Risalah Akhir Pekan VII/2015

15 Feb 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

Weight lifting alias angkat berat adalah kegiatan yang paling kusukai saat aku berolahraga di gym.

Aku tak terlalu suka dengan cardio exercise karena bagiku membosankan, melelahkan dan kurang laki!?Sebaliknya, weight lifting itu penuh tantangan; menyenangkan sekaligus menegangkan. Kita memasang target dan memilih beban yang akan kita angkat. Ketika tahu beban angkatan mendekati batas, ada rasa tegang karena kita tahu kegagalan hanya setipis rambut jaraknya dari keberhasilan mengangkatnya.

Lalu ketika kita melewati beban yang kita anggap adalah batas, kita excited karena kita tahu itu berarti beban yang akan kita angkat berikutnya lebih berat lagi. Demikian terus, berulang-ulang, terus-menerus?

Barangkali hidup pun demikian.
Untuk orang yang sangat menyukai problem solving, aku merasa ada kesamaan antara mengangkat beban di dalam gym dan memanggul persoalan untuk kemudian menemukan solusi pemecahan.

Bagiku, tiap menyelesaikan persoalan yang baru adalah sebuah kebanggaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata?

Tapi sehebat-hebatnya aku dalam memecahkan persoalan, persoalan yang kuhadapi minggu lalu sangatlah kompleks; lebih dari satu dan tiap masalah memiliki karakter berbeda serta tentu saja membutuhkan pemecahan yang beda antara satu dengan yang lainnya.

 

Mama sakit, masuk rumah sakit?

Sejak Papa meninggal 2011 silam, kondisi kesehatan Mama memang tak terlalu menyenangkan bahkan dalam beberapa bulan belakangan, kondisi fisiknya turun drastis.

Pada hari minggu lalu, hingga kini, ia harus menginap di rumah sakit bahkan pada saat ia dibawa oleh adik iparku, Mama dalam kondisi kritis yang sangat mengkhawatirkan.

Aku bingung harus bertindak apa. Inginku pulang, tapi untuk satu hal yang tak bisa kujelaskan di sini, aku tak bisa.

Sementara itu, di sisi lain, aku tak mau ?kehilangan momen? seperti waktu Papa mendadak sakit 2011 silam dimana aku pulang sampai rumah hanya selisih lima jam setelah Papa dinyatakan meninggal. (Baca serial tulisanku tentang peristiwa ini di sini)

Persoalan tak berhenti di situ.
KTP Mama ternyata hilang sejak beberapa bulan yang lalu. Karena kesibukan dan kondisi kehamilan lantas melahirkan November silam, adikku tak bisa membantu menguruskan KTP yang baru.

Lebih parah lagi, adikku belum membuatkan BPJS untuk Mama sehingga ketika masuk ke rumah sakit dan diarahkan langsung ke ICU, tak bisa terbayangkan berapa biaya yang harus ditanggung.

Hari Senin, Mama dikabarkan memburuk. Aku hanya bisa lemas tak bisa berpikir apapun padahal pekerjaanku sedang ramai-ramainya dengan soalan yang kerap kuceritakan dalam risalah-risalah sebelumnya.

Senin malam, aku pulang larut karena harus menyelesaikan pekerjaan. Di tengah jalan menuju rumah aku benar-benar limbung. Aku merasa begitu seorang diri dan lemah serta tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku merasa masalah-masalah seolah menanti di depan pintu tak sabar mengantri untuk kutemui pemecahnya satu per satu.

Bersyukur, tak lama kemudian, setelah doa malam, Joyce, istriku berujar, ?Kamu nggak usah bingung. Bersyukur kamu masih bisa dicobai sehebat ini artinya kamu bukan orang kelas kambing di mata Tuhan! Kamu berkualitas!?

Ungkapan itu mungkin sederhana, tak orisinil, tapi aku merasakan hal itu sebagai hal yang luar biasa.

Ada nada ?penyerahan yang tulus? terhadap kelemahan kita sebagai manusia tapi sekaligus sebagai pemakluman terhadap hal yang memang harus kuterima karena aku memang bukan manusia ?kelas kambing?.

Senin malam itu kurasakan sebagai titik balik. Bukan berarti hal-hal yang kuhadapi sesudahnya jadi mudah, tapi aku tahu pasti Tuhan, dengan kepasrahanku, justru memampukanku untuk ringan melangkah melewati hidup yang sedang tidak terlalu mudah.

Satu hal yang paling siginifikan dari apa yang terjadi sebelum malam itu dan sesudahnya adalah aku bisa menemukan rasa syukur; sesuatu yang memang jadi pencarianku setiap aku berada dalam lembah perjalanan hidupku.

