Risalah Akhir Pekan XXIX/2015

19 Jul 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

Dalam sejarah hidup, ini adalah foto pertamaku 'bersama' salju

Dalam sejarah hidup, ini adalah foto pertamaku ‘bersama’ salju

Geliat alam memang tak terduga meski melalui ilmu pengetahuan manusia akan terus berusaha untuk mempelajari gelagatnya.

Awal Mei lalu sempat dikabarkan bahwa musim dingin di Australia tahun ini akan lebih hangat ketimbang biasanya karena pengaruh arus hangat, El-Nino (pernah kutulis di risalah ini) Tapi nyatanya, musim dingin tahun ini bagi Sydney justru menjadi musim dingin dengan suhu terendah berturut-turut paling parah dalam dua puluh tahun terakhir!

Ini semua terjadi konon karena Antartica vortex yang berasal dari kutub selatan menyambangi Australia; sesuatu yang langka karena biasanya vortex itu akan pudar jauh sebelum menyentuh daratan Australia (Jarak antara Australia dan kutub selatan adalah sekitar 6000km).

Tak hanya suhu udara yang dingin yang dibawa Antartica vortex, beberapa tempat yang biasanya tak bersalju selama puluhan tahun pun kini ditaburi salju dengan tingkat ketebalan yang bervariasi.

Dalam perspektif keilmuan, mungkin kita bisa bilang bahwa apa yang terjadi dengan penjelasan di atas adalah bukti betapa iklim global telah berubah. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa dalam perspektif ketuhanan, bisa jadi Antartica Vortex adalah justru penyelamat karena mungkin kalau El-Nino waktu itu benar-benar menguasai Australia akan mendatangkan dampak yang tak baik.

Atau?. atau bisa jadi sebaliknya? Antartica Vortex yang datang seharusnya mendatangkan dampak yang lebih dahsyat itu ?dijegal? El-Nino! Ia ?ditugaskan? mengurangi efek buruk arus kutub selatan itu.

Tapi apapun itu, aku yakin dan percaya semua yang terjadi adalah untuk maksud-maksud yang baik. Atau setidaknya, bagiku, hal ini menimbulkan kebaikan karena bersama keluarga, aku memanfaatkan keadaan untuk berburu salju ke Katoomba, sabtu lalu!

Katoomba barangkali adalah kota terdekat dari Sydney yang kejatuhan salju beberapa hari lalu. Ia terletak di pegunungan Blue Mountains di sisi barat daya Sydney berjarak 110km dan berada 1017 meter di atas permukaan laut.

Awalnya kami cukup pesimis akan bertemu salju karena suhu siang hari kemarin menyentuh angka 10 derajat, ?Wah bakal mencair nih!? gumamku.

Tapi dugaanku salah!
Banyak areal di Katoomba yang masih tertutup salju terlebih ketika kita naik ke atas ke Blackheath dan Lithgow rasanya konon (karena aku belum pernah) seperti benar-benar di Eropa!

Wisatawan yang biasanya datang ke Katoomba karena ingin berkunjung ke Three Sister dan Scenic World (pernah kutulis di sini) kali ini justru banyak memarkirkan mobilnya di ruas-ruas jalan rumah penduduk untuk bermain salju, lempar-lemparan bola es atau membuat snowman!

Wah, girangku bukan kepalang!
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku aku bersentuhan langsung dengan salju!

Foto ini diambil menjelang tiba di Katoomba. Kalau tak salah Jumat lalu, karena salju sedemikian tingginya menutupi rel, kereta api tak ada yang dijalankan

Foto ini diambil menjelang tiba di Katoomba. Kalau tak salah Jumat lalu, karena salju sedemikian tingginya menutupi rel, kereta api tak ada yang dijalankan

Foto keluarga pertama kali dengan latar belakang salju

Foto keluarga pertama kali dengan latar belakang salju

Foto ini diambil di pekarangan rumah orang. Sesuatu hal yang sangat langka terjadi ketika pemilik rumah mengijinkan orang lain masuk ke halaman dan bermain-main dengan salju

Foto ini diambil di pekarangan rumah orang. Sesuatu hal yang sangat langka terjadi ketika pemilik rumah mengijinkan orang lain masuk ke halaman dan bermain-main dengan salju

Ini kondisi di daerah tempat tinggal di Blackheath yang posisinya sedikit lebih tinggi dari Katoomba

Ini kondisi di daerah tempat tinggal di Blackheath yang posisinya sedikit lebih tinggi dari Katoomba

Snowman! Australia tak memiliki kultur salju, oleh karena itu, snowman seperti ini bolehlah diapresiasi :)

Snowman! Australia tak memiliki kultur salju, oleh karena itu, snowman seperti ini bolehlah diapresiasi :)

Setelah capek main-main salju, makan!

Setelah capek main-main salju, makan!

* * *

Eh btw, Selamat Idul Fitri dulu, Bos!?Gimana sungkemannya? Udah kenyang ketupat dan opor ayamnya?

Bagiku, setiap pejuang memang layak merayakan kemenangan pada hari yang telah ditentukan. Dan kalian semua tanpa terkecuali yang mengimani dan berpuasa di Ramadhan, adalah para pejuang itu. Rayakanlah kemenanganmu di hari yang fitri!

Aku sendiri punya banyak kenangan tentang Lebaran, sebagian penggalannya kutulis-rangkai rapi di tulisan lama ini.

Kenanganku banyak karena memang boleh dibilang tiga per empat keluarga asalku adalah muslim. Keluarga dari garis Papa hampir semuanya muslim. Bahkan hingga tiga bulan sebelum wafat, Papa adalah seorang muslim sebelum akhirnya dengan sukarela pindah keyakinan ke Katholik. (Baca tentang bagaimana ia convert keyakinan di tulisan ini)

Nenek buyutku dari garis keturunan Mama serta adik-adik dan kakak-kakak Eyang putriku adalah juga muslim, meski kabarnya ada beberapa juga yang pindah keyakinan ke kristiani pada akhirnya.

