Enam lilin di atas adalah hasil sketsaku yang tergesa-gesa kutorehkan di atas sabak digital barusan. Setergesa-gesa hidup enam terpidana mati yang jika tak ada aral melintang, tepat di pergantian hari, 18 Januari 2015, akan diakhiri di depan regu tembak di Nusakambangan dan Boyolali. Tempat yang kusebutkan terakhir, Boyolali, berjarak sekitar 26km?dari Solo, kota asal Jokowi, presiden kita yang baru yang menolak grasi (permohonan pengampunan) dari enam orang tadi.
Entahlah, mungkin aku terlalu sensitif tapi hari-hari belakangan aku beberapa kali mencoba berpikir berada di posisi mereka; mengetahui bahwa akhir hidupnya telah ditentukan dan bagaimana ketentuan itu akan dijalankan, tentu hal yang teramat sangat berat untuk dihadapi.
Mungkin ada yang langsung menyambar pendapatku di atas demikian,?Tapi kamu tak sensitif karena kamu nggak mikir akibatnya jika narkoba merajalela, ada berapa banyak generasi yang rusak karenanya?
Narkoba merajalela memang akan merusak generasi, itu hal yang tak bisa terbantahkan lagi. Tapi adakah studi ilmiah yang menunjukkan keterkaitan antara menembak mati pelaku kejahatan narkoba pada tingkat tertentu dengan penurunan tingkat penyebaran narkoba?
Pada tataran apa hal itu bisa diperhitungkan?
Tataran ?duga-menduga??
Tataran ?logikanya demikian??
Tataran ?yakin deh pasti benar!??
Apa yang akan dilakukan jika ternyata dengan kalkulasi angka statistik tak didapati korelasi antara keduanya? Akankah ada yang?mampu mengembalikan nyawa keenam orang itu?
Semoga keluarga yang ditinggalkan para terpidana diberi ketegaran dan biarlah Tuhan sendiri yang berkehendak dan meletakkan jiwa-jiwa itu dalam api lilin yang abadi di surgaNya yang tak pernah mengenal hukuman apalagi hukuman mati?
***
By the way? minggu ini berlangsung dengan menyenangkan!
Minggu ini aku merasakan hal yang kupikir sudah lumayan lama tak pernah kurasakan lagi yaitu merenungi bacaan!
Ingat tulisanku kamis lalu tentang sulitnya aku membaca buku selama liburan kemarin? Ingat pula tentang buku yang sekarang sedang kubaca? Nah di buku ?How Big is Your God? itulah aku banyak merenung dan merefleksikan beberapa bagian hidupku dengan apa yang ditulis di situ.
Saking menikmatinya permenungan-permenungan itu aku kadang merasa seolah berpetualang dalam benak membayangkan diriku datang dengan konsep tentang sesuatu yang lantas kutabrakkan dengan konsep yang ditawarkan buku lalu ?kami? berunding dan berakhir dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata kepuasannya!
Pekerjaanku minggu ini berjalan lebih cepat dari tempo minggu sebelumnya. Aku semakin menikmati posisi baruku meski ada banyak hal yang harus kuselaraskan. Beberapa gesekan dan benturan mulai dari yang super lembut, sampai yang lumayan keras kurasakan terjadi tapi aku tak mengeluh! Bagiku itu adalah sarana ampuh untuk lebih memantapkan diriku di sini. Istilah kata, orang berlatih silat, kalau belum lecet atau terkilir tentu belum ?afdol? sebagai pesilat, kan?
Odilia, anak pertamaku, sudah tak sabar untuk kembali ke sekolah. Ia masih menyisakan dua minggu libur hingga masuk tahun ajaran baru akhir bulan ini. Kasihan juga sebenarnya melihat ia selalu bertanya setiap pagi apakah aku akan mengantarnya ke sekolah pagi itu tapi selalu kujawab, ?Dua minggu lagi sayang? kamu main dulu sama dedekmu dan Mama hari ini!?
Tapi dari sisi lain, kupikir cukup membuatku berpikir dalam-dalam?juga melihat Odilia tak kerasan kalau tak ke sekolah. Padahal umurnya belum lima tahun, dan?ia sudah mulai mengenal rasa ?bosan? berkumpul dengan orang tua dan saudara perempuannya? Begitu cepatnya waktu berlalu, begitu pesatnya ia bertumbuh besar…
Sepertinya hanya itu yang bisa kuceritakan terjadi pada minggu ketiga bulan dan tahun ini.
Oh, sebentar ada yang hampir kelupaan!
Kalian ingat kan ceritaku tentang Tunggonono yang pindah ke Australia? Kalau tidak, bacalah tulisanku di sini. Nah, tempo hari ia mengirimkan kabar kepadaku. Ini ku-share screenshot smartphoneku sewaktu aku menerima text message darinya.
Hingga saat ini kami belum ada niat untuk bertemu meski jarak antara rumahku dengan Castle Hill, suburb tempat Tunggonono tinggal bersama kekasih bulenya sebenarnya tak terlalu jauh.
Semoga hal ini lebih karena kami sedang sama-sama sibuk. Aku sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, Tunggonono sibuk ?kelonan? dengan pacar barunya!
Semoga bukan karena jeda enam tahun tak pernah bertemu, enam tahun telah terisi orang-orang baru di tengah-tengah kami maka jarak yang tak sampai 20km jauhnya dari rumahku ke Castle Hill itu terasa lebih dari sekadar jarak Klaten ke Wonosobo sana!
Selamat merayakan hari minggu dan jangan lupa ke gereja!
Dipublikasikan pada?Hari Minggu Biasa II -?Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani


Tinggalkan Balasan