Dan berikut hiburan-hiburan yang patut kusyukuri hadirnya minggu lalu?

 

15 Tahun Citraweb

Momen dimana aku melakukan webconference saat ulang tahun Citraweb.

Momen dimana aku melakukan webconference saat ulang tahun Citraweb.

Perusahaan yang dulu pernah kubangun bersama kawan-kawan sesama lulusan SMA De Britto, Citraweb Nusa Infomedia, berulang tahun yang ke-15!

Perusahaan yang ketika kutinggal tahun 2008 memang sudah berkembang ini kini tampak sedemikian pesat dan menggelegar eksistensinya.

Valens, pimpinan yang juga mantan kolegaku di sana mengundangku untuk mengadakan web conference saat perayaan ulang tahun perusahaan yang juga menjadi induk bagi Citranet, Citrahost, GudegNet, Jogjastreamers, Indostreamers dan Mikrotik Id itu.

Aku tak kuasa menolak karena bagiku ini nostalgia sekaligus menjadi bukti bahwa meski aku telah keluar dari sana, itu bukan berarti aku keluar juga dari lingkaran pertemanan mereka.

Karena aku dikontak beberapa menit sebelum sesi web conference, aku bisa menyaksikan jalannya acara dari balik layar monitor. Ada perasaan aneh nan unik ketika menyaksikan ulang tahun perusahaan yang telah membesarkanku sementara aku tak di situ. Terlebih dengan hadirnya MC yang adalah kawan baikku sendiri dan mantan anak buahku di Citraweb, Adhit Omphonk.

Sungguh, setelah selesai acara itu, ketika menuju ke kamar untuk beristirahat aku merasakan sebuah kehangatan, sebuah heartwarming di tengah minggu yang ?dingin?….

Mama pindah kamar, BPJS dan KTP Sementara

Meski Seninnya aku sempat pusing tujuh keliling karena keadaan Mama, kesulitan mengurus BPJS dan KTP sementara, dua hari kemudian aku mendapat kabar baik dari Chitra, adikku bahwa Mama telah keluar dari ICU dan bisa melepaskan alat bantu hidup, KTP sementara telah dibuat dan demikian pula dengan BPJS-nya!

Meski persoalannya sekarang adalah bagaimana mengubah status rawat inap Mama dari yang normal menjadi BPJS, namun setidaknya bukankah ini pertanda baik dari persoalan yang mengganjal begitu tebal sejak awal minggu?

Sumbangan

Aku juga merasa sangat bersyukur karena ada begitu banyak perhatian dari kawan-kawan baik yang berupa moril maupun materiil.

Awalnya aku menolak ketika ada seorang kawan menelponku karena hendak memberikan sumbangan uang. Alasanku simple, ini memang sesuatu yang berat tapi kami masih bisa handle.

Tak lama sesudahnya, dalam selang waktu jam, kawan lain menghubungi lewat facebook bahwa ia ingin menyumbang uang untuk biaya pengobatan Mamaku.

Aku kembali menolak tapi penolakanku sia-sia setelah ia bilang bahwa uang yang ia sumbangkan adalah uang perusahaannya yang memang dialokasikan untuk itu.

Dua hari kemudian, seorang kawan lainnya menelponku mengabarkan ingin mentransfer uang lagi-lagi untuk biaya pengobatan Mamaku.

Aku, lagi-lagi, berusaha menolak dan lagi-lagi pula penolakanku gagal setelah ia bilang, ?Ini bukan uangku saja, Don! Ada banyak orang lain yang nitip padaku jadi kalau kamu nolak kamu harus bilang ke semuanya kenapa kamu menolak!?

Gotcha!

 

Lima Tahun Odilia.

Kakak Odilia dan Elodia di depan birthday cake!

Elodia dan Kakak Odilia di depan birthday cake!

Odilia, anak pertamaku berulang tahun ke-5 Jumat lalu. Tak ada perayaan yang besar-besaran. Kami merayakan di rumah, membeli makanan lalu di makan di rumah, menyalakan lilin di atas kue ulang tahun yang sederhana lalu meniup lilin hingga padam dan berdoa dan bersyukur atas pendampingan Tuhan selama ini.

Lalu tibalah akhir pekan.
Saatnya untuk rehat sejenak meski tetap waspada atas segala hal yang mungkin bisa terjadi tak terduga.

Ibarat dalam nge-gym, aku masuk dalam masa jeda istirahat 30 – 90 seconds, mengatur nafas, memandangi dumbell demi dumbell yang harus kuangkat berikutnya sambil sesekali bolehlah selfie seperti foto di bawah ini…

Selamat berakhir pekan!

Dipublikasikan pada perayaan Hari Minggu Biasa ke VI

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.