tenaga karena begitu banyak alumni yang bersedia membantu pengerjaannya.

Yang paling menantang justru sebenarnya adalah bagaimana aku harus bisa mengelola ego para alumni yang bersedia membantu tadi. Ini benar-benar nggak gampang.

Kalau dalam pola kerangka kerja profesional, tentu mudah karena dalam dunia itu, ego tak memiliki tempat dan wewenang. Tapi dalam dunia yang mengandalkan ke-sukarela-an seperti paguyuban ini, masing-masing membawa solusi yang terbungkus opini mereka masing-masing.

Menolak semua opini mereka tentu tak bijak karena selain akan memadamkan semangat dan rasa cinta mereka terhadap almamater dan paguyuban, juga akan menampakkan egoku sendiri!

Menerima semua opini jelas akan makin runyam! Jalan keluarnya?

Jalan keluarnya adalah jalani saja apa yang harus dijalani dan kerjakan. Nanti, ketika akhirnya aku berhasil, tentu akan kuceritakan. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar!

Oh ya ada yang istimewa dalam risalah kali ini.
Eh Don, kamu belum beberitahu kenapa kamu tak menolak menangani situs web alumni De Britto?

Sabar! Bentar-bentar?

Jadi yang istimewa dari risalah kali ini adalah hari sabtu ini, 31 Oktober 2015 adalah tepat tujuh tahun keberangkatanku untuk pindah ke Australia dari Indonesia.

Sore itu, Jumat, 31 Oktober 2008, diantar Mama dan almh. Mbak In (tanteku, adik Mama), aku dan Joyce pamit dan berangkat ke Sydney, Australia, menjalani hidup yang baru.

Keesokan paginya, sekitar pukul sembilan pagi waktu setempat, aku sampai di tanah ini dan memulai perantauanku hingga sekarang.

Tujuh tahun hidup di Australia benar-benar sebuah petualangan yang seru dan baru; jika dibandingkan dengan tiga puluh tahun sebelumnya aku hidup di Indonesia.

Dari semua hal yang pernah kulalui di sini, aku semakin yakin bahwa tahan banting adalah modal paling utama untuk hidup di rantau ini!

Tahan banting bukan hanya dalam hal kerja tapi juga banyak hal lain seperti kemampuan untuk beradaptasi dengan budaya baru, bergaul dan soft skills lainnya.

Orang boleh bergelar tinggi, memiliki skill kerja nan super, pengalaman yang ingar-bingar, tapi kalau soft skillsnya tak memadai, sepertinya memang agak susah untuk bertahan.

Nah, skill untuk bertahan termasuk softskills itu tak diajarkan dalam pendidikan tinggi yang kuikuti.

Hal-hal seperti itu justru kupelajari dengan sangat detail ketika aku berada di SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Pendidikan ala Jesuit yang diterapkan di De Britto yang sarat kompetisi dan berdasarkan character building menuntut kita untuk tak hanya pandai dalam hal-hal akademis, membuatku terpapar menjadi pribadi yang tangguh.

Di De Britto juga aku belajar untuk tak takut pada perbedaan. Hal itu di Australia sangat membantuku untuk tak merasa minder dengan siapapun. Kebanyakan orang-orang Indonesia merasa harus ?turun kelas? ketika berhadapan dengan bule atau suku bangsa lain. Apa yang kupelajari tentang egaliterian di De Britto sangat membantuku untuk mengatasi hal ini. Bahwa semua orang diciptakan dalam kodrat yang sama dan keunggulan adalah ketika kita bisa berkarya dan berguna bagi sesama. Jadi, untuk apa takut pada orang yang tak sejenis?

Nah, untuk semua yang telah kuterima dari SMA ku tercinta itu, kenapa aku masih harus menolak untuk membantunya melakukan hal yang tak terlampau besar, menjadi pengurus, membangun situs web alumninya?

Inilah jawabannya!

Ini saatnya untuk membalas jasa baik institusi De Britto yang telah berkontribusi sangat kuat dalam kehidupanku. Sama seperti yang disampaikan Mas Tony Pras saat pidato pelantikan minggu lalu.

Ia yang sudah super sibuk dengan berbagai kegiatan dan pekerjaannya pun menyatakan kesanggupannya untuk menjadi presiden dengan alasan yang sangat kuat. Begini kira-kira,

?De Britto adalah kreditor terbesar dalam hidup saya. Nah, sekarang adalah saatnya untuk membayar balik!?

Selamat memasuki minggu yang baru!
Bayar balik kreditor hidupmu sebagai sumbangsih kita atas jasa mereka!

Dipublikasikan pada Perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Wah apik apa yang disampaikan oleh Pak Tony ketua alumni de brito 2015 – 2018.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.