Risalah Akhir Pekan IV/2017

23 Jan 2017 | Risalah Akhir Pekan

Peranku dalam proyek besar yang kugeluti sejak pertengahan tahun lalu harus berhenti minggu depan. Bukan diberhentikan karena kesalahan tapi memang porsi kerjaku sudah selesai dan mulai minggu depan. Selanjutnya, aku hanya akan sekali sehari dalam seminggu berada di proyek ini lalu selebihnya siap untuk ditempatkan di proyek lain tergantung kebijakan perusahaan.

Terus terang ada perasaan aneh yang muncul. Rasa senang jelas ada karena aku merasa sudah terlalu lama ada di proyek yang berlarut-larut ini, tapi rasa itu berkelindan dengan galau yang timbul karena beberapa hal.

Pertama karena kedekatan antar project team member yang terjalin selama ini. Kedua karena kebebasan yang kurasakan. Jadi karena dalam proyek ini aku tak bekerja di kantor milik client, aku dan kawan-kawan dibebaskan untuk pakai pakaian bebas, jam kerja sesukanya dan itu semua menjatuhkanku pada zona nyaman sehingga ketika aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus mengakhiri proyek, aku limbung! Membayangkan setiap hari harus pakai kemeja rapi, celana rapi dan jas seperti sebelum-sebelumnya adalah hal yang ternyata tak mengenakkan pula.

Tapi tak ada alasan yang lebih signifikan (dan memprihatinkan) dibandingkan alasan ketiga. Alasan ini adalah, aku galau karena harus menghadapi kenyataan bahwa suatu waktu tak jauh dari sekarang aku akan diterjunkan ke proyek baru, team mates baru, client baru, permasalahan yang baru dan solusi yang tentu akan baru juga! Kawanku bilang itulah resiko kerja jadi consultant, harus siap dipindahkan ke sana-kemari. Tapi aku melihatnya lebih jauh dari itu. Aku tak peduli pada jabatan consultant atau bukan consultant, aku lebih peduli bahwa ketidaksigapanku dalam beradaptasi ini barangkali tanda-tanda aku telah menua dan aku benci terhadap hal ini. Bukan karena aku ingin selalu muda tapi karena pola kerja ‘kutu loncat’ adalah pilihan hidupku dimana aku tak mau terlalu lama bekerja di satu perusahaan untuk segera pindah ke perusahaan lain dengan siklus dua tahunan untuk menghindari rasa bosan dan mengejar tambahan gaji dan promosi yang lebih besar ketimbang mengharapkan promosi dan kenaikan gaji di satu perusahaan.

Aku tak mau kehilangan sikap untuk mudah beradaptasi karena kalau demikian hal ini akan berlawanan dengan pilihan yang kusebut di atas barusan. Jadi, doakanlah aku supaya aku bisa melewati masa transisi ini dengan baik.

Selamat menyambut minggu yang baru, Tuhan Yesus memberkati selalu!

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa III pada pesta nama Santo Vinsensius Palloti, Pengaku Iman, Santo Anastasius, Martir dan pada hari kematian salah satu kawan lamaku dulu, Pambudi Hermawan, juga pada hari dimana akhirnya aku tersadar bahwa mantan bos ketika aku bekerja di warnet Yapkom Jogja dulu (1999-2000), Petrus Purnomo ternyata sudah dipanggil Tuhan sejak tujuh tahun silam! Semoga jiwa-jiwa kedua orang yang kukenal itu diperkenankan Tuhan untuk masuk ke dalam Rumah Bapa yang abadi.

Pssttt… btw pelayanan musik di gereja paroki lokal makin menyenangkan hihihi…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.