Lahir dalam keluarga campuran seperti itu membuatku bersyukur. Pertama, aku mengenal setidaknya dua budaya yang berbeda dan keduanya mau-tak-mau tumbuh di dalam darahku.

Kedua, oleh orang tuaku, aku diajar untuk bebas memilih hal yang paling mendasar, iman.

Ketiga, sebagai tanggapan atas kebebasan yang diberikan itu, aku lantas memutuskan untuk tetap memilih Katolik. Keputusanku itu dihormati seluruh keluarga besar dan ini menjadi modal yang bagus dalam bermasyarakat untuk berlatih menerima perbedaan, untuk berlatih lapang dada dan menerima keputusan orang lain dan yang paling penting, berlatih untuk berterima kasih ketika ada orang lain menghormati keputusan kita. Indah. kan?

Jadi, kawan-kawan yang merayakan Idul Fitri di Indonesia, selamat menuntaskan liburan. Kalau balik dari mudik hati-hati ya, sekembalinya ke tempat kerja, bersemangatlah demi Lebaran tahun berikutnya!

Bagi kawan-kawan yang merayakan Idul Fitri di Australia, aku turut mendoakan semoga pemerintah segera bisa menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional seperti layaknya Natal dan Paskah yang kurayakan.

* * *

Akhirnya aku punya waktu untuk bertemu dengan bos baruku. Dalam meeting ber-format one – to – one itu aku menyampaikan apa yang jadi kendala bagi timku dan apa pula yang jadi poin unggul yang bisa lebih diimprove lagi.

Beberapa poin dicatat olehnya dan dijanjikan untuk ditindaklanjuti. Ya aku angguki saja dan lihat bagaimana jadinya.

Satu hal yang pasti, pengalaman mengajarkan untuk tak pernah berharap terlalu banyak pada manusia. Bukannya aku tak percaya pada janjinya, tapi lebih pada bagaimana mempersiapkan diri ketika dinamika hidup bergerak ke arah lain yang bahkan tidak kita kehendaki sama sekali.

* * *

Aku juga mulai mengerjakan proyek ?pro bono? ku, membangun situs web untuk almamater TK Maria Assumpta, Klaten.

Ceritanya sebenarnya panjang, tapi akan kurangkai kepanjangannya dalam satu tulisan sendiri ketika proyek ini jadi. Oh ya, taman kanak-kanak ini adalah juga almamater almarhum kawan dekatku, Iwan Santoso yang meninggal bulan Mei 2015 silam.

Doakan saja semuanya lancar dan lebih daripada itu, doakan semoga semangatku terus ada untuk menyelesaikannya hingga paripurna.

* * *

Berita membahagiakan lainnya datang pada produksi kaos Donnyverdian.Net. Meski ada kendala teknis, tapi akhirnya Ronny berhasil menyelesaikan seluruh order dan mengirimkan ke para pembeli kaos.

Adalah Bung Rane Hafied, blogger (atau mantan blogger?) yang pernah lama tinggal di manca dan akhirnya kembali ke Indonesia itu adalah yang pertama kali mengenakan kaos DonnyVerdian.Net lalu selfie dan mengirimkannya kepadaku.

Lalu Bung Adi Susanto yang mengirimkan foto dirinya sedang mengenakan kaosku dan yang terakhir Wassy, yang mengenakan kaosku ketika sedang mudik ke Jogja dari Jakarta.

Bang Rane!

Bang Rane!

Bos Adi Susanto!

Bos Adi Susanto!

Wassy setibanya di Jogja

Wassy setibanya di Jogja

Entahlah, meski hal ini tidak memantik emosiku, tapi aku merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman unik, menggelitik tapi menarik ini!

Hal menarik pertama tentu adalah karena ketika orang membeli sesuatu itu berarti ia mengorbankan uang yang didapatnya dengan tidak mudah. Lalu, apa yang mentrigger mereka untuk tetap membeli kaosku?

Adalah menarik membaca penjelasan Bung Adi Susanto yang sempat kutanya lewat messenger, ?Kenapa sih kamu mau beli kaosku??

“Bloggermu itu menarik, menggelitik dan peka terhadap lingkungan saya sangat apresiasi itu.?Transparan dan tidak hiperbola tidak seperti blogger-blogger pada umumnya yang cenderung bull shit!!!”?demikian jawabnya.

See?!!?
Ini bukan perkara logo, desain atau mutu kaos meski kenarsisan mungkin memang ada dalam karakterku. Ini perkara penerimaan terhadap brand, donnyverdian.net itu sendiri. Tentang bagaimana orang melihat nilai intrinsik dari kaos yang mereka beli; jauh melebihi hal-hal remeh-temeh semisal mutu kaos, desain kaos dan hal-hal ekstrinsik lainnya meski tak semua yang ekstrinsik itu remeh-temeh.

Jadi gimana? Kalian udah beli? Belum? Kemari, ke link ini untuk memesannya!

Selamat memasuki minggu yang baru

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XVI,
pada pesta nama Santo Arsenius Agung, Pertapa dan Santa Aurea, martir

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Posting Om Donny memang selalu menggelitik hati.

    Baiknya memang blog ini dibukukan suatu saat nanti.

    Dan kaosnya itu lho.. Logonya asik

    Balas
  2. Indahnya perbedaan karena para pihak menerimanya dengan legowo dan saling menghormati.
    Selamat idul fitri 1436 H.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.