Risalah Akhir Pekan XXV/2015

21 Jun 2015 | Cetusan, Risalah Akhir Pekan

Risalah akhir pekan kali ini kumulai dengan apa yang kuanggap sedang menjadi opini publik nan menarik: pindah agama.

Dimulai dari soal Selvi Ananda Putri, menantu Jokowi yang kabarnya adalah seorang mualaf. Sebenarnya tak ada yang menarik, perkara orang berpindah agama terjadi dimanapun dan itu lumrah tapi yang lantas menggelitik bagiku adalah komentar kawan-kawan kristiani yang seolah ?merelakan? Selvi untuk pindah agama (kalau memang benar demikian). Padahal, setahuku, dalam perkara-perkara pindah agama (dari kristen ke ‘sesuatu yang lain’)?sebelumnya?terutama karena alasan pernikahan, tak jarang orang-orang itu begitu menentang mati-matian. Apakah ini karena kebetulan mertuanya adalah Jokowi, presiden yang katanya merakyat itu? Entahlah?

Bola bergulir, kali ini ke arah Lukman Sardi, seorang aktor yang belum lama memerankan sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah (2010) yang ternyata mengaku telah memeluk Kristen sejak enam tahun silam. Simak video yang sedang marak edarannya ini.

https://www.youtube.com/watch?v=CeXnMqvyu1Y

Tapi tak ada yang lebih unik dari Suster Gabriella Suyatni OP atau yang akrab dipanggil Suster Gaby. Ia adalah Kepala Sekolah SMK Yos Sudarso Majenang, Jawa Tengah.

Dalam link ini, menurut pengakuannya, dari 241 orang, hanya 16 yang beragama Katholik dan sisanya muslim.

Mungkin banyak yang takjub dengan banyaknya murid muslim di sekolahnya, tapi bagiku ini sebenarnya tak menakjubkan karena justru yang membuatku agak tercengang adalah ?Wow, hari gini SMK Katolik di kota kecil masih dihuni 241 murid itu adalah sesuatu yang luar biasa!? mengingat makin banyak sekolah Katholik yang tak dilirik pelajar kecuali yang benar-benar mengemuka dan unik seperti almamaterku, SMA Kolese De Britto misalnya hehehe?

Eh tapi itu bukan yang paling bikin tercengang. Dalam interviewnya dengan Paul C. Pati dari Pen@ Indonesia, Suster Gaby berkata demikian,

?Saya bantu kamu, tapi kamu tidak boleh Katolik.
Begitu kamu Katolik, saya dikira mengkatolikkan dan cinta kasih kami terhambat.
Maka silahkan sholat lebih rajin, dan jangan menjadi Katolik.?

Ada sih teman lain yang berkomentar, ?Suster hebat!? karena ia tampak begitu plural dan menjunjung perbedaan bukan sebagai penghalang.

Baik? Mungkin iya.
Benar? Nanti dulu?

Bagiku, Suster Gaby harus berhati-hati karena di negara yang berlandaskan Pancasila, seorang warga negara dijamin untuk bebas memilih agamanya. Nah, dalam interview tersebut, kenapa ia men-tidakboleh-kan seseorang untuk menjadi Katolik? Apakah kuasanya?

Terlebih, kalau alasannya adalah cinta kasih terhambat? Kenapa ia mengkhawatirkan kekuatan cinta kasih yang kuyakin bersumber dari Allah sendiri?

* * *

Ada kejutan dalam dunia kerjaku minggu kemarin, seorang kawan bahkan melukiskannya sebagai bombshell.

Seorang kawan kerja yang setiap hari begitu bersemangat dan menyemangatiku tiba-tiba memutuskan untuk mengundurkan diri karena akan kembali ke London setelah delapan tahun tinggal di sini.

?Anak-anakku masih kecil sedangkan orang tuaku sudah tua. Aku ingin mendekatkan diri mereka ke orangtuaku selama mungkin??

Rasanya seperti menimang-nimang balon berisi penuh air lalu tiba-tiba ?plasssshhhhh? balon pecah, air tumpah padahal aku tak siap untuk basah! Aku kehilangan…

Tapi syukurlah aku sudah cukup belajar banyak dari hal-hal seperti itu. Tinggal pergi ke gym dan mengambil session lebih lama dari biasanya untuk angkat beban, sepulang dari sana aku sudah siap dengan rencana baru untuk kujalankan selepas dia pergi beberapa minggu lagi.

* * *

Kabar baik kuterima dari Klaten.
Selain kondisi Mama yang terus membaik (simak tulisanku di sini) , rumah tempat tinggal Mama, Eyang dan keluarga adikku, Chitra, telah selesai direnovasi dan kini mereka menempatinya lagi.

kiri, waktu rumah direnovasi Maret silam, kanan, hasil akhir setelah renovasi, Juni 2015

kiri, waktu rumah direnovasi Maret silam, kanan, hasil akhir setelah renovasi, Juni 2015

 

Life?s good!

Selamat memasuki minggu yang baru, minggu yang berada tepat di tengah-tengah tahun 2015 ini. Syukurilah, jalanilah!

Eh btw, ada yang mau membelikan saya domain keren, dv.com??Domain name ini dilelang dan harganya barusan sudah menyentuh angka lebih dari 6 juta dollar atau sekitar 60 milyar rupiah???!!!

blog_risalah_25_02

Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XII,
pada pesta nama Santo Aloysius Gonzaga, Biarawan dan Pengaku Iman.

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. “Bagiku, Suster Gaby harus berhati-hati karena di negara yang berlandaskan Pancasila, seorang warga negara dijamin untuk bebas memilih agamanya….Terlebih, kalau alasannya adalah cinta kasih terhambat? Kenapa ia mengkhawatirkan kekuatan cinta kasih yang kuyakin bersumber dari Allah sendiri?”

    Justru karena Suster Gaby sadar bahwa ini negara Indonesia, makanya ia berhati-hati…dia takut cinta kasih sekolahnya bisa terhambat oleh ormas-ormas keagamaan tertentu. Akhirnya yang rugi ya 241 murid itu juga…

    Balas
    • Beda antara ‘hati-hati’ dan ‘takut’ itu tipis, Bos :)

      Balas
  2. Selamat menjalani kehidupan masing-masing.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.